26 Oktober 2009

Raja dan Pengemis

Raja berkata pada dua orang pengemis: “Coba kalian pikirkan, seorang setiap harinya harus memberi, satunya setiap hari harus mendapatkannya. Jika boleh memilih, yang mana yang akan kalian kerjakan?”

Orang yang pandai bicara berebut berkata, “Tentu saja sebagai orang yang bisa mendapatkan.” Raja tersenyum-senyum. Kemudian ia berkata pada pengemis yang satunya: “Kamu?” Dengan hormat dan rendah hati orang itu menjawab, “Jika bisa, saya bersedia sebagai orang yang memberi.”

“Baiklah.” Raja tertawa riang, “Sekarang saya penuhi permintaan kalian.”

Raja membiarkan orang yang ingin mendapatkan meneruskan pekerjaannya sebagai pengemis, sebab hanya pengemis baru bisa mengharapkan pendapatan dari orang lain setiap hari. Sedang yang satunya mendapatkan hadiah dari raja, menjadi orang yang kaya, hanya dengan demikian ia baru bisa memberikan yang dimilikinya pada orang lain setiap hari.

Inspirasi dari fabel ini terletak pada diri kita, di mana timbul keegoisan dan keserakahan atau dalam hidup kita yang hanya ingin mendapatkan agar diri sendiri menjadi kaya menikmati kemewahan hidup. Atau timbul niat baik dan kasih sayang berusaha memberikan perhatian dan bantuan pada orang lain, sehingga dengan demikian mungkin bisa sering dirugikan, tapi mempunyai perasaan senang dapat menolong orang yang susah.

Namun, dalam pandangan para dewa, hal ini logikanya malah terbalik: Seseorang yang berniat baik, mengeluarkan berarti mendapatkan De, dewa akan menganugerahinya balasan yang berharga, sehingga ia menjadi orang yang benar-benar kaya. Sedangkan terhadap orang yang berhasrat egois, dewa juga akan memenuhi keinginannya, yang didapat dari serakah adalah kehilangan, dan menjadi pengemis yang sebenarnya.

Sumber: Tabloid Erabaru, No. 20 Tahun Ke-1

09 Oktober 2009

Sang Raja dan Burung Kecil

Ada sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa orang dewasa sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat seekor burung kecil terbang rendah sekali, sebentar jatuh dan terbang lagi, tetapi sama sekali tidak berhasil, tampak menderita sekali.


Di belakang burung kecil itu, ada sekelompok anak sedang mengejarnya dengan riang gembira, sementara para orang dewasa hanya tertawa terbahak-bahak dianggapnya itu mainan yang lucu. Nah, pada saat itulah muncul orang tua yang berpakai baju putih mendekati dan menghalangi anak-anak yang mengejarnya, dan berjongkok mengambil burung kecil itu pelan-pelan dengan kedua tangan.


Oh! Sayap burung itu ternyata diikat dengan tali dan di ujung tali terikat satu biji batu, pantas burung itu tidak dapat terbang! Orang berbaju putih itu merasa kasihan pada burung kecil itu. “Burung itu punya kami, pulangkan kepada kami,” kata anak-anak itu dengan nada kurang sopan. Tapi, orang berbaju putih itu berujar, “Aku akan membeli burung ini, berapa harganya?” Mendengar uang, anak-anak itu sangat gembira dan menjualnya kepada orang itu. Orang berbaju putih tersebut dengan penuh belas kasih membuka talinya dan melepaskannya, burung itu terbang berputar-putar di atas kepalanya dengan riang seolah ingin mengucapkan terima kasih.


Selanjutnya, orang berbaju putih ini mengelus kepala anak-anak itu: “Lihatlah anak-anak, burung kecil itu terbang bebas dan bernyanyi gembira, ini indah sekali bukan? Setiap jiwa pun mempunyai harga dan hak untuk hidup, ini adalah jiwa yang indah di dalam langit bumi.” Anak-anak itu hanya menundukkan kepala, dan orang-orang dewasa yang di samping itu juga merasa malu. Orang berbaju putih sekali lagi mengelus kepala setiap anak, lalu pergi. Mereka melihat bayang-bayang di belakangnya, terdapat kelapangan dada yang luar biasa, dengan kelembutannya bertutur. Tiba-tiba seorang anak berujar, ”Aku ingat! Beliau adalah sang raja kami.”


