23 September 2009

Dihina Tetap Tertawa

Saya pernah membaca sebuah artikel di internet: Ada seorang guru mengajak sekelompok muridnya menumpang bis umum untuk meninjau kehidupan di luar sekolah. Setelah semua muridnya mendapatkan tempat duduk, guru tersebut sudah tidak mendapatkan tempat duduk lagi, maka dia terpaksa berdiri.

Sesampai di pemberhentian berikutnya, ada sekelompok orang yang menaiki bis, diantara penumpang itu ada seorang nenek tua, yang berambut putih wajahnya keriput, seperti orang yang sudah mengalami banyak pahit getir kehidupan, kebetulan dia berdiri di samping guru itu.

Melihat keadaan nenek itu, hati iba guru tersebut muncul begitu saja, dia menyorotkan pandangannya ke tempat duduk khusus. Seorang gadis muda duduk dengan menundukkan kepala sambil memutar-mutar tali tas bawaannya, berpura-pura seperti tidak melihat apa-apa.

Dengan kondisi seperti itu, guru tersebut berpikir untuk menggunakan kesempatan itu untuk mendidik, karenanya dia membuka suara bertanya pada anak didiknya, "Anak-anak sekalian, tempat duduk khusus itu disediakan untuk siapa?" Anak-anak kecil itu menjawab dengan polos, "Tempat duduk khusus itu disediakan untuk orang tua atau orang cacat!" Sambil bertanya guru itu menengok ke arah gadis muda itu untuk melihat reaksinya, dia menemukan bahwa gadis itu bagai tidak mendengar sama sekali, terus memutar-mutar tali tasnya dengan lebih kuat.

Melewati satu pemberhentian lagi, gadis muda itu turun dari bis, setelah turun dari bis guru itu melihat gadis muda itu berjalan dengan terpincang-pincang, kaki kanannya harus membentuk setengah lingkaran baru bisa digerakkan untuk melangkah maju.

Pada saat itu guru itu baru menyadari bahwa gadis muda itu adalah seorang cacat, segera dalam hati guru itu merasakan penyesalan dan sangat malu, dia sangat penasaran sekali ingin turun dari bis untuk menyatakan permintaan maafnya kepada gadis itu, tetapi bis sudah berjalan meninggalkan halte itu. Hati guru itu rasanya seperti disayat, dia berpikir, "Saya tadi sudah melukainya sangat berat!"

Artikel tersebut telah membicarakan sebuah topik yang sangat penting, yaitu ketika kita menuduh orang lain, sebenarnya itu bukanlah berdasar pada kelakuan orang yang dituduh, tetapi atas dasar perkiraan pikiran kita terhadap sikap orang lain yang kita analisa dan simpulkan sendiri. Para psikolog mengategorikan penyebab manusia menyimpulkan orang lain dari sikapnya itu sebagai semacam "kembali pada sebab".

Makna dari "kembali pada sebab" ini, pada umumnya diartikan menghubungkan segala kesalahan dengan sebab permasalahan. Ketika seseorang menemui suatu masalah yang besar, seringkali bisa mendorongnya untuk menyimpulkan sebab dari permasalahan itu.

Guru tersebut telah mengambil kesimpulan sendiri: Gadis muda yang menduduki tempat duduk khusus dan tidak mau mengalah itu, tidak mengerti tata karma, dan sopan santun, maka dari itu ia lalu mempunyai pikiran mengambil kesempatan ini untuk mendidik murid-muridnya.

Sebenarnya bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyimpulkan secara tepat penyebab perilaku orang lain, karena latar belakang kehidupan dari setiap orang itu tidak sama, karena itu siapa pun akan sangat sulit untuk bisa benar-benar memahami orang lain.

Oleh karenanya, di dalam sejarah Tiongkok kemudian timbul suatu kiasan atau ungkapan yang mengatakan sahabat intim seperti Bo Ya dan Zi Qi sangat sulit dicari. Misalnya dalam cerita di atas, karena guru itu sendiri bukan seorang yang cacat, di dalam benak pikirannya sangat sulit memahami tentang konsep orang cacat ataupun perasaan mereka.

