Kerajaan Zhongshan adalah sebuah kerajaan kecil pada jaman peperangan antar negara Tiongkok. Suatu ketika, raja mengundang semua perwira-perwira terkenal di ibukota untuk makan malam, dan Sima Ziqi adalah salah satu tamu yang diundang. Karena Sima satu-satunya perwira yang tidak dihidangkan kue yang terbuat dari susu domba, ia menjadi sangat marah. Ia pergi ke kerajaan Chu dan membujuk raja Chu untuk menyerang Zhongshan.
Akhirnya kerajaan Chu melancarkan serangan terhadap Zhongshan, dan raja Zhongshan kabur. Raja Zhongshan kemudian memperhatikan ada dua orang bersenjata yang membuntutinya. Baginda bertanya kepada mereka, ”Mengapa Anda membuntuti saya?” Mereka menjawab, ”Ayah kami pernah hampir meninggal karena kelaparan. Anda memberinya semangkuk makanan. Ayah kami memberitahu kami, ”Jika raja sampai menghadapi bahaya, kalian harus mempertaruhkan nyawa untuknya.” Maka, kami datang kemari untuk mati demi yang mulia.”
Memandangi langit, raja menghela napas dan berkata, ”Memberi tidak ditentukan oleh seberapa besar atau kecil, tetapi berdasarkan kebutuhan. Kebencian tidak ditentukan oleh seberapa dalam atau dangkalnya, tetapi berdasarkan seberapa terlukanya orang tersebut. Saya kehilangan kerajaan karena kue dari susu domba, dan memperoleh dua pejuang dari semangkuk makanan.” Karena kelalaian atau kurangnya perhatian, sepotong kue menyebabkan raja kehilangan kerajaannya.
Melalui kejadian ini, kita dapat memahami bahwa perkara-perkara besar atau kecil, dan kata-kata, kuat atau lemah, keduanya dapat melukai orang. Karena itu kita mesti hati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita perbuat sehari-harinya. Perbuatan baik yang kecil bagaikan bara hangat di salju untuk orang yang membutuhkannya. Maka kita, jangan pernah meremehkan perbuatan baik yang kecil, namun jangan melakukan perbuatan buruk sekecil apa pun.
Zhang Weiyan adalah seorang pria dari daerah Jiangyin di masa Dinasti Ming (1368 – 1644 SM). Ia adalah seorang yang senang belajar dan sangat berbakat dalam menulis puisi dan prosa. Sebenarnya, ia memiliki reputasi yang baik di antara sastrawan dan pelajar pada masanya. Namun, ia tidak lulus ujian dinas perdata tingkat provinsi saat ia mengikuti ujian yang pertama kali di Nanjing. Ketika ia tidak menemukan namanya dalam daftar kelulusan, ia menumpahkan kemarahannya dan berteriak bahwa si pemeriksa pasti telah buta.
Seorang Taois yang berdiri di dekatnya dengan sebuah senyum memperhatikan tingkah Zhang Weiyan. Zhang lalu melampiaskan kemarahannya kepada Sang Taois. Sang Taois berkata, “Artikel yang anda tulis dalam ujian pastilah buruk.” Zhang menjadi makin marah. Ia berteriak pada Sang Taois, “Kamu bahkan belum melihat artikelku. Bagaimana bisa kamu tahu kalau buruk?” Sang Taois menjawab, “Saya mendengar bahwa seseorang harus memiliki hati yang tenang untuk menulis sebuah artikel yang baik. Sekarang saya melihat Anda memaki-maki si pemeriksa dan mengeluh terus, ini jelas Anda dipenuhi dengan kemarahan. Bagaimana Anda dapat menulis sebuah artikel yang baik?”