Saat itu adalah zaman kerajaan di mana rajanya seorang penganut agama Buddha yang taat, rakyatnya disayang seperti anaknya sendiri, sering memakai berbaju putih, masuk ke perkampungan penduduk untuk memahami keadaan rakyat, dan sering menolong orang yang susah. Sebagai sesama, kita berusaha memahami jiwa yang indah, dan juga harus selalu bermurah hati kepada orang yang membutuhkan pertolongan, serta memupuk kasih sayang kepada semua jiwa.

Sumber: Mingxin.net

23 September 2009

Dihina Tetap Tertawa

Saya pernah membaca sebuah artikel di internet: Ada seorang guru mengajak sekelompok muridnya menumpang bis umum untuk meninjau kehidupan di luar sekolah. Setelah semua muridnya mendapatkan tempat duduk, guru tersebut sudah tidak mendapatkan tempat duduk lagi, maka dia terpaksa berdiri.

Sesampai di pemberhentian berikutnya, ada sekelompok orang yang menaiki bis, diantara penumpang itu ada seorang nenek tua, yang berambut putih wajahnya keriput, seperti orang yang sudah mengalami banyak pahit getir kehidupan, kebetulan dia berdiri di samping guru itu.

Melihat keadaan nenek itu, hati iba guru tersebut muncul begitu saja, dia menyorotkan pandangannya ke tempat duduk khusus. Seorang gadis muda duduk dengan menundukkan kepala sambil memutar-mutar tali tas bawaannya, berpura-pura seperti tidak melihat apa-apa.

Dengan kondisi seperti itu, guru tersebut berpikir untuk menggunakan kesempatan itu untuk mendidik, karenanya dia membuka suara bertanya pada anak didiknya, "Anak-anak sekalian, tempat duduk khusus itu disediakan untuk siapa?" Anak-anak kecil itu menjawab dengan polos, "Tempat duduk khusus itu disediakan untuk orang tua atau orang cacat!" Sambil bertanya guru itu menengok ke arah gadis muda itu untuk melihat reaksinya, dia menemukan bahwa gadis itu bagai tidak mendengar sama sekali, terus memutar-mutar tali tasnya dengan lebih kuat.

Melewati satu pemberhentian lagi, gadis muda itu turun dari bis, setelah turun dari bis guru itu melihat gadis muda itu berjalan dengan terpincang-pincang, kaki kanannya harus membentuk setengah lingkaran baru bisa digerakkan untuk melangkah maju.

Pada saat itu guru itu baru menyadari bahwa gadis muda itu adalah seorang cacat, segera dalam hati guru itu merasakan penyesalan dan sangat malu, dia sangat penasaran sekali ingin turun dari bis untuk menyatakan permintaan maafnya kepada gadis itu, tetapi bis sudah berjalan meninggalkan halte itu. Hati guru itu rasanya seperti disayat, dia berpikir, "Saya tadi sudah melukainya sangat berat!"

Artikel tersebut telah membicarakan sebuah topik yang sangat penting, yaitu ketika kita menuduh orang lain, sebenarnya itu bukanlah berdasar pada kelakuan orang yang dituduh, tetapi atas dasar perkiraan pikiran kita terhadap sikap orang lain yang kita analisa dan simpulkan sendiri. Para psikolog mengategorikan penyebab manusia menyimpulkan orang lain dari sikapnya itu sebagai semacam "kembali pada sebab".

Makna dari "kembali pada sebab" ini, pada umumnya diartikan menghubungkan segala kesalahan dengan sebab permasalahan. Ketika seseorang menemui suatu masalah yang besar, seringkali bisa mendorongnya untuk menyimpulkan sebab dari permasalahan itu.

Guru tersebut telah mengambil kesimpulan sendiri: Gadis muda yang menduduki tempat duduk khusus dan tidak mau mengalah itu, tidak mengerti tata karma, dan sopan santun, maka dari itu ia lalu mempunyai pikiran mengambil kesempatan ini untuk mendidik murid-muridnya.

