28 Juli 2008

Laki-laki juga Bisa Menangis

Wanita tidak biasa melihat laki-laki menangis, teman saya Ima adalah sebuah contoh yang tipikal. Suatu ketika, dia dan kekasihnya ribut mau berpisah, namun, tak disangka saat itu juga kekasihnya menangis di tempat. Begitu melihat tangisannya, dia menjadi iba, meskipun keduanya berbaikan, namun, di dalam hatinya tetap meninggalkan sebuah kesan yang “jelek”, yaitu kekasihnya “cengeng”, padahal dirinya tidak suka dengan laki-laki tipe begitu.

Belakangan ketika ia mengikuti upacara pemakaman kakek kekasihnya, ia dibuat heran. Sejak kecil kekasihnya tinggal bersama kakek, kasih sayang antara kakek dan cucu sangat dalam. Namun, justru dalam suasana seperti itu, dari awal hingga akhir pemakaman, kekasihnya tidak menitikkan air mata setetes pun, bahkan tampak tegar, sehingga membuatnya bingung.

Setelah pemakaman selesai, tak tahan ia bertanya, “Mengapa kamu tidak menangis? Apa kamu tidak merasa sedih?” Kekasihnya menjawab, “Saya sangat sedih, hanya saja laki-laki tidak gampang meneteskan air mata, kami laki-laki sudah terbiasa menyimpan air mata dalam hati.” Ima mengernyitkan dahinya sambil menyanggah, “Tapi kenapa kamu menangis ketika beberapa hari yang lalu kita ribut mau berpisah?”

Dengan raut wajah tegas sang kekasih mengatakan, “Karena kamu, saya baru berani menitikkan air mata. Kelemahan saya hanya diperlihatkan padamu seorang.” Ima merasa sangat terharu setelah mendengar penuturan kekasihnya. Ternyata laki-laki juga bisa menitikkan air mata pada saat tertentu, mereka ingin mencari sebuah lengan penampung yang lembut. Sebaliknya wanita justru hanya bisa meremehkan laki-laki yang suka menangis, sehingga membuat mereka tidak berani dan juga tidak boleh menangis.

Laki-laki hanya menangis dan memperlihatkan kelemahannya di depanmu, itu menandakan dia percaya padamu, dan dia yakin bahwa di depanmu, dia bisa mewujudkan dirinya yang sebenarnya, tidak takut ditertawakan olehmu. Dengan wajah berseri-seri Ima berkata kepadaku. “Saya pikir, lain kali, jika kekasih saya menangis di depanku, saya akan belajar memberinya sebuah pelukan yang damai di hati.”

Sumber:Mingxin net

Sang Penguasa

Seorang Sultan terkena penyakit parah, yang masih belum diketahui namanya. Beberapa dokter dari Yunani yang khusus didatangkan sepakat, bahwa untuk penyakit tersebut tidak ada obat yang cocok, selain empedu dari seseorang yang memiliki pertanda tertentu.

Sang Sultan memerintahkan untuk mencari orang yang dimaksud, dan akhirnya tanda-tanda yang disebutkan ditemukan pada anak kecil, putra seorang petani. Ayah dan ibunya dipanggil dan diberikan banyak hadiah hingga merasa puas. Hakim memberikan pertimbangannya, bahwa diperbolehkan untuk mengorbankan darah seorang bawahan demi mempertahankan nyawa Sultan.

Ketika tiba saatnya algojo memenggal kepalanya, anak tersebut memalingkan wajah ke langit dan tertawa. “Bagaimana kamu dapat tertawa di saat demikian?” Sultan yang menyaksikan bertanya. Anak tersebut menjawab, “Mengasuh anak dengan kasih sayang adalah kewajiban ayah dan ibu; pertimbangan hukum ditujukan ke hakim, dan keadilan dituntut dari seorang penguasa; tetapi sekarang, demi harta duniawi, ayah dan ibu telah menyerahkan saya pada kematian, hal mana juga telah disetujui oleh hakim, sedangkan Sultan melihat keselamatan dirinya dalam kematian saya; selain kepada Tuhan saya sungguh tidak melihat lagi tempat untuk berpaling.”

Hati Sultan sangat tersentuh, sehingga air matanya mengalir. Sultan berkata, “Lebih baik saya mati, daripada menumpahkan darah anak yang tidak berdosa.” Sultan mencium kepala dan mata anak tersebut, memeluknya erat-erat dan memberikan hadiah yang berlimpah serta membiarkan anak tersebut pulang. Di luar dugaan, pada minggu itu juga Sultan sembuh dari penyakitnya.

