Ada seorang pemuda, yang putus asa karena terpukul oleh kegagalan yang dialaminya, datang untuk menemui saya. Dengan penuh kekalutan dia menceritakan kepada saya, bahwa dia merasa telah bosan dan letih dengan kehidupan ini, dia ingin segera mengakhiri hidupnya. Saya tidak terkejut mendengar penuturan itu, juga tidak menyalahkan dirinya, justru sebaliknya dengan perasaan tenang saya balik bertanya kepada pemuda ini, apakah tidak ada pilihan lain lagi. Dia menjawab, tidak ada, semua teman dan keluarga saya menganggap remeh diri saya, pandangan orang-orang di sekitar saya memancarkan sorot mata menghina, bahkan saya merasa pohon-pohon di sepanjang jalan pun memandang saya dengan dingin.
Pemuda itu duduk di dalam ruang kerja saya. Saat ini di dunia ini serasa hanya ada kami berdua saja. Pohon willow putih yang rindang di luar jendela mengeluarkan suara-suara gesekan dedaunan akibat hembusan angin. Dengan rona tanpa ekspresi saya melemparkan pandangan keluar jendela. Mengiringi pandangan mata saya, pemuda itu pun melihat pemandangan di luar itu. Lama setelah itu, saya bertanya lagi padanya, Anda merasa hutan di luar itu sangat menyeramkan? Atau Anda merasa suara dedaunan di luar sana penuh dengan aura kebencian? Dengan sangat bimbang dia memandang saya, tidak mengerti dengan apa yang saya maksud. Selanjutnya saya berikan satu karangan prosa yang tadi baru saja saya selesaikan agar dibacanya. Karangan prosa ini menuliskan tentang pemandangan hutan dari jendela ruang kerja saya ini. Saya bertanya padanya, apakah Anda sama sekali tidak sependapat? Sepertinya ada sesuatu yang mulai dia pahami. Ia berkata, sebidang hutan yang sama, mengapa justru menjadi sedemikian indahnya di bawah goresan pena Anda, sementara saya justru merasa mereka tidak ada bedanya dengan hutan-hutan lain?
Saya berkata, inilah makna dunia ini yang sesungguhnya. Yang Anda lihat hari ini di sini adalah sebait kisah yang saya tulis dari hutan ini, saya sarankan agar besok bertamulah Anda ke pelukis yang menetap di rumah sebelah, di tempatnya Anda akan dapat melihat hutan ini menjadi sebuah lukisan yang sangat indah. Pemuda itu sepertinya telah menyadari sesuatu, ekspresi wajahnya yang suram ketika datang tadi kini telah berubah menjadi santai dan ceria.
Ketika itu, ada suara-suara sapuan dari lantai satu. Saya tahu itu adalah suara cleaning service yang sedang menyapu jalanan di bawah. Saya katakan padanya, tukang sapu itu setiap hari membersihkan hutan di bawah sana, tahukah Anda bagaimana cara pandangnya terhadap hutan ini? Yang dia lihat adalah setiap hari berapa helai daun yang rontok dari pohon ini, pohon mana yang akan segera mati, di mana perlu ditanam lagi sebatang pohon. Pemuda itu mendadak sadar. Ia berkata, saya sudah mengerti, hutan ini takkan pernah berubah, hutan ini akan selalu sama saja terhadap orang lain, semuanya tergantung pada pandangan orang terhadap hutan ini sendiri.
Jiwa pemuda itu pun sepenuhnya telah santai. Saya beritahu dia, kenyataannya, teman dan keluarga Anda masih tetap teman dan keluarga Anda, mereka bahkan masih belum mengetahui kejadian yang telah Anda alami, semua itu adalah anggapan Anda sendiri bahwa mereka akan berpandangan seperti itu. Pohon di sepanjang jalan di hutan ini lebih tidak bersalah lagi, mereka tetap seperti dulu sejak tumbuh besar di sini. Dan udara di sini, apakah masih Anda rasa menyesakkan dada?
Pemuda itu pergi setelah melepaskan beban berat itu, saya percaya dia telah menemukan kembali kemudi perahu kehidupannya.
Dunia kita ini sesungguhnya tidak serumit itu, hanya saja kita sendiri yang selalu menjadikannya sangat rumit. Mungkin lawan Anda sama sekali tidak ada niat tidak baik terhadap Anda, hanya saja Anda sendirilah yang telah menganggapnya seperti itu. Keadaan kita ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang pantas untuk dikhawatirkan, kita sendirilah yang selalu menghantui diri kita sendiri.