Sebenarnya bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyimpulkan secara tepat penyebab perilaku orang lain, karena latar belakang kehidupan dari setiap orang itu tidak sama, karena itu siapa pun akan sangat sulit untuk bisa benar-benar memahami orang lain.

Oleh karenanya, di dalam sejarah Tiongkok kemudian timbul suatu kiasan atau ungkapan yang mengatakan sahabat intim seperti Bo Ya dan Zi Qi sangat sulit dicari. Misalnya dalam cerita di atas, karena guru itu sendiri bukan seorang yang cacat, di dalam benak pikirannya sangat sulit memahami tentang konsep orang cacat ataupun perasaan mereka.

Selama dua puluh tahun lebih sebagai seorang pendidik orang cacat, pekerjaan pertama saya sebagai guru pengajar sekaligus sebagai ketua penelitian di SLB, saya juga pernah ke pelosok negeri untuk meneliti pendidikan para tuna rungu. Tetapi sejauh itu, baik dalam pekerjaan maupun penelitian ilmiah yang pernah saya lakukan, saya sama sekali tidak pernah bisa menghayati berbagai macam perasaan yang ada pada diri saya sendiri sampai akhirnya menjadi tuna rungu.

Penderitaan dan kesedihan dari seorang tuna rungu, sungguh sangat sulit untuk diuraikan dengan satu dua patah kata, tetapi sama sekali tidak pernah muncul dalam literatur mana pun. Mengambil beberapa contoh: Sebelum kehilangan pendengaran, malam ketika mau tidur setelah lampu dipadamkan, masih bisa bercengkrama dengan asyik; Setelah kehilangan pendengaran, hanya bisa diam seribu bahasa bertanya kepada yang Kuasa.

Ketika masih sebagai seorang guru pengajar tuna rungu, pernah ada seorang murid yang membawa secarik kertas minta saya membantu dia untuk menelepon, ketika itu dalam hati saya berpikir : Untuk apa? Telepon saja juga harus minta bantuan guru?! Setelah jadi seorang tuna rungu saya baru tahu, karena seorang tuna rungu tidak bisa menelepon, oleh sebab itu teman-teman lama saya satu per satu mulai jauh dari saya, hingga sekarang saya sudah sepenuhnya menjadi manusia yang sama sekali terisolir dari masyarakat.

Pada awalnya sekolah khusus mengajarkan bahasa isyarat sebagai pelajaran utama, orang awam umumnya tidak mengerti bahasa isyarat, seorang tuna rungu hanya bisa berkomunikasi dengan sesama tuna rungu, maka pada saat itu saya berusaha keras di dalam sekolah untuk menjalankan pelatihan komunikasi dengan menggunakan bahasa tulisan.

Setelah saya sendiri kehilangan pendengaran, saya baru tahu : Saya telah berobat ke puluhan dokter ahli, namun jarang sekali ada dokter yang mau menggunakan cara menulis untuk memberitahukan keadaan penyakit saya.

Untuk bisa memahami orang lain adalah hal yang sangat sulit, karena di dalam memahami dunia ataupun diri seseorang kita selalu berlandaskan pada latar belakang kehidupan kita sendiri. Untuk satu hal yang sama, karena latar belakang kehidupan dari setiap orang tidak sama, kesadaran masing-masing orang juga sangat berbeda.

Laozi berkata, "Orang bijak mendengar Tao (= jalan kebenaran), dengan rajin akan dilaksanakan; Orang kebanyakan mendengar Tao, seolah-olah berlatih seolah-olah tidak; Orang bodoh mendengar Tao, akan menertawakan dengan keras, jika tidak ditertawakan bukan merupakan Tao." Perkataan ini merupakan anotase yang paling bagus.

Dalam sekolah taman kanak-kanak, guru menuliskan tanda "+" dipapan tulis, bertanya kepada anak-anak sekolah Mandarin apakah itu? Jawabannya tentunya adalah 10. Jika bertanya kepada anak SD kelas satu atau kelas dua, mereka bisa menjawab tanda tambah. Jika tanya kepada pengikut Kristen jawabannya adalah salib.

Jika bertanya pada sopir, jawabannya pasti persimpangan jalan. Tanya kepada donatur, dia pasti menganggap itu adalah tanpa palang merah. Sebuah tanda "+" yang sama, bisa mempunyai keterangan yang beraneka ragam.