Disadur dari: “Golestan” (Kebun Mawar) karya Syekh Saadi Syiras, seorang Sufi dari Persia yang hidup di tahun 1213-1292.

26 Juli 2008

Buah Kebaikan Hati Huang Jianji

Ini adalah kisah klasik yang nyata pada masa Dinasti Song, mengenai seorang yang bernama Huang Jianji.

Zhang Yong, seorang menteri dari Dinasti Tang, pernah mengalami mimpi aneh. Beliau melihat sang raja di Istana Ungu dalam mimpinya. Kemudian seorang lainnya muncul. Beliau diberitahu bahwa orang ini adalah seorang anggota pemerintah tingkat rendah dari wilayah Ximen bernama Huang Jianji. Sang Raja datang menuruni tangga menuju ruang depan istana untuk menyambut Huang Jianji dengan sikap yang sangat hormat. Lalu sang raja mempersilakan Huang Jianji duduk di tempat yang lebih tinggi dari Zhang. Saat terbangun dari mimpinya, Zhang terus memikirkan mimpinya itu namun tidak dapat menebak maknanya.

Di hari berikutnya, Zhang bermaksud menyelidiki Ximen dalam upaya mencari Huang Jianji. Beliau sangat terkejut ketika sungguh-sungguh menemukan seorang anggota pemerintah tingkat rendah dengan nama yang sama. Beliau memanggilnya dan sangat terkejut melihat dia benar-benar sama dengan orang yang dilihatnya dalam mimpi. Beliau bertanya pada Huang Jianji, “Apakah Anda pernah melakukan suatu bentuk amal dalam kehidupan? Mengapa sang raja di istana Ungu dalam mimpiku memperlakukan Anda dengan rasa hormat yang tinggi bahkan menempatkan Anda di sebuah tempat di atasku?”

Huang Jianji berpikir sejenak dan menjawab, “Saya tidak mengira telah melakukan amal yang begitu besar. Seandainya saya memikirkan sesuatu, maka pasti ada sesuatu. Saat musim panen tiap tahun, saya selalu membeli kelebihan beras dan gandum yang tidak dapat dijual oleh petani. Selama tahun-tahun itu saat hasil panen buruk serta harga beras dan gandum melangit, saya akan menjual beras dan gandum itu dengan harga yang sangat murah kepada penduduk miskin. Saya tidak mengambil kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Sebagai hasilnya, penduduk di wilayah wewenang saya tidak pernah menderita kelaparan.

Menteri Zhang Yong menarik napas panjang dan berkomentar, “Betapa seorang anggota pemerintah yang patut dipuji. Sungguh ia seharusnya ditempatkan di atasku!” Beliau berjalan ke arah Huang Jianji dan menunduk padanya dengan rasa hormat untuk berterimakasih pada apa yang telah dilakukannya bagi orang-orang. Huang Jianji hidup sampai 100 tahun. Ini adalah sebuah gambaran bahwa manusia dapat mengumpulkan kebajikan dengan melakukan perbuatan amal yang akan membuahkan keberuntungan yang sangat besar.

Terjemahan dari: http://www.pureinsight.org/pi/articles/2005/9/5/3295.html

23 Juli 2008

Upaya Penyelamatan dalam Mimpi

Benarkah mimpi yang kita alami setiap hari itu ada maknanya? Pakar peneliti tidur memberitahu kita, bahwa mimpi itu ada artinya, alam mimpi akan memanifestasikan suasana kehidupan saat itu. Selain itu, tidur bukan saja dapat membantu kita beristirahat. Bahkan dalam pengaruh secara halus dan tak terasa, alam mimpi membantu kita belajar akan arti kehidupan.

Suatu ketika mungkin anda pernah mengalami mimpi yang aneh. Di alam mimpi terus bermunculan bayangan hitam, tidak berdaya melarikan diri di tengah hutan, bahkan pemandangan yang tidak terkait terus bermunculan bagaikan film, pemandangan-pemandangan yang tampak kacau ini, benarkah ada hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari?

Ketika bermimpi, otak besar menangani perasaan, amarah, gelisah, topik seksual, dan lain-lain, hasil penelitian pakar mendapati, bahwa setiap orang rata-rata mengalami lima mimpi saat tidur. Alam mimpi bukan tidak ada maknanya, ia mewakili suasana kehidupan kita saat itu.