Tahun lalu, saya pernah melihat sepucuk surat di Universitas Iowa, AS, dokumen salinan surat itu sudah lama tersimpan di rumah wakil kepala seminarium yang pernah bekerja di universitas tersebut, dan itu adalah sepucuk surat yang sulit untuk dipahami oleh kita, bangsa China. Wakil kepala seminarium itu namanya Ane Kararoy, ia adalah salah satu wanita yang paling berpengaruh di Universitas Iowa tersebut.
Dahulu, ayahnya pernah mengarungi lautan dan samudera pergi ke China menyebarkan agama, Ane menjadi orang Amerika yang lahir di Shanghai, China, karena itu terhadap orang China ia memiliki perasaan yang istimewa. Ia belum menikah seumur hidupnya, dalam memperlakukan mahasiswa China sama seperti memperlakukan anak sendiri, dengan amat seksama memberi perhatian dan kasih sayang pada mereka. Setiap tahun pada saat hari Natal selalu mengundang mahasiswa China berkunjung ke rumahnya sebagai tamu.
Tak terduga, peristiwa yang malang terjadi pada tanggal 1 Nopember 1991, dan itu adalah peristiwa tragis yang menggemparkan dunia di satu tempat. Seorang mahasiswa China yang bernama Lu Gang, yang ketika itu ia baru memperoleh gelar doktor fisika antariksa dari Universitas Iowa, menembak mati tiga profesor universitas tersebut, seorang mahasiswa yang juga memperoleh gelar doktor di saat yang sama dengannya yaitu Shan Lin Hua, dan wakil kepala seminarium universitas tersebut Ane Kararoy juga jatuh dalam genangan darah dan air mata.
Pada tanggal 4 Nopember 1991, sebanyak 28.000 mahasiswa dan dosen pengajar Universitas Iowa seluruhnya menghentikan kegiatan belajar-mengajar satu hari, untuk mengadakan upacara pemakaman Ane Kararoy dan perkabungan. Ketika sahabat karib Ane Kararoy yakni pendeta Theo Paul mengenangkan kembali sepanjang kehidupan Ane Kararoy mengatakan: “Seandainya hari ini merupakan hari selubungan dendam dan amarah kita, maka Ane Kararoy adalah orang pertama yang menyalahkan kita.”
Pada hari itu, tiga saudara Ane Kararoy mengadakan konferensi pers, mereka menyumbangkan sejumlah dana atas nama Ane Kararoy, mengumumkan membentuk sebuah yayasan beasiswa internasional Dr. Ane Kararoy, guna menghibur dan mempercepat kesehatan mental mahasiswa luar negeri, mengurangi terjadinya tragedi manusia.
Saudara-saudara Ane Kararoy yang masih dalam suasana pedih tak terkira, dan dengan kasih sayang yang sangat besar membacakan sepucuk surat yang diperuntukkan pada keluarga Lu Gang. Dan inilah surat yang saya temui di dalam kamarnya: Surat dari keluarga Ane Kararoy yang diperuntukkan pada keluarga Lu Gang:
4 Nopember 1991
Teruntuk Lu Gang tersayang,
Kami telah mengalami kepedihan yang tiba-tiba terjadi, kami telah kehilangan dirinya di saat yang paling cemerlang dalam sepanjang hidup kakak. Kami merasa sangat bangga pada kakak, ia mempunyai daya pengaruh yang sangat besar, mendapat rasa hormat dan cinta dari setiap orang yang berhubungan dengannya -- keluarganya, tetangga, rekan-rekan dari kalangan akademis serta mahasiswa dan kerabatnya yang tersebar di setiap negara.
Kami sekeluarga dari tempat yang sangat jauh tiba di tempat ini, bukan saja merasakan kepedihan bersama dengan sejumlah besar teman-teman kakak, namun juga selalu menikmati semua kenangan manis dan indah bersama kakak saat ia masih berada di dunia.
Ketika kami saling berkumpul bersama dalam kesedihan dan kenangan, kami juga teringat akan segenap keluarga Anda, dan memanjatkan doa untuk kalian. Karena Sabtu pekan ini kalian pasti merasa sangat pedih dan terkejut.