Kecuali sebab ini, semangat dan keinginan yang berbeda terhadap perasaan dan penjabaran benda, juga bisa mempunyai pengertian yang berbeda. Sisa tentara yang baru kalah dari medan perang tentunya bisa mempunyai perasaan panik, rumput dan pohon semuanya nampak seperti tentara musuh.

Manusia yang berhati kotor, tentunya bisa menghidupkan suara dan bayangan, suara tiupan angin dan gerak-an dahan pohon akan dia rasakan bagai tangisan setan dan lolongan serigala.

Situasi yang berbeda, keterangan yang diberikan mungkin bisa berlainan juga. Seorang ayah bertanya kepada bapaknya, "Ayah, menikah itu memerlukan berapa banyak uang?" Anaknya ingin menikah, sedang memperhitungkan biaya perkawinan. Ayahnya menjawab, "Sulit dikatakan, karena hingga saat sekarang ini ayah masih harus membayar akibatnya."

Kebiasaan berpikir juga bisa memilin perasaan, menyebabkan penafsiran yang salah :

Ada dua orang teman saling bercerita tentang keadaan masing-masing...

Si A: "Demi menyenangkan hati isterinya, dia mulai berhenti merokok, minum- minuman keras, juga sudah tidak pergi berjudi lagi."

Si B berkata, "Kalau begitu isteri Anda pasti senang bukan main."

Si A menjawab, "Tidak juga! Dia merasakan sangat jemu, karena dia kehabisan bahan untuk mengomel."

Isteri ini memupuk semacam kebiasaan mencari kesalahan orang lain, dia tidak melihat bahwa suaminya sudah menghentikan banyak kebiasaan buruknya, tidak bisa mengagumi kelebihan dari Mr. Right ini, sebaliknya dia merasakan kejemuan karena "tidak ada kesalahan lagi yang bisa dia cari!"

Dahulu ada seorang pejabat, sangat arogan sekali, sering kali mencari kesalahan bawahannya. Suatu hari, pembantunya menyajikan semangkuk sup sirip ikan yang berkualitas sangat tinggi, pejabat itu melahapnya dengan sangat nikmat sekali, sambil melahap sambil berkata, "Hem, sungguh luar biasa enaknya!"

Ketika itu, setiap bawahannya mengira pejabat itu akan memberi hadiah kepada pembantunya itu, tidak disangka di luar dugaan dia malah menghardik pembantunya itu, "Kurang ajar! Makanan yang begitu enaknya, mengapa hingga sekarang baru Anda sajikan, apakah kamu ingin saya pecat!"

Masih ada, prasangka seseorang terhadap sesuatu juga bisa mempengaruhi penjelasannya terhadap benda atau masalah itu. Misalnya, murid menggunakan buku menutupi diri yang merebahkan kepala untuk tidur di atas meja. Jika murid tersebut tingkah lakunya kurang baik, guru bisa menerangkan kelakuan tersebut sebagai: "Kelihatan buku langsung mengantuk dan tidur! Sungguh seperti kayu rapuh tidak bisa diukir". Jikalau yang tidur itu adalah murid yang berkelakuan sangat baik, guru tersebut akan bisa beranggapan: "Ketika tidur pun masih membaca buku, ia akan mempunyai masa depan yang tidak terbatas!"

Berbagai faktor yang diceritakan di atas menjelaskan: Diantara manusia dan manusia sangat sulit sekali untuk bisa saling memahami, maka atas perilaku setelah balik ke sebab, segala dakwaan yang dilakukan acapkali bisa berubah rupa hingga tidak bisa dikenal lagi.

Sebaliknya, orang yang dituding, yang dikritik itu, ketika menghadapi kritikan orang yang tidak mengerti fakta yang sebenarnya, asalkan mau menelaah ke dalam diri sendiri, tidak merasa malu, mengapa harus mengganjal dalam hati, mencari kerisauan sendiri? Setelah mengerti dengan prinsip ini, "Dihina tetap tertawa sampai ludah di wajah pun mengering dengan sendirinya", maka ini bukan lagi suatu cara pengasuhan diri yang sulit untuk dicapai.