Selama dua puluh tahun lebih sebagai seorang pendidik orang cacat, pekerjaan pertama saya sebagai guru pengajar sekaligus sebagai ketua penelitian di SLB, saya juga pernah ke pelosok negeri untuk meneliti pendidikan para tuna rungu. Tetapi sejauh itu, baik dalam pekerjaan maupun penelitian ilmiah yang pernah saya lakukan, saya sama sekali tidak pernah bisa menghayati berbagai macam perasaan yang ada pada diri saya sendiri sampai akhirnya menjadi tuna rungu.

Penderitaan dan kesedihan dari seorang tuna rungu, sungguh sangat sulit untuk diuraikan dengan satu dua patah kata, tetapi sama sekali tidak pernah muncul dalam literatur mana pun. Mengambil beberapa contoh: Sebelum kehilangan pendengaran, malam ketika mau tidur setelah lampu dipadamkan, masih bisa bercengkrama dengan asyik; Setelah kehilangan pendengaran, hanya bisa diam seribu bahasa bertanya kepada yang Kuasa.

Ketika masih sebagai seorang guru pengajar tuna rungu, pernah ada seorang murid yang membawa secarik kertas minta saya membantu dia untuk menelepon, ketika itu dalam hati saya berpikir : Untuk apa? Telepon saja juga harus minta bantuan guru?! Setelah jadi seorang tuna rungu saya baru tahu, karena seorang tuna rungu tidak bisa menelepon, oleh sebab itu teman-teman lama saya satu per satu mulai jauh dari saya, hingga sekarang saya sudah sepenuhnya menjadi manusia yang sama sekali terisolir dari masyarakat.

Pada awalnya sekolah khusus mengajarkan bahasa isyarat sebagai pelajaran utama, orang awam umumnya tidak mengerti bahasa isyarat, seorang tuna rungu hanya bisa berkomunikasi dengan sesama tuna rungu, maka pada saat itu saya berusaha keras di dalam sekolah untuk menjalankan pelatihan komunikasi dengan menggunakan bahasa tulisan.

Setelah saya sendiri kehilangan pendengaran, saya baru tahu : Saya telah berobat ke puluhan dokter ahli, namun jarang sekali ada dokter yang mau menggunakan cara menulis untuk memberitahukan keadaan penyakit saya.

Untuk bisa memahami orang lain adalah hal yang sangat sulit, karena di dalam memahami dunia ataupun diri seseorang kita selalu berlandaskan pada latar belakang kehidupan kita sendiri. Untuk satu hal yang sama, karena latar belakang kehidupan dari setiap orang tidak sama, kesadaran masing-masing orang juga sangat berbeda.

Laozi berkata, "Orang bijak mendengar Tao (= jalan kebenaran), dengan rajin akan dilaksanakan; Orang kebanyakan mendengar Tao, seolah-olah berlatih seolah-olah tidak; Orang bodoh mendengar Tao, akan menertawakan dengan keras, jika tidak ditertawakan bukan merupakan Tao." Perkataan ini merupakan anotase yang paling bagus.

Dalam sekolah taman kanak-kanak, guru menuliskan tanda "+" dipapan tulis, bertanya kepada anak-anak sekolah Mandarin apakah itu? Jawabannya tentunya adalah 10. Jika bertanya kepada anak SD kelas satu atau kelas dua, mereka bisa menjawab tanda tambah. Jika tanya kepada pengikut Kristen jawabannya adalah salib.

Jika bertanya pada sopir, jawabannya pasti persimpangan jalan. Tanya kepada donatur, dia pasti menganggap itu adalah tanpa palang merah. Sebuah tanda "+" yang sama, bisa mempunyai keterangan yang beraneka ragam.

Kecuali sebab ini, semangat dan keinginan yang berbeda terhadap perasaan dan penjabaran benda, juga bisa mempunyai pengertian yang berbeda. Sisa tentara yang baru kalah dari medan perang tentunya bisa mempunyai perasaan panik, rumput dan pohon semuanya nampak seperti tentara musuh.

Manusia yang berhati kotor, tentunya bisa menghidupkan suara dan bayangan, suara tiupan angin dan gerak-an dahan pohon akan dia rasakan bagai tangisan setan dan lolongan serigala.

Situasi yang berbeda, keterangan yang diberikan mungkin bisa berlainan juga. Seorang ayah bertanya kepada bapaknya, "Ayah, menikah itu memerlukan berapa banyak uang?" Anaknya ingin menikah, sedang memperhitungkan biaya perkawinan. Ayahnya menjawab, "Sulit dikatakan, karena hingga saat sekarang ini ayah masih harus membayar akibatnya."