Ane Kararoy paling yakin akan cinta kasih dan toleransi. Kami menulis surat ini di saat kepedihan kalian, dan maksudnya tiada lain adalah ingin berbagi bersama kepedihan kalian, juga berharap kalian dan kami bersama-sama memanjatkan doa agar saling mencintai. Di saat-saat kepedihan ini, Ane Kararoy berharap hati dan pikiran kita semua agar dipenuhi dengan rasa simpati, toleransi dan cinta kasih. Kita tahu, bahwa di saat demikian yang lebih merasa pedih dibanding kami, hanya sekeluarga kalian saja. Dan harap kalian maklum, bahwasannya kami bersedia menanggung kepedihan ini bersama dengan kalian. Dengan demikian, kita bisa bersama-sama mendapatkan hiburan dan dukungan dari hal tersebut. Dan Ane Kararoy juga akan berharap demikian.
Saudara-saudara Ane Kararoy yang tulus
Frank/Michael/ Paul Kararoy”
Selesai membaca isi surat ini, linangan air mata telah membuat buram sepasang mata saya, dan perasaan hati saya diliputi oleh rasa terima kasih secara mendalam. Saya berharap, semoga semua teman serumpun China yang pernah membaca isi surat ini bisa merasakan perasaan ini bersama dengan saya, belajar isi hati yang agung dan luhur ini.
Di sebuah kampus universitas di Amerika, ada dua mahasiswa bersahabat, satunya bernama Frank, satunya lagi bernama Paul. Sejak semester dua, Paul yang miskin hampir tak bisa tidak harus bergantung pinjaman pada sesama teman sekampusnya untuk hidup. Saat tamat, Paul yang berutang sebanyak US$ 1.200 pergi tanpa pamit, dan sejak itu menghilang begitu saja. Orang yang memberi pinjaman susul-menyusul meminta Frank agar jika sempat memberi tahu pada Paul, bahwa mereka akan memperkarakannya ke pengadilan.
Frank berusaha meyakinkan teman-teman sekampus yang marah, ia mengatakan bahwa berdasarkan pemahaman dirinya terhadap Paul, meskipun ia sangat miskin, namun dia belum pernah ditaklukkan oleh kemiskinan dan kesulitannya. Dia memiliki keuletan yang kuat, dan orang yang ulet pasti akan berhasil. Ia meminta kepada teman-teman itu untuk bersabar beberapa waktu.
Dengan mengandalkan kepribadian dan wibawa serta kecakapan Frank yang luar biasa, masalah pengaduan ke pengadilan untuk sementara tidak dipersoalkan, waktu terus bergulir dan 10 tahun sudah berlalu.
Sepuluh tahun kemudian, dalam suatu reuni mahasiswa yang dipimpin oleh Frank, ada seorang yang kurus datang tergesa-gesa dalam perjalanannya, dan begitu dilihat secara seksama, ternyata adalah Paul. Dari balik dadanya, Paul mengambil secarik kertas yang dilipat-lipat, dan memberitahu pada teman-temannya yang hadir di sana, “Hari ini saya datang untuk membayar utang, setiap sen uang pinjaman tercatat secara terperinci di atas kertas ini.…”
Pada saat itu, semua orang baru tahu ternyata Paul menghilang bukan karena menghindari tagihan utang, dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Setelah gagal mencari pekerjaan di mana-mana, dia naik sebuah kapal barang samudera dan bekerja sebagai pekerja kasar, dia telah berlayar di mana-mana mengikuti kapal barang tersebut. Terakhir, ia beralih ke Swiss, dan setelah mendarat, mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai guru SD, dan dengan honor yang kecil telah cukup mengumpulkan uangnya waktu itu.
Setelah mendengar cerita Paul, balai pertemuan menjadi hening, sampai Frank menghampiri dan dengan hangat memeluk Paul, semua orang terharu. Selanjutnya, dalam sebuah memoar, Frank menceritakan kisah tersebut. Frank merupakan sebutan akrab teman-teman sekampusnya, namanya yang sebenarnya adalah Franklin Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32. Dialah orang yang bangkit kembali setelah mengalami kegagalan, seorang yang mengatakan bahwa “Orang yang teguh dan ulet pasti berhasil” dan bahkan dirinya sendiri yang telah membuktikan kata-kata itu.
Jack adalah seorang pengacara. Ketika pertama kali datang ke klinik saya, sebagai pasien, sikap dan ucapannya lebih persis disebut seorang hakim. Kapan Anda mulai mengadakan praktik kedokteran tradisinal Tiongkok? Tamatan universitas mana? Apa gelarnya? Penyakit apa yang paling Anda kuasai?