Sumber: www.epochtimes.co.id

04 September 2009

Buku yang Menggetarkan Hati, Langit dan Bumi

Satu-satunya buku di dunia ini yang dapat menggetarkan hati, langit dan bumi hanyalah “Zhuan Falun”. Bagi saya itu adalah suatu kebenaran. Saya dulunya termasuk seorang yang mempunyai hati yang keras, disiplin dan kurang sabar dalam bertoleransi dengan orang lain yang menurut saya kurang pantas diberi hati, karena saking ekstrimnya mungkin jadi sedikit aneh dimata orang lain. Sampai sampai orang tua saya agak kewalahan dalam memahami cara berpikir saya. Meskipun mereka tahu banyak sisi-sisi baik saya yang tidak terdapat pada kebanyakan orang lain, namun kenyataannya itu semua tidak bisa menutupi rasa kekhawatiran mereka terhadap prinsip saya. Saya termasuk tipe yang berpegang teguh pada janji sampai kadang menomor duakan urusan keluarga dan pribadi., selalu berpikir untuk selalu menolong orang lain sampai-sampai diri saya sendiri tidak saya pikirkan, dan selalu menuntut keadilan meski harus bertaruh nyawa sekalipun untuk itu. Ini semua mungkin bebarapa contoh sifat ektrim saya.

Ibu saya dari dulu selalu berharap ada yang bisa membukakan hati saya sehingga saya bisa sedikit lunak dalam menyikapi segala sesuatu dan mau sedikit toleran serta sabar kepada orang lain. Selama ini saya selalu berkutat dengan obsesi saya untuk membuat kehidupan ini sesuai dengan aturan yang benar, bahkan kadang-kadang saya seperti hakim galak dan kejam jika menemukan seseorang bersikap sembarangan dan “semau gue”.

Sejak saya membaca buku Zhuan Falun entah kenapa saya nyaris berubah total dalam memahami kebaikan dan kebenaran selama ini. Dari buku itu saya jadi tahu bahwa apa yang menurut saya benar belum tentu baik, dan apa yang menurut saya baik belum tentu benar. Semua harus punya nilai ukur dalam kebenaran yang sejati, bukan kebenaran yang dibuat benar dengan tolok ukur manusia. Saya bahkan jauh lebih bisa toleran dan sabar dalam mengahadapi perilaku manusia yang kebanyakan sudah menyimpang ini, juga saya menjadi paham tentang arti keikhlasan yang sesungguhnya. Sekarang kehidupan saya terasa lebih indah dan ringan dalam menapaki perjalanan hidup ini.

Sejak saya mengenal buku Zhuan Falun ibu saya pun juga heran dengan perubahan atas sikap dan perilaku yang terjadi pada diri saya. Meski beliau tidak tahu apa yang bisa merubah kepribadian saya secara fundamental tersebut, beliau merasa sangat bersyukur karena telah ada yang membukakan hati saya, begitu kata yang selalu beliau ucapkan..

Setelah saya mengetahui prinsip-prinsip kehidupan dalam buku Zhuan Falun, sayapun sangat antusias menyampaikan kebaikan dari buku tersebut kepada teman-teman saya. Sebagian besar merasakan pula perubahan yang mengarah ke kebaikan. Ada yang menceritakan bahwa dia bahkan menjadi tidak bisa marah lagi sejak baca buku itu, meskipun saya tahu betul bahwa sebelumnya dia adalah tipe orang yang gampang marah dan memaki orang. Ada juga yang biasanya hidup amburadul menjadi orang yang disiplin dan baik kepada orang lain. Bahkan ada yang mendapat kesembuhan dari penyakit menahunnya hanya dengan mambaca buku tersebut. Benar-benar Zhuan Falun adalah sebuah buku yang bisa menggetarkan hati bagi orang yang membacanya, menggetarkan hati manusia menuju ke kebaikan.