Kebiasaan berpikir juga bisa memilin perasaan, menyebabkan penafsiran yang salah :

Ada dua orang teman saling bercerita tentang keadaan masing-masing...

Si A: "Demi menyenangkan hati isterinya, dia mulai berhenti merokok, minum- minuman keras, juga sudah tidak pergi berjudi lagi."

Si B berkata, "Kalau begitu isteri Anda pasti senang bukan main."

Si A menjawab, "Tidak juga! Dia merasakan sangat jemu, karena dia kehabisan bahan untuk mengomel."

Isteri ini memupuk semacam kebiasaan mencari kesalahan orang lain, dia tidak melihat bahwa suaminya sudah menghentikan banyak kebiasaan buruknya, tidak bisa mengagumi kelebihan dari Mr. Right ini, sebaliknya dia merasakan kejemuan karena "tidak ada kesalahan lagi yang bisa dia cari!"

Dahulu ada seorang pejabat, sangat arogan sekali, sering kali mencari kesalahan bawahannya. Suatu hari, pembantunya menyajikan semangkuk sup sirip ikan yang berkualitas sangat tinggi, pejabat itu melahapnya dengan sangat nikmat sekali, sambil melahap sambil berkata, "Hem, sungguh luar biasa enaknya!"

Ketika itu, setiap bawahannya mengira pejabat itu akan memberi hadiah kepada pembantunya itu, tidak disangka di luar dugaan dia malah menghardik pembantunya itu, "Kurang ajar! Makanan yang begitu enaknya, mengapa hingga sekarang baru Anda sajikan, apakah kamu ingin saya pecat!"

Masih ada, prasangka seseorang terhadap sesuatu juga bisa mempengaruhi penjelasannya terhadap benda atau masalah itu. Misalnya, murid menggunakan buku menutupi diri yang merebahkan kepala untuk tidur di atas meja. Jika murid tersebut tingkah lakunya kurang baik, guru bisa menerangkan kelakuan tersebut sebagai: "Kelihatan buku langsung mengantuk dan tidur! Sungguh seperti kayu rapuh tidak bisa diukir". Jikalau yang tidur itu adalah murid yang berkelakuan sangat baik, guru tersebut akan bisa beranggapan: "Ketika tidur pun masih membaca buku, ia akan mempunyai masa depan yang tidak terbatas!"

Berbagai faktor yang diceritakan di atas menjelaskan: Diantara manusia dan manusia sangat sulit sekali untuk bisa saling memahami, maka atas perilaku setelah balik ke sebab, segala dakwaan yang dilakukan acapkali bisa berubah rupa hingga tidak bisa dikenal lagi.

Sebaliknya, orang yang dituding, yang dikritik itu, ketika menghadapi kritikan orang yang tidak mengerti fakta yang sebenarnya, asalkan mau menelaah ke dalam diri sendiri, tidak merasa malu, mengapa harus mengganjal dalam hati, mencari kerisauan sendiri? Setelah mengerti dengan prinsip ini, "Dihina tetap tertawa sampai ludah di wajah pun mengering dengan sendirinya", maka ini bukan lagi suatu cara pengasuhan diri yang sulit untuk dicapai.

Sumber: www.epochtimes.co.id

04 September 2009

Buku yang Menggetarkan Hati, Langit dan Bumi

Satu-satunya buku di dunia ini yang dapat menggetarkan hati, langit dan bumi hanyalah “Zhuan Falun”. Bagi saya itu adalah suatu kebenaran. Saya dulunya termasuk seorang yang mempunyai hati yang keras, disiplin dan kurang sabar dalam bertoleransi dengan orang lain yang menurut saya kurang pantas diberi hati, karena saking ekstrimnya mungkin jadi sedikit aneh dimata orang lain. Sampai sampai orang tua saya agak kewalahan dalam memahami cara berpikir saya. Meskipun mereka tahu banyak sisi-sisi baik saya yang tidak terdapat pada kebanyakan orang lain, namun kenyataannya itu semua tidak bisa menutupi rasa kekhawatiran mereka terhadap prinsip saya. Saya termasuk tipe yang berpegang teguh pada janji sampai kadang menomor duakan urusan keluarga dan pribadi., selalu berpikir untuk selalu menolong orang lain sampai-sampai diri saya sendiri tidak saya pikirkan, dan selalu menuntut keadilan meski harus bertaruh nyawa sekalipun untuk itu. Ini semua mungkin bebarapa contoh sifat ektrim saya.