Dalam pertanyaannya yang berturut-turut itu, penuh dengan nada ketidakyakinan. Dengan tenang dan bersahaja saya menjawab satu per satu pertanyaannya. Seorang murid yang sedang praktik, yang berdiri di samping melihat pemandangan ini tak tahan bergumam, “Keterlaluan! Sampai lupa bahwa dirinya sendiri ke sini adalah untuk berobat.” Dia melihat saya masih dengan tenangnya tiada reaksi apa pun, wajahnya tertekan lebih merah lagi. Saya melihatnya memegang alkohol dan gumpalan kapas, di satu sisi seolah-olah sedang berusaha mencari beberapa jarum akupunktur yang diameternya lebih besar untuk digunakan pada tubuhnya.
Ketika saya mulai menanyakan asal mula penyakit Jack, dia mengatakan bahwa telapak kakinya sakit, sudah lama tidak bisa berjalan, berolahraga dan berlatih. Begitu berdiri, telapak kakinya sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum. Ia telah pergi ke sejumlah besar rumah sakit, mencoba berbagai macam terapi pengobatan, namun tidak ada efeknya. Oleh karena itu, mencari saya untuk mencoba akupunktur pengobatan Tiongkok. Menurut cara pengobatan pada umumnya, saya mengobati telapak kakinya yang sakit. Ketika akan pergi, dengan ramah dan sopan dia mengatakan: “Jika kaki ini tidak sakit lagi, setelah satu minggu, saya akan mengirim biaya pengobatannya.”
Saya menganggukkan kepala tanda setuju. Pada saat itu, murid yang sedang praktik tak tahan lalu bicara: “Di sini bukan barang hasil pabrik, setelah dicoba dan bagus langsung bayar, jika tidak bagus kembalikan!”
Setelah itu, tidak ada lagi berita yang berhubungan dengan telapak kaki itu. Satu setengah tahun kemudian, Jack datang lagi ke tempat klinikku, kali ini ia menderita penyakit disentri, disentri ini bisa datang semaunya, semenit pun tidak boleh tertunda. Kali ini, dia baru datang lagi setelah tidak berhasil disembuhkan oleh kedokteran barat. Namun, sikapnya kali ini sangat berbeda dengan tempo hari, nada curiga dan sombong itu tidak ada lagi. Kali ini, karena ada pihak asuransi yang membayarnya, maka ia sering sekali datang. Dalam proses pengobatan, secara berangsur-angsur saya mulai sedikit memahami dirinya.
Suatu kali, ketika saya bertanya padanya mengapa penuh rasa curiga terhadap siapa pun, ia menceritakan sebuah kisah masa kecilnya sendiri. “Ketika kakekku imigrasi ke Amerika, tidak membawa apa-apa, hanya membawa sebuah buntalan kecil. Dari tangan hampa hingga ia membuka beberapa toko roti, sepanjang hidup telah banyak menderita. Ayahku juga hidup dalam kesulitan, oleh karena itu harapan satu-satunya terhadap diriku adalah ‘berusaha mencari uang.’ Sejak kecil ia mendidikku tidak boleh bergantung dan percaya pada siapa pun. Ketika bermain sepak bola, acap kali disandung oleh ayah. Suatu kali yang paling parah ketika terjatuh dari sepeda adalah dikarenakan takut bertabrakan dengan ayah, maka saya memilih jatuh terbanting. Ketika wajah saya bengkak dan hidung hijau kebiruan kena benturan, reaksinya malah memarahiku mengatakan bodoh bahkan tidak bisa dibandingkan dengan seekor babi. Yang lebih sulit dilupakan adalah ketika saya dengan susah payah merangkak di atas tangga, ia menjatuhkan tangganya. Dan ketika saya bertanya kepadanya mengapa berbuat demikian, ia mengatakan: ‘Untuk mendidikmu agar tidak percaya dan bergantung pada siapa pun!’” “Namun ayah Anda kan bukan orang lain!” dengan tidak habis mengerti aku mengatakannya. “Tentu saja termasuk ayahmu!” Ia menjawabnya demikian.
Hingga di sini, saya terkejut sampai tidak bisa bicara.