Zhang Weiyan segera menyadari, apa yang dikatakan Sang Taois itu benar, maka dengan rendah hati ia meminta saran. Sang Taois berkata, “Berhasil tidaknya Anda menempuh ujian bukan ditentukan dari nasib Anda. Anda harus mengubah diri sendiri.” Lantas, Zhang bertanya, “Jika tidak ditentukan oleh nasib, bagaimana mungkin saya mengubah nasib?” Sang Taois pun menjawab, “Surga yang menciptakan hidup Anda, namun Anda yang menentukan nasib Anda dengan amal perbuatan Anda. Selama Anda berusaha semaksimal mungkin berbuat baik mengumpulkan kebijakan, keberuntungan apa yang tidak akan Anda dapat?”
Belum juga memahami perkataan Sang Taois. Zhang Weiyan bertanya, “Saya adalah seorang berpendidikan yang miskin. Saya tidak memiliki kemampuan dalam hal keuangan untuk melakukan kegiatan amal.”
Sang Taois berkata, “Melakukan perbuatan baik dan mengumpulkan kebijakan keduanya datang dari hati Anda. Selama Anda secara konsekuen melabuhkan harapan ini di dalam hati Anda untuk melakukan perbuatan baik dan mengumpulkan kebijakan, Anda sedang mengumpulkan kebijakan yang tak terhingga. Marilah mengambil kerendahan hati sebagai contoh. Tidak akan merugikan Anda untuk menjadi rendah hati. Mengapa Anda tidak memeriksa diri sendiri untuk melihat apakah Anda telah cukup belajar? Mengapa Anda tidak belajar dari pengalaman ini? Sebaliknya mengapa Anda menuduh si pemeriksa berlaku tidak adil?”
Setelah percakapan dengan Sang Taois, Zhang Weiyan mulai menyingkirkan kesombongannya selama ini. Ia pun lebih berhati-hati setiap saat agar tidak lagi tersesat. Ia berusaha keras untuk mengkultivasi kebaikannya dan melakukan perbuatan baik setiap hari.
Tiga tahun kemudian, Zhang Weiyan bermimpi pergi ke sebuah rumah yang berlokasi di dataran tinggi. Ia melihat sebuah buku yang menuliskan nama-nama orang yang telah lulus ujian dinas perdata. Namun terdapat banyak baris kosong tanpa nama. Ia tidak mengerti mengapa baris-baris itu kosong, maka ia bertanya pada seorang lelaki di dekatnya, “Apa ini?” Lelaki itu menjawab, “Seluruh peserta ujian dievaluasi setiap tiga tahun. Hanya peserta ujian yang telah mengumpulkan banyak kebijakan dan tidak melakukan kesalahan moral akan ditambahkan ke dalam buku ini. Seluruh baris kosong ini ditujukan pada semua orang yang sebenarnya lulus ujian dinas perdata. Namun, mereka akhir-akhir ini melakukan dosa. Konsekuensinya, nama-nama mereka kemudian dihapus dalam buku ini.” Kemudian lelaki tersebut menunjuk pada satu baris kosong, “Selama tiga tahun ini, Anda telah berhati-hati tidak melakukan dosa apapun. Mungkin inilah waktunya untuk mengisi baris kosong dengan nama Anda. Saya harap Anda akan menghargai apa yang telah Anda peroleh dan tidak lagi berbuat kesalahan!”
Zhang Weiyan sungguh-sungguh telah lulus ujian dinas perdata tahun itu di urutan ke 105. Ujian dinas perdata selalu diadakan setiap tiga tahun sekali di Tiongkok.
Zhu Yongchun (1617-1688) adalah seorang filsuf China yang terkenal. Beliau menulis 506 kata petuah sebagai saran kepada penerusnya. Beberapa kalimat dari petuah tersebut menjadi paling banyak diulang dan dipelajari. Dia berkata “untuk setiap mangkukyang kamu minum atau setiap butir nasi yang kamu makan, kamu harus ingat seberapa sulit bagi petani untuk menghasilkannya. Untuk setiap helai sutra yang kamu pakai dan setiap benang yang kamu gunakan, kamu harus ingat seberapa sulit orang bekerja untuk membuatnya.” Secara terus-menerus mempertahankan sifat bersyukur di dalam hati kita adalah bagian dari De (substansi putih), dan dasar dari syarat untuk menjadi seorang manusia. Orang yang bahagia akan hidupnya mengerti rasa bersyukur. Ketika seorang dapat merasa bersyukur terhadap bunga, sebatang rumput, gunung dan sebuah genangan air, hidupnya pastilah kaya dan bahagia.