Ibu saya dari dulu selalu berharap ada yang bisa membukakan hati saya sehingga saya bisa sedikit lunak dalam menyikapi segala sesuatu dan mau sedikit toleran serta sabar kepada orang lain. Selama ini saya selalu berkutat dengan obsesi saya untuk membuat kehidupan ini sesuai dengan aturan yang benar, bahkan kadang-kadang saya seperti hakim galak dan kejam jika menemukan seseorang bersikap sembarangan dan “semau gue”.

Sejak saya membaca buku Zhuan Falun entah kenapa saya nyaris berubah total dalam memahami kebaikan dan kebenaran selama ini. Dari buku itu saya jadi tahu bahwa apa yang menurut saya benar belum tentu baik, dan apa yang menurut saya baik belum tentu benar. Semua harus punya nilai ukur dalam kebenaran yang sejati, bukan kebenaran yang dibuat benar dengan tolok ukur manusia. Saya bahkan jauh lebih bisa toleran dan sabar dalam mengahadapi perilaku manusia yang kebanyakan sudah menyimpang ini, juga saya menjadi paham tentang arti keikhlasan yang sesungguhnya. Sekarang kehidupan saya terasa lebih indah dan ringan dalam menapaki perjalanan hidup ini.

Sejak saya mengenal buku Zhuan Falun ibu saya pun juga heran dengan perubahan atas sikap dan perilaku yang terjadi pada diri saya. Meski beliau tidak tahu apa yang bisa merubah kepribadian saya secara fundamental tersebut, beliau merasa sangat bersyukur karena telah ada yang membukakan hati saya, begitu kata yang selalu beliau ucapkan..

Setelah saya mengetahui prinsip-prinsip kehidupan dalam buku Zhuan Falun, sayapun sangat antusias menyampaikan kebaikan dari buku tersebut kepada teman-teman saya. Sebagian besar merasakan pula perubahan yang mengarah ke kebaikan. Ada yang menceritakan bahwa dia bahkan menjadi tidak bisa marah lagi sejak baca buku itu, meskipun saya tahu betul bahwa sebelumnya dia adalah tipe orang yang gampang marah dan memaki orang. Ada juga yang biasanya hidup amburadul menjadi orang yang disiplin dan baik kepada orang lain. Bahkan ada yang mendapat kesembuhan dari penyakit menahunnya hanya dengan mambaca buku tersebut. Benar-benar Zhuan Falun adalah sebuah buku yang bisa menggetarkan hati bagi orang yang membacanya, menggetarkan hati manusia menuju ke kebaikan.

Namun begitu ada juga teman saya yang begitu membaca buku Zhuan Falun ini menjadi begitu membecinya, bahkan mencaci dan menghinanya. Saya pun dikatakan sebagai orang yang tidak punya prinsip dan orang yang paling goblok di dunia karena begitu mudahnya saya berubah kepribadian seperti menjadi orang lain dan bukan diri saya yang dulu. Setiap saya telpon dan ketemu hanya lontaran kebencian dan makian yang saya dengar dari mulutnya. Saya hanya dapat mengingatkan padanya. Bukankah saya telah menjadi orang yang sangat baik sekarang? Bahkan untuk menggunjing atau berkata yang tidak bagus pun saya harus berpikir ribuan kali agar tidak sampai saya lakukan, bukankah itu bagus?. Lalu kenapa Anda seperti orang kesetanan begitu mati-matian membencinya? Pernahkah Buku Zhuan Falun ini merugikan atau mengambil keuntungan dari milik Anda? Pernahkan buku ini membenci, menghina ataupun memfitnah orang lain? Lantas kenapa Anda begitu dendamnya seolah-olah pernah ada sangkut paut apa dengan Anda? Semua ini adalah beberapa kalimat yang sempat saya sampaikan kepadanya untuk menjernihkan pikirannya.