Saya mengidentifikasi gejala penyakitnya, perlahan-lahan mengerti mengapa usus dan lambungnya bisa mengidap penyakit yang langsung kumat begitu timbul dan sulit untuk disembuhkan. Menurut kedokteran tradisional Tiongkok bahwa disentri adalah stagnasi yang menjadi timbunan, setelah lama tertimbun menjadi disentri, sebabnya adalah limpa lemah, dan limpa menguasai pikiran. Ketika sepanjang hari dia hidup dalam ketegangan, tidak percaya dengan siapa pun, dari tahun ke tahun, dikarenakan perubahan perasaan yang tidak menentu, tentu saja akan menimbulkan kekejangan saluran usus, kadang kala berat atau ringan seiring dengan perubahan perasaan.
Jika ingin mengobati gejala penyakitnya, maka harus menghilangkan kemasygulan hatinya secara tuntas. Mana mungkin ini dapat dilakukan oleh kedokteran tradisional Tiongkok atau akupunktur? Bagaimana baru bisa mengubah sikapnya secara tuntas, apakah ada cara pengobatan yang benar-benar efektif ? Saya bertanya pada diri sendiri.
Ada yang mengatakan, “Uang adalah benda di luar tubuh, tidak bisa dibawa ketika lahir, juga tidak bisa dibawa pergi setelah meninggal dunia. Tidak perlu memikirkannya. Sebaliknya yang lainnya mengatakan, “Punya uang baru bisa memiliki segalanya, sewajarnya berusaha keras dengan rajin dengan berbagai cara untuk mendapatkan lebih banyak uang.”
Sesungguhnya uang itu sendiri tidak ada yang perlu dipersoalkan, dan sewajarnya ia termasuk benda yang netral, ia bisa mendatangkan kebahagiaan materi kepada manusia, juga merupakan dasar untuk mewujudkan aspirasi materi lainnya yang sesuai. Orang yang murni dan luhur tidak perlu memandang harta benda sebagai musuh besar demi untuk menyatakan kemurnian dan keluhuran diri sendiri.
Seorang yang menjadi kaya melalui usaha keras ditambah dengan keadaan yang mendukung, adalah orang yang beruntung, dan layak kita syukuri atas keberuntungan itu. Sering mendapat kabar mengenai teman yang hidup bahagia, di dalam hati merasa gembira atas kebahagiaan mereka, dalam perjalanan hidup saya, bisa berkenalan dengan sejumlah orang yang berbakat, berpengetahuan dan beruntung, bukankah sebuah hal yang menggembirakan? Lagi pula, kehidupan dahulu mereka pasti juga telah banyak berbuat hal-hal yang baik, mengumpulkan De (kebajikan) baru mendapatkan balasan nasib yang baik dalam kehidupan sekarang. Orang-orang kaya yang saya ketahui adalah orang yang berependidikan tinggi, lagi pula di antara kami bergaul dengan tulus dan terbuka, saling berterus terang, sedikit pun tidak ada perbedaan antara mulia dan nista.
Namun bukannya semua orang yang memiliki akhlak mulia, dan orang yang berusaha keras pasti bisa sukses dan kaya. Juga ada orang yang tekun namun tidak berhasil. Dan ini perlu dibincangkan tentang hubungan antara harta benda dan kebahagiaan. Menurut pendapat saya, harta benda bukanlah satu-satunya faktor yang bisa membuat bahagia, siapa yang berani mengatakan, bahwa orang-orang kaya di dunia ini pasti bahagia, sedangkan orang yang miskin setiap hari murung dan sedih? Miskin dan kaya bukannya tidak ada hubungan secara langsung, namun pandangan hidup seseorang berhubungan erat dengan kesejahteraan. Seperti contoh misalnya, sama-sama mengalami kegagalan, ada orang yang dikarenakan demikian menjadi patah semangat dan pesimis, bahkan tidak berkemauan untuk maju, menganggap diri sendiri adalah orang sial. Ada yang tetap seperti biasa gembira dan bahagia, menghadapi masalah dengan sikap yang terbuka dan optimis, dibandingkan dengan orang-orang yang bahkan untuk makan saja tidak mampu, diri sendiri masih termasuk beruntung sekali. Dan kegagalan itu sendiri adalah suatu ketidakberuntungan, jika hanya karena hal ini dan menyiksa diri kembali, justru adalah kemalangan dalam ketidakberuntungan.