Namun begitu ada juga teman saya yang begitu membaca buku Zhuan Falun ini menjadi begitu membecinya, bahkan mencaci dan menghinanya. Saya pun dikatakan sebagai orang yang tidak punya prinsip dan orang yang paling goblok di dunia karena begitu mudahnya saya berubah kepribadian seperti menjadi orang lain dan bukan diri saya yang dulu. Setiap saya telpon dan ketemu hanya lontaran kebencian dan makian yang saya dengar dari mulutnya. Saya hanya dapat mengingatkan padanya. Bukankah saya telah menjadi orang yang sangat baik sekarang? Bahkan untuk menggunjing atau berkata yang tidak bagus pun saya harus berpikir ribuan kali agar tidak sampai saya lakukan, bukankah itu bagus?. Lalu kenapa Anda seperti orang kesetanan begitu mati-matian membencinya? Pernahkah Buku Zhuan Falun ini merugikan atau mengambil keuntungan dari milik Anda? Pernahkan buku ini membenci, menghina ataupun memfitnah orang lain? Lantas kenapa Anda begitu dendamnya seolah-olah pernah ada sangkut paut apa dengan Anda? Semua ini adalah beberapa kalimat yang sempat saya sampaikan kepadanya untuk menjernihkan pikirannya.

Li Hongzhi, penulis buku ini juga pernah mengatakan bahwa siapapun yang membaca buku ini pasti akan tergetar hatinya, baik yang setuju atau yang menentang, maupun yang jahat ataupun yang baik, setiap kebaikan diajarkan pasti akan ditentang oleh yang sesat. Saya jadi berpikir mungkin inilah yang menjadi penyebab mengapa praktisi Falun Gong di China dianiaya oleh pemerintahnya sendiri. Seperti diketahui Falun Gong adalah berasal dari China, tapi kenapa pemerintahnya malah menganiaya rakyatnya sendiri? Ratusan juta rakyatnya dilarang membaca buku Zhuan Falun. Mereka ditangkap dan dipenjara serta diambil organnya hidup-hidup kemudian organ tersebut dijual ke semua Negara yang membutuhkannya. Lantas siapa yang pantas disebut jahat ? Kalau rakyat manjadi baik bukankah saharusnya merasa bersyukur? Tidak ada lagi yang korupsi, tidak ada lagi yang mau berbuat kejahatan, semua orang memperlakukan orang lain dengan baik tidak sewenang-wenang, semua mendapat manfaat peningkatan kwalitas kesehatannya, semua masyarakat kembali mempunyai standar moral yang tinggi, bukankah semua ini bagus?

Sejak Nabi Adam berada di dunia ini, ataupun dalam seluruh sejarah kehidupan manusia, selalu saja kebaikan dimusuhi oleh kejahatan, tapi selalu saja kebaikan membawa kemenangan, inilah yang saya maksud dengan Zhuan Falun menggetarkan langit dan bumi.

Sumber: www.erabaru.net

26 Juli 2009

Duka Si Burung Merak

Suatu ketika di saat sedang bekerja, mendadak seorang teman berkata dengan misterius: “Bagaimana kalau kita lakukan suatu tes psikologi?” “Boleh, katakan saja,” saya merasa aneh dan juga ingin tahu. “Dengarkan baik-baik,” katanya, “ada lima ekor binatang, yaitu harimau, kera, merak, gajah dan anjing. Kamu membawa lima ekor binatang ini, pergi mengeksplorasi hutan primitif yang belum pernah kamu datangi. Lingkungan sekitar sangat berbahaya, sehingga tidak memungkinkan kamu membawa mereka sampai akhir dan terpaksa kamu harus melepaskan mereka satu per satu. Dengan urutan bagaimanakah kamu melepaskan binatang tersebut?”


Berpikir cukup lama lalu saya berkata: “Merak, harimau, anjing, kera dan gajah.” “Ha, ha, ha,…,” temanku tertawa terbahak-bahak, lalu berkata: “Ternyata jawabanmu tidak jauh dari dugaanku, kamu juga melepaskan merak lebih dulu, tahukah kamu merak itu melambangkan apa?” Sang teman menjelaskan padaku: “Merak mewakili suami/istri atau kekasih; harimau mewakili keinginan kuasa dan kekayaan; gajah mewakili orangtua; anjing mewakili teman dan kera mewakili anak.” Jawaban dari pertanyaan ini adalah mencerminkan apa yang pertama akan kamu korbankan di kala kamu menemui kesulitan. Coba kamu lihat sendiri orang macam apakah kamu ini.”