Li Hongzhi, penulis buku ini juga pernah mengatakan bahwa siapapun yang membaca buku ini pasti akan tergetar hatinya, baik yang setuju atau yang menentang, maupun yang jahat ataupun yang baik, setiap kebaikan diajarkan pasti akan ditentang oleh yang sesat. Saya jadi berpikir mungkin inilah yang menjadi penyebab mengapa praktisi Falun Gong di China dianiaya oleh pemerintahnya sendiri. Seperti diketahui Falun Gong adalah berasal dari China, tapi kenapa pemerintahnya malah menganiaya rakyatnya sendiri? Ratusan juta rakyatnya dilarang membaca buku Zhuan Falun. Mereka ditangkap dan dipenjara serta diambil organnya hidup-hidup kemudian organ tersebut dijual ke semua Negara yang membutuhkannya. Lantas siapa yang pantas disebut jahat ? Kalau rakyat manjadi baik bukankah saharusnya merasa bersyukur? Tidak ada lagi yang korupsi, tidak ada lagi yang mau berbuat kejahatan, semua orang memperlakukan orang lain dengan baik tidak sewenang-wenang, semua mendapat manfaat peningkatan kwalitas kesehatannya, semua masyarakat kembali mempunyai standar moral yang tinggi, bukankah semua ini bagus?

Sejak Nabi Adam berada di dunia ini, ataupun dalam seluruh sejarah kehidupan manusia, selalu saja kebaikan dimusuhi oleh kejahatan, tapi selalu saja kebaikan membawa kemenangan, inilah yang saya maksud dengan Zhuan Falun menggetarkan langit dan bumi.

Sumber: www.erabaru.net

26 Juli 2009

Duka Si Burung Merak

Suatu ketika di saat sedang bekerja, mendadak seorang teman berkata dengan misterius: “Bagaimana kalau kita lakukan suatu tes psikologi?” “Boleh, katakan saja,” saya merasa aneh dan juga ingin tahu. “Dengarkan baik-baik,” katanya, “ada lima ekor binatang, yaitu harimau, kera, merak, gajah dan anjing. Kamu membawa lima ekor binatang ini, pergi mengeksplorasi hutan primitif yang belum pernah kamu datangi. Lingkungan sekitar sangat berbahaya, sehingga tidak memungkinkan kamu membawa mereka sampai akhir dan terpaksa kamu harus melepaskan mereka satu per satu. Dengan urutan bagaimanakah kamu melepaskan binatang tersebut?”


Berpikir cukup lama lalu saya berkata: “Merak, harimau, anjing, kera dan gajah.” “Ha, ha, ha,…,” temanku tertawa terbahak-bahak, lalu berkata: “Ternyata jawabanmu tidak jauh dari dugaanku, kamu juga melepaskan merak lebih dulu, tahukah kamu merak itu melambangkan apa?” Sang teman menjelaskan padaku: “Merak mewakili suami/istri atau kekasih; harimau mewakili keinginan kuasa dan kekayaan; gajah mewakili orangtua; anjing mewakili teman dan kera mewakili anak.” Jawaban dari pertanyaan ini adalah mencerminkan apa yang pertama akan kamu korbankan di kala kamu menemui kesulitan. Coba kamu lihat sendiri orang macam apakah kamu ini.”


Merak mewakili kekasih? Saya sangat terkejut. Apakah dalam keadaan susah yang pertama saya lepaskan adalah kekasih saya? Benarkah saya termasuk golongan orang macam begitu? Disodori pilihan, mengapa saya pertama melepas merak? Karena saya merasa meraklah yang paling tidak dapat menolong saya bila saya dalam keadaan susah.


Saya tidak setuju dengan penilaian teman ini, maka saya mencari orang lain untuk ikut dalam permainan itu. Sama seperti yang dikatakan oleh teman saya, hampir semua orang selalu melepaskan merak pada urutan pertama. Di saat terakhir saya mengungkapkan jawaban, banyak reaksi orang yang sama dengan saya, bahkan ada pula yang berkata: ”Orang yang menciptakan permainan ini pasti bukan orang normal.”