Ditilik dari hal ini, terhadap kesejahteraan, faktor yang lebih berharga daripada harta benda adalah sikap optimis dalam kehidupan. Seorang yang optimis, meskipun tidak punya apa-apa, ia tetap dapat hidup dengan bahagia, sedangkan orang yang pesimis, meskipun harta keluarga berlimpah ruah, juga tak luput akan menyalahkan semua orang dan segala hal kecuali diri sendiri, sebab dalam kehidupan pasti ada hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana yang kita harapkan. Dan tentu saja, bukannya semua orang yang optimis di dunia ini mesti mengalami kemiskinan hidup, pada kenyataannya, di atas dunia ini terdapat sejumlah besar orang yang berbudi luhur dan berwibawa tinggi, usaha juga sangat sukses, paling tidak di antara teman sekolah saya cukup banyak yang sukses. Kekayaan ditambah lagi dengan suasana hati yang optimis tentu saja merupakan kehidupan yang paling bahagia, dan kegagalan ditambah lagi dengan sikap pesimistis adalah kemalangan dalam ketidakberuntungan.
Pada hakikatnya, baik itu kemiskinan atau kekayaan secara materi, memiliki sebuah hati yang tenang dan optimistis, itu berarti memiliki harta benda yang paling besar. Saya turut gembira akan kedudukan dan kekayaan teman-teman saya, dan berdoa untuk teman-teman yang gagal, dalam hati saya, mereka sama pentingnya, sama baiknya, tidak peduli di mana mereka berada, dan dalam keadaan yang sama saya sangat merindukan mereka, sebab yang saya hargai adalah orangnya, bukan benda.
Beberapa tahun yang lalu, Rektor Universitas Harvard membuat penilaian yang keliru terhadap orang, sehingga telah mempermalukan dirinya sendiri.Sepasang suami-istri lanjut usia, sang istri mengenakan pakaian dari bahan katun bermotif garis-garis yang telah pudar, sedangkan suaminya hanya mengenakan setelan jas yang terbuat dari bahan kain murahan, mereka mengunjungi Rektor Universitas Harvard tanpa mengadakan perjanjian sebelumnya.
Sekretaris Rektor dengan sekilas saja telah memastikan bahwa kedua orang tua kampungan ini sama sekali tidak mungkin ada hubungan kerja dengan Universitas Harvard. Sang suami berkata dengan nada ringan: “Kami ingin bertemu dengan Rektor.” Dengan sangat tidak santun sekretaris mengatakan: “Dia seharian penuh sibuk sekali.” Sang istri lalu menjawab: “Tidak apa-apa, kami bisa menunggunya”. Setelah beberapa jam berlalu, sekretaris itu tetap tidak menghiraukan mereka, dengan harapan mudah-mudahan mereka tahu diri dan pergi dengan sendirinya. Namun, mereka tetap menunggu di sana dengan sabar.
Sekretaris itu akhirnya memutuskan untuk memberi tahu kepada rektor: “Mungkin mereka akan pergi setelah bicara beberapa patah kata dengan Anda.”Rektor dengan tidak sabar akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan mereka. Dengan sangat berwibawa dan rasa yang tidak senang, rektor berhadapan dengan pasangan suami-istri itu. Nyonya tua itu memberi tahu kepadanya: “Kami mempunyai seorang anak yang pernah kuliah setahun di Harvard sini, dia sangat menyukai Harvard, kehidupannya di Harvard sangat gembira. Namun tahun lalu, dia mengalami suatu hal di luar dugaan lalu meninggal, aku dan suamiku bermaksud mendirikan sebuah tanda peringatan untuknya.”
Rektor bukan saja tidak merasa terharu, malah sebaliknya merasa lucu dan dengan suara kasar berkata:“Nyonya, kami tidak bisa untuk setiap orang yang pernah kuliah di Harvard dan kemudian mati lalu mendirikan patungnya. Jika berbuat demikian, maka kampus kami akan tampak sama seperti taman kuburan.”
Serta merta nyonya berkata: “Bukan itu maksud kami, kami bukannya ingin mendirikan sebuah patung, kami bermaksud menyumbangkan sebuah gedung untuk Harvard.”
Dengan seksama rektor memandang sejenak pakaian katun bermotif garis dan setelan jas kasar yang dikenakan pasangan suami-istri ini, kemudian memuntahkan kata-katanya. “Tahukah kalian berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah gedung? Bangunan di kampus kami ini lebih dari US$ 7,5 juta dollar.” Di saat itu, nyonya berdiam dan tak bicara lagi. Rektor merasa sangat senang, akhirnya bisa membuat mereka pergi.