Ada kisah seorang bernama Mr. Stevens, ia tinggal di sebuah kota di Amerika. Dia adalah seorang programmer dan bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak selama 8 tahun. Dia selalu merasa bahwa dia dapat menyelesaikan kariernya di perusahaan itu sampai pensiun. Tetapi secara tiba-tiba perusahaan tersebut bangkrut. Anak ketiganya baru saja lahir dan dia harus segera mencari pekerjaan. Akan tetapi setelah sebulan mencari kerja, dia belum dapat menemukan sebuah pekerjaan. Dia tidak mempunyai keahlian lain selain menjadi seorang programmer.
Akhirnya dia menemukan sebuah perusahaan software yang sedang mencari seorang programmer di surat kabar. Banyak orang telah melamar untuk posisi yang sama, dan persaingan sangat tajam. Setelah melewati wawancara pertamanya, perusahaan itu menyuruhnya untuk mengikuti ujian tertulis seminggu setelahnya. Dengan pengetahuan spesialis-nya, dia melewati ujian tertulis dengan mudah. Dua hari kemudian, dia pergi untuk wawancara selanjutnya. Pada saat dia berangkat, dia sangat yakin bahwa dia dapat melakukannya dengan baik karena bagaimanapun dia adalah seorang programmer yang handal. Akan tetapi pada saat wawancara kerja tersebut, pihak pewawancara tidak menanyakan mengenai pertanyaan teknis. Akan tetapi, mereka bertanya tentang ke manakah arah industri perangkat lunak ini akan berkembang. Dia belum pernah berpikir mendapat pertanyaan seperti itu sebelumnya, dan tidak mempunyai sebuah jawaban yang bagus. Beberapa hari kemudian, dia diberitahu kalau dia tidak mendapatkan pekerjaan tersebut.
Meskipun dia tidak mendapatkan pekerjaan tersebut, Mr. Stevens berpikir bahwa dia telah belajar banyak selama proses wawancara kerja tersebut. Dia memutuskan menulis surat untuk menunjukkan penghargaannya. Dia menulis sebuah surat yang panjang kepada perusahaan tersebut. Dia berkata, “Saya ingin berterima kasih untuk tenaga dan sumber daya lainnya yang telah dipergunakan untuk memberikan kepada saya kesempatan berpartisipasi dalam ujian tertulis dan wawancara. Meskipun saya tidak diterima, melalui proses lamaran kerja ini, saya telah belajar hal-hal baru mengenai industri perangkat lunak. Terima kasih atas segala kerja yang telah kalian lakukan untuk lamaran kerja saya. Sekali lagi terima kasih.”
Perusahaan ini belum pernah menerima surat seperti ini sebelumnya dari seorang pelamar kerja yang tidak diterima. Surat ini disampaikan ke berjenjang-jenjang pemimpin perusahaan tersebut, dan akhirnya sampai ke meja dari presiden perusahaan tersebut. Setelah dia membaca surat tersebut. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi menyimpan surat tersebut dalam laci kerjanya
Tiga bulan kemudian, pada saat hari Natal, Mr. Stevens menerima kartu yang indah, sebuah kartu selamat tahun baru. Kartu tersebut dikirimkan oleh perusahaan perangkat lunak di mana Mr. Stevens mengirimkan surat ucapan terima kasihnya. Dalam kartu itu tertulis “Mr.Stevens, kami ingin mengundang Anda untuk merayakan liburan tahun baru bersama kami”. Akhirnya, ketika perusahaan tersebut mencari tenaga kerja baru, presiden dari perusahaan tersebut dengan cepat langsung berpikir kepada Mr. Stevens karena suratnya tersebut.