Pada suatu hari ketika saya menelepon seorang teman, mendadak terpikir soal permainan ini, lalu meminta teman ini untuk menjawab. Teman ini setelah berpikir lama lalu berkata: “Kera, harimau, gajah, anjing, merak.” Saya amat terkejut, dialah satu-satunya orang yang memilih terakhir melepas merak. “Mengapa terakhir melepas merak?” saya bertanya dengan amat terperanjat. Sebaliknya, dia amat kaget dengan pertanyaanku, dan berkata: “Coba kamu pikirkan, di antara lima binatang tersebut, hanya meraklah yang paling tidak mampu menjaga diri sendiri. Bagaimana mungkin saya melepaskannya, membiarkan dia terperangkap sendirian dalam lingkungan yang berbahaya.”


Saya segera mengerti kesedihan saya. Dalam proses menentukan pilihan, kita selalu menuntut apa yang dapat diberikan oleh orang lain terhadap diri kita, tanpa pernah memikirkan apa yang orang lain butuhkan dari diri kita.


Sumber: Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 9

12 Juli 2009

Belajar dari Tumpukan Batu

Setelah tamat dari universitas tidak berapa lama, aku ditugaskan di sebuah kota kecil kawasan hutan terpencil sebagai guru, gajinya sangat kecil. Sebenarnya aku mempunyai kelebihan yang tidak sedikit, keterampilan dasar mengajar cukup baik, dan mempunyai keahlian khusus menulis karangan. Kemudian, di satu sisi aku mengeluh pada takdir yang tidak adil, dan pada sisi lainnya merasa iri dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan terhormat, menerima gaji yang tinggi. Jika demikian, bukan hanya sudah tidak bergairah terhadap pekerjaan, bahkan untuk menulis karangan juga sudah tidak berminat lagi. Seharian penuh, aku terus memperindah karangan, membayangkan bisa mempunyai kesempatan untuk memilih sebuah lingkungan kerja yang baik, dan juga menerima imbalan yang besar.

Begitulah waktu dua tahun telah berlalu dengan cepat, pekerjaan yang kulakukan sendiri tidak keruan, dalam karang-mengarang juga tidak ada hasil apa-apa. Sementara itu, aku telah mencoba memadukan beberapa bagian yang kusukai sendiri, namun pada akhirnya tidak ada satu pun yang menerimaku.

Lalu, muncullah tanpa sengaja sebuah masalah kecil yang sepele, tapi mampu mengubah nasib yang selama ini memang ingin kuubah.

Pada hari itu, sekolah menyelenggarakan pekan olahraga, di kota kecil yang sangat kekurangan aktivitas kebudayaan ini, sudah pasti merupakan suatu hal yang besar, oleh karenanya, orang yang datang untuk melihat sangat banyak. Sekeliling lapangan olahraga yang tidak begitu luas dengan cepat telah membentuk lingkaran tembok manusia hingga angin tak bisa berembus. Aku datang terlambat, berdiri di balik tembok manusia, menjungkitkan kaki juga tidak bisa melihat suasana yang ramai di dalamnya. Pada saat demikian, seorang bocah lelaki pendek yang berada di samping telah menarik perhatianku. Hanya melihat dia sekali demi sekali memindahkan batu bata dari tempat yang tidak jauh, di balik tembok manusia yang tebal itu, dengan sabar membangun sebuah pijakan, setingkat demi setingkat, tak kurang dari setengah meter tingginya. Aku tidak tahu sudah berapa banyak waktu yang digunakannya untuk membangun “panggung” ini, dan juga tidak tahu sudah berapa banyak pertandingan seru yang terlewatkan, namun saat dia naik ke atas pijakan yang dibangunnya, ia mengarah kepadaku sambil tersenyum berseri-seri. Kegirangan dan rasa bangga atas keberhasilan itu, tampak demikian jelas di wajahnya.

Sekilas, hatiku terguncang sejenak, masalah yang demikian sederhananya: “Jika ingin melintasi tembok manusia yang padat untuk dapat melihat pertandingan yang seru, cukup ganjalkan saja batu bata yang agak banyak di bawah kaki.”

Sejak saat itu, dengan penuh semangat aku mulai bekerja dengan sungguh-sungguh, selangkah demi selangkah. Dan dalam waktu yang singkat, aku telah menjadi juru didik terkenal. Berbagai jenis susunan bahan pelajaran terbit terus-menerus, dan berbagai macam kehormatan yang membuat orang iri berturut-turut jatuh ke tanganku. Di waktu luang, aku tidak berhenti menulis karangan, berbagai macam karya sastra kerap kali dimuat di surat kabar, menjadi orang yang secara khusus menyumbangkan karangan ke banyak penerbitan. Kini, aku telah bertugas di sekolah menengah kejuruan dan dimutasi ke tempat yang kusukai sendiri.