Sekilas melihat nyonya itu mengarah ke suaminya lalu berkata, “Hanya perlu US$ 7,5 juta sudah bisa membangun sebuah gedung? Lalu, mengapa kita tidak membangun sebuah universitas untuk memperingati anak kita?” Suaminya mengangguk-anggukkan kepala menyetujuinya. Sedangkan Rektor Harvard merasa kacau pikirannya dan menjadi bingung setelah mendengar perkataan nyonya itu. Begitulah, Mr. dan Mrs. Leland Stanford meninggalkan Harvard, dan tiba di California, selanjutnya mendirikan StanfordUniversity untuk mengabadikan anak mereka.
Cinta adalah sebuah pelita, menyinari orang lain, juga menghangatkan diri sendiri. Orang yang memulai perjalanannya dengan membawa sebuah perasaan cinta, selamanya juga berada dalam cinta.
George adalah karyawan bagian marketing sebuah perusahaan asuransi di Washington, suatu ketika dia ingin membelikan bunga untuk kekasihnya, sampai akhirnya mengenal bos pemilik sebuah toko bunga, Yi Ben. Sebenarnya dia pernah membeli sebanyak dua kali di toko bunga Yi Ben.
Di luar dugaan, George menghadapi masalah. Demi mengganti sejumlah uang asuransi kepada customer, tanpa sebab dan alasan yang jelas dituntut dengan dakwaan penipuan dan dimasukkan ke penjara, dia harus meringkuk di terali besi selama 10 tahun. Mengetahui hal ini, kekasihnya meninggalkan dirinya. George telah terbiasa dengan kehidupan yang hangat dan penuh kegairahan, dirinya tidak tahu harus bagaimana melewati hari-hari yang tiada cinta juga cahaya yang tidak kelihatan itu, dia tidak mempunyai sedikit pun kepercayaan terhadap dirinya. Di dalam penjara, dia telah melewati bulan pertamanya yang masygul, dia nyaris menjadi gila, saat demikian, ada orang datang menjenguknya. Di Washington, dia tidak mempunyai seorang famili, tak terpikir olehnya siapa yang masih mengingatnya.
Di ruang pertemuan, dia menjadi terpana, ternyata adalah bos toko bunga, Yi Ben yang datang membawakan sekuntum bunga untuknya. Meskipun hanya sekuntum bunga, namun telah memberikan semangat pada George dalam kehidupannya di penjara, juga membuatnya merasakan harapan hidup. Dia mulai membaca buku di dalam sel, khusus mengenai bidang elektronik. Setelah enam tahun, dia dibebaskan, pertama ia bekerja di perusahaan komputer, tidak lama kemudian dia membuka sebuah perusahaan perangkat lunak, dan dua tahun kemudian, status sosialnya menjadi jutawan. Menjadi George yang kaya raya, pergi mengunjungi Yi Ben, namun memperoleh kabar bahwa Yi Ben pada dua tahun yang lalu telah bangkrut, sekeluarga hidup sengsara, seluruh keluarga pindah ke desa. George menjemput kembali sekeluarga Yi Ben, dan membelikan sebuah rumah bertingkat untuknya, lalu menyisakan sebuah posisi di perusahaan untuk Yi Ben. George mengatakan, adalah bunga Anda setiap tahun, yang membuat aku merindukan kasih dan kehangatan dunia ini, memberi aku semangat memenangkan perang melawan nasib yang malang, biar apa pun yang kulakukan untukmu, semuanya tidak bisa membalas budi baikmu pada waktu itu, aku ingin atas namamu, mendermakan sejumlah uang kepada badan amal, agar semua orang yang bernasib malang di dunia ini dapat merasakan perhatianmu yang besar.
Setelah itu, George mendermakan sejumlah uang yang banyak, mendirikansebuah yayasan cinta kasih orang tak dikenal di Washington. Memberikan perhatian, adalah hal yang paling mudah dilakukan setiap orang. Sepatah kata, sebuah senyum, dan sekuntum bunga, itu sudah cukup, dan ini sama sekali tidak merugikan apa–apa bagi kita, malah mungkin membantu orang lain melewati kesulitan, dan di saat yang sama juga telah membuat indah selamanya pada diri sendiri. Lalu mengapa tidak melakukannya?