Perusahaan perangkat lunak tersebut ialah Microsoft Corporation. Setelah bekerja di perusahan tersebut lebih dari 12 tahun, karier Mr. Stevens melejit ke posisi wakil presiden perusahaan.
Meskipun semua orang mengetahui mengenai rasa bersyukur dan berterima kasih adalah sebuah kualitas moral, baik pada masyarakat yang dipenuhi dengankeuntungan materi, dalam sebuah lingkungan di mana kita percaya bahwa uang dapat berbuat segalanya, kita lupa akan rasa bersyukur. Ketika kita bisa melihat segala dengan rasa berterima kasih dan bersyukur, meski ketika kita mengalami kegagalan, hidup ini akan tetap indah dan menyenangkan. Bersyukur adalah rasa yang dalam, dia dapat menguatkan karakter seseorang. Bersyukur adalah awal dari kebahagiaan dan juga puncak dari keberhasilan. Karena dengan bersyukur kita menghargai hubungan yang telah ditakdirkan dan keberuntungan baik. Secara terus menerus mempertahankan rasa syukur akan memberikan keuntungan terbesar tidak saja kepada orang lain, tetapi kepada diri kita sendiri.
Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar. Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal-hal kecil dalam rumah tangga.
Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah itu beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun. Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas.
Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu. Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, “Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya. Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia…”
Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah, “Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu.” Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak perlu kagum, kamu juga bisa.”
Ayah berkata lagi, “Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah, waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu.”
Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, “Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?” Ayah hanya tertawa dan berkata, “Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain… ha… ha… ha…”
Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia dari kebahagiaan suatu pernikahan : Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain.
Ada seorang putra pengrajin keranjang di negeri Belanda, setelah lulus dari sekolah menengah, dia memutuskan untuk pergi ke kota kecil terdekat, Delft, untuk melamar pekerjaan di kantor pemerintahan daerah sebagai pengawas. Pemuda ini bekerja dalam bidang yang sama selama lebih dari 6 tahun. Pemuda ini malah memilih menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk bekerja keras mengasah lensa sebagai suatu hobi. Karena kegemarannya ini, dia terus saja mengasah dan mengasah lensa selama 6 tahun. Dia begitu asyik dengan pekerjaan ini, dan melakukannya dengan tekun serta teliti. Lama-kelamaan keahliannya dibidang ini telah melampaui para ahli lainnya. Pembesaran yang dihasilkan oleh lensa hasil ciptaannya melebihi buatan para ahli lainnya. Dikarenakan pekerjaan ini pula, dia menemukan jenis dunia baru, dunia mikroorganisme. Untuk selanjutnya, laporan hasil penelitian ini telah menggemparkan dunia. Meskipun dia hanya mengenyam pendidikan sekolah menengah saja, pemuda ini terpilih sebagai seorang akademisi oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Paris. Ratu Inggris bahkan pergi mengunjunginya di kota kecil itu.
Ini adalah sekelumit kisah Antonie van Leeuwenhoek (1632-1732), Bapak Mikrobiologi, yang menjadi ahli terkemuka pada bidang lensa pembesar mikroskop, juga pionir dalam bidang mikrobiologi. Ketelitiannya dalam mengasah setiap lensa dan pengabdian seluruh hidupnya untuk mengerjakan setiap detail yang membosankan bagi orang kebanyakan. Antonie telah menciptakan terobosan ilmu pengetahuan dari pekerjaan detailnya dan membangun sebuah pemandangan yang sangat luas.
Anak muda zaman sekarang seringkali resah berusaha untuk meraih berbagai macam gelar. Mereka tidak begitu lama menekuni dan mendalami hal yang mereka sedang lakukan, dan seringkali malah ingin mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Akan tetapi dapatkah selalu demikian? Setiap bunga memiliki dunianya sendiri dan setiap butir pasir memiliki alamnya sendiri. Lantas yang patut kita renungkan, dapatkah Anda melakukan setiap pekerjaan kecil/remeh dikerjakan dengan kesungguhan hati?