Sebenarnya, seseorang yang memiliki cita-cita asal saja tidak takut susah, secara diam-diam “mengganjal batu bata yang agak banyak di bawah kaki sendiri,” maka pasti bisa melihat pemandangan yang ingin dilihat sendiri, memetik buah hasil kesuksesan itu yang digantungkan ke tempat yang tinggi.

Sumber: www.dajiyuan.com

28 Juni 2009

Anda dari Kota Mana

Ada seorang kakek yang sering duduk di bangku dekat suatu pom bensin, dan suka memberi salam kepada orang-orang yang lewat. Suatu hari, cucu perempuannya turut menemani di samping kakeknya.


Saat mereka berdua sedang duduk di situ, datang orang asing (dari luar kota) sedang mencari informasi ingin bertempat tinggal di daerah ini. Orang asing mendekati dan bertanya pada kakek, Bagaimana keadaan di kotakota mana?” ini?” Kakek tua itu balik bertanya, ”Anda datang dari


Orang asing itu menjawab, “Saya tinggal di tempat yang mana orang-orangnya suka mengritik orang dan tetangga pun suka ngobrol tak keruan. Pokoknya daerah itu sangat tidak baik, aku ingin sekali meninggalkan tempat itu.” Kakek yang duduk di kursi berkata pada orang asing itu, ”Aku beritahukan Anda sebetulnya di sini juga hampir sama.”


Tidak lama kemudian, datang sebuah mobil yang terisi penuh sekeluarga berhenti di depan kakek dan cucunya yang sedang duduk. Seorang ibu membawa dua anak kecil turun dan bertanya, “Di mana letak toilet?” Suami ibu tadi juga ikut turun dari mobil, dan bertanya pada kakek, “Baikkah kota ini?”


Kakek tua itu kembali bertanya, “Bagaimana daerah tempat tinggal Anda?” Bapak itu berkata, ”Kota yang saya tempati sangat baik, tetangga-tetangga bersifat baik, suka saling membantu, suka memberi salam, saya juga tidak ingin berpisah dengan daerah itu.” Kakek tua melihat bapak itu dan tersenyum, “Sebetulnya di sini juga hampir sama.” Mereka balik ke mobil dan berterima kasih pada kakek lalu pergi.


Jawaban sang kakek yang mendua, tentu saja membuat cucunya terheran-heran. ”Kek, mengapa kepada orang yang pertama itu kakek bilang tempat ini sangat jelek, sebaliknya kakek memberi tahu orang yang kedua itu bahwa tempat ini sangat baik?” Kakek dengan sabar menjelaskan, ”Walau kamu pindah ke mana pun, kamu akan tetap membawa sifat diri sendiri, tempat itu baik atau tidak, ini semua tergantung diri sendiri.”


Artikel: Lin Ju Ming/Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 6

14 Juni 2009

Mulut yang Arif

Kata-kata yang terucap keluar, air yang terpancar keluar. Lidah tajam melukai orang, melebihi tajamnya mata pisau membuat orang tidak sanggup menahannya. Dongeng maupun petuah orang kuno sudah sering memperingatkan kita, berhati-hati dalam mengucapkan kata, jangan memamerkan kepandaian bicara, terutama memutar balik fakta, merusak nama orang dengan perkataan keji, membuat fitnah mengadu domba, adalah perbuatan yang merusak moral sendiri, perbuatan yang dihindari oleh manusia sejati.


Yang dikatakan oleh orang dulu sebagai memupuk moral dengan berbuat baik, sungguh suatu akal sehat yang bermakna dalam. Terutama adalah memupuk moral dalam berbicara, suatu perbuatan yang tidak mudah. Luwes dalam berbicara, tidak saja mendatangkan harapan dan keyakinan bagi orang lain, juga mencitrakan moral diri sendiri, siapa yang tidak ingin melakukannya.