Misalnya mimpi ujian di dalam kelas artinya anda sedang menghadapi tantangan besar, mimpi melarikan diri atau terjatuh artinya cemas akan kehilangan kendali atas suatu peristiwa, dengan memahami keadaan anda, mungkin akan dapat membantu anda menangani perasaan.

Memahami suasana dalam mimpi dapat membantu kita menyadari keadaan di sekeliling kita, menyelesaikan konflik dalam kehidupan, ahli terkait menuturkan, bahwa saat tidur, stamina aktivitas otak besar sama seperti di pagi hari, hanya saja tidak ada aktivitas kesadaran.

Bermimpi juga merupakan suatu formulasi pembelajaran, ia dapat membantu kita belajar musik, belajar sepeda dan main catur. Karena itu, jangan lagi mengindahkan tidur anda, bermimpilah yang indah, maka perjalanan hidup anda akan lebih bermakna.

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata dan mengharukan yang terjadi di sebuah kota di Polandia, yang berhubungan dengan mimpi.

Seorang gadis remaja bernama Mayna dan pemuda Laosher saling mencintai, namun, Perang Dunia I memisahkan kedua sejoli ini, Laosher masuk tentara dan pergi ke medan perang. Sejak itu, setiap hari Mayna ke gerbang desa menunggu kekasih tercintanya pulang. Tepat sebulan sebelum perang berakhir, tiba-tiba Mayna bermimpi, ia bermimpi Laosher kekasihnya terjepit oleh sebuah batu besar di sebuah gua yang sempit, meskipun telah berusaha sekuat tenaga, namun tetap saja tidak dapat menyingkirkan batu raksasa itu.

Mayna merasa aneh dengan mimpinya, namun, ia juga tidak dapat menjelaskan mengapa, setiap hari ia masih saja ke gerbang desa dan menunggu, namun tak disangka, pada tahun kedua musim panas ia bemimpi lagi dengan mimpi yang sama. Hanya saja dalam mimpi kali ini tampak sebuah benteng, lintasan pegunungan di benteng terhambat oleh batu raksasa yang ambruk, dan dari dalam benteng itu sayup-sayup terdengar teriakan Laosher minta tolong.

Mimpi kali ini memberi firasat pada Mayna, ia merasa Laosher benar-benar berada dalam benteng, akhirnya ia pun pergi mencari benteng itu. Karena tidak dapat menyebut nama benteng tersebut, ia terpaksa mencari di seluruh negeri tanpa tempat yang pasti, orang-orang menganggap Mayna sudah gila, namun, Mayna berkeyakinan teguh dengan firasatnya.

Suatu hari pada bulan April 1920, Mayna datang di sebuah dusun kecil, tiba-tiba ia mendapati ada sebuah benteng di puncak gunung, persis seperti benteng yang ada dalam mimpinya. Tanpa menghiraukan segalanya lagi, ia berlari ke benteng itu. Warga desa sangat takjub dengan usaha Mayna dan turut serta menuju ke luar reruntuhan benteng di puncak gunung itu. Setelah mendengar cerita Mayna, semua orang datang membantu. Dan diluar dugaan, setelah seharian bekerja keras, muncul keajaiban, ternyata sayup-sayup terdengar teriakan seorang laki-laki dari bawah batu. Dengan bergegas semua orang memindahkan batu dan menyelamatkan orang ini, dan orang tersebut memang benar adalah Laosher!

Ternyata, dalam perang yang berkecamuk Laosher menjadikan benteng sebagai tempat persembunyian, namun, tembakan meriam musuh mengenai benteng, sehingga membuatnya terkubur di dalam gua. Untung saja di dalam gua itu ada sumber air dan bahan makanan, begitulah ia bertahan hidup selama 2 tahun di dalam gua.

Sumber: Tabloid Era Baru No. 5 Tahun Ke-3

20 Juli 2008

Tiada Rasa Takut

Sepanjang manusia hidup di dunia, hampir setiap manusia terlahir memiliki rasa takut. Disamping siklus yang tak terelakkan seperti lahir, tua, sakit dan mati, hal-hal seperti lingkungan hidup yang tidak stabil, ketidakpuasan dalam pengembangan karir dan bahkan binatang-binatang yang tidak menyenangkan seperti ular atau kodok dapat menghasilkan ketakutan.