Walaupun banyak orang telah mengetahui bahwa kehormatan dan keuntungan hanyalah ‘hiasan’ hidup belaka, tapi sangat sedikit orang yang dapat terhindar dari jebakannya. Ada yang seumur hidupnya bekerja keras demi kehormatan dan keuntungan, bahkan ada yang hidup demi hal itu.
Seseorang jika tidak dapat memandang hambar pada kehormatan dan keuntungan, maka dia tidak akan bisa mempertahankan kemurnian dari lubuk hatinya. Seumur hidupnya akan seperti “Kua Fu Mengejar Matahari.” Melihat matahari bersinar ke segala penjuru, tapi dia selamanya juga tidak bisa melacak keberadaannya. Pada akhirnya hanyalah keletihan dan kegagalan yang tanpa batas yang akan didapatkan.
Sebenarnya jika dengan hati jernih mengamati dunia materi ini, walaupun tidak sepenuh hati dan tenaga untuk mengejar, sinar matahari juga tetap akan seperti sediakala menerangi tubuh kita.
Ilmuwan yang paling ternama di dunia, Albert Einstein dan Madam Curie, telah menganggap hambar terhadap kehormatan, kekayaan dan kemakmuran yang dikejar-kejar oleh kebanyakan orang. Oleh sebab itu, banyak orang memberi pujian kepada mereka.
Walaupun dia adalah seorang ilmuwan yang bertaraf internasional, tapi Einstein mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebagai pengecualian, selain pengetahuan, tidak ada hal lain yang bisa membuatnya senang ataupun benci secara berlebihan.
Ketika Einstein dalam perjalanan tamasya laut, kapten kapal pesiar yang ditumpanginya,memperlakukan Einstein secara khusus. Sengaja telah menyediakan kamar paling mewah dalam kapal itu untuknya, akan tetapi di luar dugaan ditolak oleh Einstein. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak ada perbedaan dengan orang lain, maka dia tidak mau menerima perlakuan khusus tersebut.
Rendah hati, jujur dan berterus terang adalah sifat Einstein yang telah membuat kebanyakan orang mengagumi dirinya dengan setulus hati.
Setelah Marie Curie (Maria Sklodowska-Curie, ahli fisika dan kimia serta peraih Nobel dari Polandia) menemukan Ra (Radium, salah satu unsur atom yang mengandung radioaktif tinggi), surat dari segala penjuru dunia datang untuk bertanya, mereka berharap agar bisa mengetahui cara mengekstrak materi tersebut.
Piere Curie, suaminya, berkata dengan tenang, “Kita harus memutuskan untuk memilih salah satu pilihan dari dua macam cara yang ada. Pilihan pertama adalah mengumumkan hasil penelitian secara terbuka, termasuk penjelasan bagaimana cara mengekstrak.” Marie Curie mengacungkan tangannya sebagai tanda setuju dan berkata, “Ya, tentunya harus begitu.”
Lalu Piere Curie melanjutkan perkataannya, “Pilihan kedua adalah kita harus memposisikan diri kita sebagai pemilik dan pencipta Ra (radium). Tapi kita harus mendapatkan sertifikat hak paten dari teknik mengekstrak tambang uranium dulu, dan memastikan hak yang kita miliki dalam pengusaha Ra seluruh dunia.”
Mendapatkan hak paten berarti mereka akan mendapatkan uang dalam jumlah besar, kenyamanan di dalam hidup, masih bisa menurunkan harta warisan kepada anak cucu. Tapi Marie Curie setelah mendengar perkataan itu dia dengan teguh menjawab, “Kita tidak akan berbuat demikian. Jika kita melakukan hal ini akan melanggar maksud kita semula melakukan penelitian ilmiah.”
Dengan mudah dia telah melepaskan kehormatan dan keuntungan yang berada di depan mata. Sikap hidup yang demikian, membuat semua orang bisa merasakan kelapangan dadanya yang sangat luar biasa. Seumur hidupnya dia telah mendapatkan berbagai jenis medali sebanyak 16 buah, berbagai macam gelar kehormatan sebanyak 117, dia sendiri sama sekali tidak menanggapi.