Merak mewakili kekasih? Saya sangat terkejut. Apakah dalam keadaan susah yang pertama saya lepaskan adalah kekasih saya? Benarkah saya termasuk golongan orang macam begitu? Disodori pilihan, mengapa saya pertama melepas merak? Karena saya merasa meraklah yang paling tidak dapat menolong saya bila saya dalam keadaan susah.


Saya tidak setuju dengan penilaian teman ini, maka saya mencari orang lain untuk ikut dalam permainan itu. Sama seperti yang dikatakan oleh teman saya, hampir semua orang selalu melepaskan merak pada urutan pertama. Di saat terakhir saya mengungkapkan jawaban, banyak reaksi orang yang sama dengan saya, bahkan ada pula yang berkata: ”Orang yang menciptakan permainan ini pasti bukan orang normal.”


Pada suatu hari ketika saya menelepon seorang teman, mendadak terpikir soal permainan ini, lalu meminta teman ini untuk menjawab. Teman ini setelah berpikir lama lalu berkata: “Kera, harimau, gajah, anjing, merak.” Saya amat terkejut, dialah satu-satunya orang yang memilih terakhir melepas merak. “Mengapa terakhir melepas merak?” saya bertanya dengan amat terperanjat. Sebaliknya, dia amat kaget dengan pertanyaanku, dan berkata: “Coba kamu pikirkan, di antara lima binatang tersebut, hanya meraklah yang paling tidak mampu menjaga diri sendiri. Bagaimana mungkin saya melepaskannya, membiarkan dia terperangkap sendirian dalam lingkungan yang berbahaya.”


Saya segera mengerti kesedihan saya. Dalam proses menentukan pilihan, kita selalu menuntut apa yang dapat diberikan oleh orang lain terhadap diri kita, tanpa pernah memikirkan apa yang orang lain butuhkan dari diri kita.


Sumber: Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 9

12 Juli 2009

Belajar dari Tumpukan Batu

Setelah tamat dari universitas tidak berapa lama, aku ditugaskan di sebuah kota kecil kawasan hutan terpencil sebagai guru, gajinya sangat kecil. Sebenarnya aku mempunyai kelebihan yang tidak sedikit, keterampilan dasar mengajar cukup baik, dan mempunyai keahlian khusus menulis karangan. Kemudian, di satu sisi aku mengeluh pada takdir yang tidak adil, dan pada sisi lainnya merasa iri dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan terhormat, menerima gaji yang tinggi. Jika demikian, bukan hanya sudah tidak bergairah terhadap pekerjaan, bahkan untuk menulis karangan juga sudah tidak berminat lagi. Seharian penuh, aku terus memperindah karangan, membayangkan bisa mempunyai kesempatan untuk memilih sebuah lingkungan kerja yang baik, dan juga menerima imbalan yang besar.

Begitulah waktu dua tahun telah berlalu dengan cepat, pekerjaan yang kulakukan sendiri tidak keruan, dalam karang-mengarang juga tidak ada hasil apa-apa. Sementara itu, aku telah mencoba memadukan beberapa bagian yang kusukai sendiri, namun pada akhirnya tidak ada satu pun yang menerimaku.

Lalu, muncullah tanpa sengaja sebuah masalah kecil yang sepele, tapi mampu mengubah nasib yang selama ini memang ingin kuubah.

Pada hari itu, sekolah menyelenggarakan pekan olahraga, di kota kecil yang sangat kekurangan aktivitas kebudayaan ini, sudah pasti merupakan suatu hal yang besar, oleh karenanya, orang yang datang untuk melihat sangat banyak. Sekeliling lapangan olahraga yang tidak begitu luas dengan cepat telah membentuk lingkaran tembok manusia hingga angin tak bisa berembus. Aku datang terlambat, berdiri di balik tembok manusia, menjungkitkan kaki juga tidak bisa melihat suasana yang ramai di dalamnya. Pada saat demikian, seorang bocah lelaki pendek yang berada di samping telah menarik perhatianku. Hanya melihat dia sekali demi sekali memindahkan batu bata dari tempat yang tidak jauh, di balik tembok manusia yang tebal itu, dengan sabar membangun sebuah pijakan, setingkat demi setingkat, tak kurang dari setengah meter tingginya. Aku tidak tahu sudah berapa banyak waktu yang digunakannya untuk membangun “panggung” ini, dan juga tidak tahu sudah berapa banyak pertandingan seru yang terlewatkan, namun saat dia naik ke atas pijakan yang dibangunnya, ia mengarah kepadaku sambil tersenyum berseri-seri. Kegirangan dan rasa bangga atas keberhasilan itu, tampak demikian jelas di wajahnya.