Tetapi, jika pikiran seseorang telah mencapai tingkat yang tinggi, ia dapat memiliki pikiran yang lurus. Ia akan memandang ringan terhadap masalah hidup mati dan tidak takut apapun. Sejak zaman kuno, banyak pejabat-pejabat yang setia, orang-orang berbudi dan kultivator menjunjung pikiran yang lurus maka tidak takut akan hidup dan mati.

Contohnya, Yue Fei membaktikan dirinya untuk negara dengan pengabdian penuh. Menghadapi hukuman mati yang tidak berdasar, ia tidak mengeluh atau menyesal, malah, ia menegakkan kepalanya dan menghadapi hukuman tersebut dengan jantan. Begitu juga selama periode Tiga Negara, ketika Jenderal Guan Yu kalah dalam pertempuran dan tertangkap musuhnya, menghadapi intimidasi dan godaan-godaan, hatinya teguh bagaikan besi dan batu, ia tidak pernah mengkhianati rajanya.

Pada akhir Dinasti Song, Wen Tianxiang (1236–1283 Setelah Masehi) memimpin pasukan Song mempertahankan negaranya terhadap Mongol. Ia tertangkap dan menulis sajak yang sangat terkenal di penjara, Lagu dari Jiwa yang Lurus, ”Jiwa yang lurus menembus surga dan bumi, meskipun ia dapat kasat mata. Pada tingkat paling bawah, sungai-sungai dan gunung-gunung berada. Pada tingkat paling atas, matahari dan bintang-bintang berada. Ketika ia menetap ke dalam manusia, ia menjadikannya orang berbudi. Ketika jiwa lurus seseorang kuat, ia dapat mencapai alam semesta.”

Di hadapan intimidasi dan tawaran yang menggiurkan, Wen Tianxiang memberitahu Khubilai Khan (1215–1294 SM), pencetus dan kaisar pertama dari Dinasi Yuan, ”Kecuali untuk mati, saya tidak dapat berbuat apapun untuk anda.” Dua baris sajaknya yang paling terkenal yang berjudul Menyeberangi Laut yang Sepi, “Sejak dahulu kala, siapa yang dapat diampuni oleh kematian? Saya akan meninggalkan nama harum dalam sejarah!” Telah membangkitkan kekaguman di hati orang-orang terhormat.

Pada masa sekarang, pengacara Gao Zhisheng dihadapkan pada diktaktor komunis yang jahat, dengan tulus membela orang lain yang dilanggar haknya, termasuk para praktisi Falun Gong. Ia telah menyalakan lampu pengharapan bagi orang miskin dan lemah dengan keberanian yang luar biasa. Keberanian, kebaikan hati serta kejujurannya telah membuat dunia menghormatinya.

Artikel: Guan Ming, www.zhengjian.org

18 Juli 2008

Bunga untuk yang Hidup

Ada seorang penjaga makam yang setiap minggu menerima surat dari seorang wanita yang tak dikenalnya, di dalam surat itu terselip uang, untuk membeli seikat bunga segar untuk diletakkan pada pusara putranya. Hal tersebut berjalan cukup lama hingga akirnya pada suatu hari, penjaga makam ini telah menjumpai wanita tua tersebut. Ia duduk di dalam mobil, si sopir bergegas masuk ke rumah kecil penjaga makam itu, bilang: “Nyonya sakit sampai tidak bisa jalan, silakan anda menemuinya sebentar”. Seorang wanita tua yang lemah duduk di dalam mobil, sedikit anggun, namun sorot matanya sudah meredup karena kesedihan, dalam pangkuannya terletak seikat besar bunga segar.

“Saya adalah Ny. Adam, beberapa tahun ini saya setiap minggu mengirimi anda uang…,” ucap nyonya itu lirih. “Untuk membeli bunga, kan?” kata si penjaga makam nyeletuk. Langsung Ny. Adam mengiyakan, “Betul, untuk putraku”. “Saya setiap kali tidak lupa menaruh bunga, nyonya,” ujar penjaga makam. “Hari ini saya datang sendiri”, kata Ny. Adam lirih. Lalu lanjutnya: “Karena dokter bilang saya sudah tidak bisa hidup dalam beberapa minggu lagi. Mati malah lebih baik, hidup juga tidak berarti. Sekarang saya hanya ingin melihat sekilas putra saya, dan meletakkan sendiri bunga-bunga ini.” Si penjaga makam berkata, “Nyonya, beberapa tahun ini anda selalu kirim uang untuk beli bunga, saya selalu merasa sangat menyayangkan.” Ny. Adam bergumam, “Menyayangkan?” Sedang penjaga makam itu melanjutkan dengan polosnya, “Nyonya, kalau bunga diletakkan di sana, beberapa hari juga sudah kering, tiada orang yang menciumnya, tiada orang yang melihatnya, betul-betul sangat sayang.”