Yang berbicara tidak mempunyai suatu tujuan, yang mendengar menangkap arti. Suatu perkataan yang awalnya tanpa tujuan, mungkin dapat menghancurkan seseorang, juga mungkin dapat menolong seseorang. Satu patah kata dapat membangkitkan suatu negara, satu patah kata bisa meruntuhkan suatu negara, sudah banyak contohnya sepanjang sejarah. Tetapi dalam masyarakat yang pandir, senantiasa terjadi perbuatan “celaka datang dari mulut,” sehingga kesulitan datang bagai ombak yang menerjang, kesalahan diulang seumur hidup, dikarenakan oleh sebuah mulut yang tidak bermoral!


Prinsip-prinsip demikian, bahkan seorang anak kecil pun tahu. Tetapi, banyak orang yang sudah menghabiskan separuh umurnya pun, masih saja berbuat kesalahan dengan sengaja. Lihatlah media massa yang belakangan ini sering mengetengahkan “kata-kata kasar” yang riuh rendah, apakah pernah terbersit dalam pikiran Anda, bahwa Anda pun melakukan kesalahan yang sama?


Sumber: Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 4

31 Mei 2009

Kisah Menjual Babi Sakit

Gongsun Mu hidup pada masa Dinasti Han Timur. Ketika dia masih muda, keluarganya sangat miskin. Dia sangat ambisius, bekerja keras dan belajar puisi Han. Pada musim semi dan gugur, ia belajar dengan tekun kita-kitab kuno seperti Hetu dan Loushu, terutama cara meramal masa akan datang. Dia juga dikenal sebagai seorang yang jujur dan baik, sehingga disegani orang lain.


Gongsun Mu memelihara babi. Ketika salah satu ekor babinya sakit, Gongsun Mu meminta seseorang untuk menjual babi itu di pasar. Gongsun Mu berkata kepada orang tersebut, ”Jika babi itu ada yang berminat, kamu harus memberitahukan pembelinya kalau babi ini sakit, dan kamu harus menjualnya dengan harga yang murah dan pantas. Jangan menipu orang dan meminta harga yang tinggi.”


Saat menawarkan babi, orang tersebut tidak memberitahu pembeli bahwa babi itu sakit dan babi itu dijual dengan harga yang sangat tinggi. Setelah mengetahui kejadian ini, Gongsun Mu segera pergi ke pasar dan mencari pembelinya. Dia memberitahu kepada pembeli itu, ”Babi ini sebenarnya sakit. Saya ingin menjualnya dengan harga rendah. Saya tidak menyangka orang tersebut menjual babi tersebut dengan harga tinggi.” Kemudian dia mengembalikan separuh uang kepada pembeli itu.


Sementera itu, ada seorang kaya raya yang bernama Wang Zhong. Dia berkata kepada Gongsun Mu, ”Kamu dapat melakukan hal-hal yang hebat kalau kamu mempunyai uang. Saya ingin memberi kamu satu juta koin untuk berbisnis. Apa pendapatmu?” Gongsun Mu telah belajar kitab Hetu, Luoshu dan buku-buku kultivasi lainnya. Dia mengerti hukum langit dan takdir pertemuan. Dia berkata, ”Saya sangat menghargai kebaikanmu! Menjadi kaya atau miskin adalah keputusan langit. Saya akan mendapatkannya jika itu ada dalam kehidupan saya. Saya tidak boleh menerima!”


Karena Gongsun Mu mempunyai kebajikan dan kebijakan, dia direkomendasikan mempunyai “Xiao Lian.” “Xiao Lian” adalah salah satu kriteria untuk menyeleksi pejabat. Xiao bermakna penghormatan dan kasih sayang orangtua; Lian bermakna tidak dapat disuapi. Peraturan dari Pengadilan Kaisar menyatakan bahwa orang yang tidak mempunyai sifat Xiao dan Lian tidak memenuhi syarat menduduki posisi sebagai seorang pejabat.


Sejak itulah Gongsun Mu diangkat sebagai pejabat setelah lulus ujian seleksi. Ketika sebagai seorang pejabat, pencapaiannya menjadi pembicaraan dan dia sangat terkenal karena kebaikannya. Begitu juga kelima anak laki-lakinya terkenal karena kebaikan mereka. Cerita “Gongsun Mu Menjual Babi” menjadi contoh moral selama beberapa ribu tahun dan cerita tersebut membawa sanjungan terhadap kejujuran dan integritas.


Artikel: Qing Yan, www.minghui.ca