Sekilas, hatiku terguncang sejenak, masalah yang demikian sederhananya: “Jika ingin melintasi tembok manusia yang padat untuk dapat melihat pertandingan yang seru, cukup ganjalkan saja batu bata yang agak banyak di bawah kaki.”

Sejak saat itu, dengan penuh semangat aku mulai bekerja dengan sungguh-sungguh, selangkah demi selangkah. Dan dalam waktu yang singkat, aku telah menjadi juru didik terkenal. Berbagai jenis susunan bahan pelajaran terbit terus-menerus, dan berbagai macam kehormatan yang membuat orang iri berturut-turut jatuh ke tanganku. Di waktu luang, aku tidak berhenti menulis karangan, berbagai macam karya sastra kerap kali dimuat di surat kabar, menjadi orang yang secara khusus menyumbangkan karangan ke banyak penerbitan. Kini, aku telah bertugas di sekolah menengah kejuruan dan dimutasi ke tempat yang kusukai sendiri.

Sebenarnya, seseorang yang memiliki cita-cita asal saja tidak takut susah, secara diam-diam “mengganjal batu bata yang agak banyak di bawah kaki sendiri,” maka pasti bisa melihat pemandangan yang ingin dilihat sendiri, memetik buah hasil kesuksesan itu yang digantungkan ke tempat yang tinggi.

Sumber: www.dajiyuan.com

28 Juni 2009

Anda dari Kota Mana

Ada seorang kakek yang sering duduk di bangku dekat suatu pom bensin, dan suka memberi salam kepada orang-orang yang lewat. Suatu hari, cucu perempuannya turut menemani di samping kakeknya.


Saat mereka berdua sedang duduk di situ, datang orang asing (dari luar kota) sedang mencari informasi ingin bertempat tinggal di daerah ini. Orang asing mendekati dan bertanya pada kakek, Bagaimana keadaan di kotakota mana?” ini?” Kakek tua itu balik bertanya, ”Anda datang dari


Orang asing itu menjawab, “Saya tinggal di tempat yang mana orang-orangnya suka mengritik orang dan tetangga pun suka ngobrol tak keruan. Pokoknya daerah itu sangat tidak baik, aku ingin sekali meninggalkan tempat itu.” Kakek yang duduk di kursi berkata pada orang asing itu, ”Aku beritahukan Anda sebetulnya di sini juga hampir sama.”


Tidak lama kemudian, datang sebuah mobil yang terisi penuh sekeluarga berhenti di depan kakek dan cucunya yang sedang duduk. Seorang ibu membawa dua anak kecil turun dan bertanya, “Di mana letak toilet?” Suami ibu tadi juga ikut turun dari mobil, dan bertanya pada kakek, “Baikkah kota ini?”


Kakek tua itu kembali bertanya, “Bagaimana daerah tempat tinggal Anda?” Bapak itu berkata, ”Kota yang saya tempati sangat baik, tetangga-tetangga bersifat baik, suka saling membantu, suka memberi salam, saya juga tidak ingin berpisah dengan daerah itu.” Kakek tua melihat bapak itu dan tersenyum, “Sebetulnya di sini juga hampir sama.” Mereka balik ke mobil dan berterima kasih pada kakek lalu pergi.


Jawaban sang kakek yang mendua, tentu saja membuat cucunya terheran-heran. ”Kek, mengapa kepada orang yang pertama itu kakek bilang tempat ini sangat jelek, sebaliknya kakek memberi tahu orang yang kedua itu bahwa tempat ini sangat baik?” Kakek dengan sabar menjelaskan, ”Walau kamu pindah ke mana pun, kamu akan tetap membawa sifat diri sendiri, tempat itu baik atau tidak, ini semua tergantung diri sendiri.”


Artikel: Lin Ju Ming/Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 6