Ny. Adam kaget dibuatnya, “Anda sungguh berpikir demikian?” Si penjaga makam memastikan, “Betul nyonya, mohon mengerti. Saya sendiri sering ke rumah sakit, panti asuhan, orang-orang di sanalah yang menyukai bunga. Di sana semuanya orang hidup, akan tetapi di makam ini mana ada yang hidup?” Wanita tua itu tidak menjawab, dia masih duduk lagi sejenak lantas pergi. Si penjaga makam menyesali perkataannya yang terlalu terus terang, sangat kurang pertimbangan, ia kuatir nyonya yang kehilangan anaknya itu tidak tahan karenanya.

Setelah lewat beberapa bulan, wanita tua ini tiba-tiba datang menjenguknya lagi dengan tampilan yang jauh berbeda, membuat si penjaga makam terperangah. Kali ini dia mengendarai sendiri mobilnya. “Saya memberikan bunga-bunga kepada orang-orang di sana,” katanya dengan ramahnya tersenyum kepada si penjaga makam. Lalu lanjutnya, “Perkataan anda betul, mereka begitu melihat bunga sangat gembira, ini betul-betul membuat saya bersemangat. Penyakit saya telah sembuh, dokter tidak paham apa yang terjadi, tetapi saya sendiri paham betul, saya merasa hidup ini masih ada gunanya.”

Sumber: Dajiyuan Edisi 176

16 Juli 2008

Inspirasi dari Sebuah Ember Bocor

Seorang petani memiliki dua tong ember, setiap hari ia pergi ke sungai menimba air dengan sebuah pikulan. Di antara kedua tong ember itu ada satu yang bocor, karena itu setiap kali saat tiba di rumah, isi ember ini selalu hanya menyisakan separo airnya saja, sedangkan ember air yang satunya lagi selalu penuh isinya. Demikianlah, selama 2 tahun, dari hari ke hari, si petani hanya bisa menimba satu setengah ember air setiap hari dari sungai.

Ember yang sempurna tanpa celah itu sangat bangga dengan dirinya yang utuh sempurna dan tanpa cacat, dan tentu saja ember yang bocor itu merasa sangat malu dengan kekurangan dan ketidakmampuan dirinya dalam melaksanakan tugasnya itu. Setelah 2 tahun mengalami kegagalan itu, suatu ketika di sungai, ember yang pecah itu akhirnya memberanikan diri bertanya pada si majikan: “Saya merasa sangat menyesal, sebab di sebelah saya ini ada lubangnya, bocor di sepanjang jalan, dan hanya bisa memikul setengah ember ke rumah.”

Si petani itu lalu menjawabnya, “Apa kamu telah perhatikan? Di sepanjang jalan sebelahmu itu telah tumbuh banyak bunga, sedangkan di sebelah lainnya tidak ada bunga? Sejak awal saya sebenarnya sudah mengetahui kamu bocor, karena itu di sepanjang jalan sebelahmu itu (yang bocor) saya menaburkan bibit bunga. Dan setiap hari dalam perjalanan menuju ke rumah sambil memikul air itu, kamu telah menyirami mereka. Dan 2 tahun sudah, setiap kali saya melewati pinggir jalan itu memetik bunga segar untuk menghiasi meja makan. Jika bukan dikarenakan kekurangan yang kamu maksudkan itu, lalu bagaimanakah saya bisa mempunyai bunga yang demikian segar dan indah untuk menata dan menghiasi rumah saya?”

Seumpamanya setiap orang dari kita ini adalah ember yang bocor itu, masing-masing pasti memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Seandainya kita menaruh sebuah hati yang lapang, tahu bagaimana mendapati kelebihan atau keistimewaan orang lain, bahkan bisa memanfaatkan kelebihan dan menutupi kekurangan kita. Maka kehidupan kita pasti akan semakin bermakna.

Sumber: Zhengjian.net