Suatu hari, ada seorang teman wanita datang bertamu ke rumahnya, ia melihat anak perempuan kecil Marie sedang membuat mainan medali emas yang baru saja diperoleh Marie dari himpunan ilmiah kerajaan Inggris. Wanita itu sangat terkejut, dia lalu bertanya, “Marie, medali itu adalah kehormatanmu yang sangat tinggi, bagaimana bisa kamu berikan kepada anak kecil untuk dibuat mainan?”
Dengan tertawa-tawa Marie Curie menjawab: “Saya menginginkan anak saya sejak kecil sudah mengerti bahwa kehormatan itu seperti halnya sebuah mainan, hanya bisa dipakai untuk permainan, kita tidak akan bisa menjaga benda-benda itu selamanya. Jika tidak, demikian tidak akan ada satupun usaha yang bisa berhasil kita capai.”
Kelapangan dada yang luar biasa dari dua orang pakar ilmu pengetahuan yang telah meninggalkan sebuah cermin terang bagi orang awam yang mati-matian mengejar kehormatan dan keuntungan.
Jika hati seseorang memiliki jiwa yang murni, di dalam pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan dia telah menumpahkan seluruh tenaganya, prestasi yang telah dia capai otomatis bisa menonjol keluar, dia sudah selayaknya dan sepantasnya akan mendapatkan kehormatan dalam dunia yang sudah seharusnya didapatkan.
Memandang hambar kehormatan dan keuntungan, tanpa memohon akan mendapatkan sendiri merupakan titik awal jalan menuju kesuksesan bagi seseorang.
Di Spanyol ada seorang pelukis termashyur bernama Bartolomé Esteban Murillo (tahun 1618 – 1682). Dia seringkali mendapati di atas kain kanvas muridnya, selalu ada sketsa yang masih belum selesai. Gambarannya sangat serasi, sentuhannya amat kaya dan berbakat. Namun sketsa-sketsa tersebut biasanya ditinggalkan pada tengah malam, sementara tidak tahu siapakah yangmembuatnya.
Pada suatu pagi, murid-murid Murillo berdatangan ke studio lukis, mereka berkerumun di depan sebuah tiang penyangga lukisan, dengan perasaan yang tak tertahankan mereka mengeluarkan pujian. Di atas kain kanvas terlukis sebuah lukisan, bagian kepala Bunda Maria yang masih belum selesai, goresan garis yang sangat indah, konturnya sangat jelas, gaya goresannya sangat luar biasa.
Setelah melihat sketsa itu, Murillo merasa takjub. Satu persatu murid-muridnya ditanyai, ingin tahu siapa sebenarnya sang pelaku, tetapi semua muridnya dengan menyesal menggelengkan kepala. Murillo mengeluh seraya memuji, ”Orang yang meninggalkan lukisan ini suatu hari kelak bakal menjadi guru besar bagi kita semua.”
Kemudian dia menoleh dan bertanya kepada budak muda yang sedang bergemetaran berdiri di sampingnya, ”Sebastian, siapa yang tinggal di sini pada malam hari?”“Tuan, tidak ada orang lain... kecuali saya.”
“Kalau begitu baik, malam ini kamu harus ekstra perhatian, jika orang misterius ini datang lagi berkunjung dan kamu tidak memberitahukan saya, maka besok kamu akan saya hukum 30 cambukan.” Sebastian membungkukkan badan perlahan, kemudian mundur dengan patuh dan hormat.
Malam hari itu, Sebastian menggelar kasur di depan tiang penyangga lukisan dan tidur dengan nyenyak. Keesokan subuh ketika lonceng berbunyi tiga kali, tiba-tiba dia melompat bangun dari kasur, dan berkata pada diri sendiri, ”Tiga jam ini untuk saya, sisanya semua milik guru pembimbing saya.”
Dia memegang kuas lukis dan duduk di depan tiang penyangga lukisannya, siap untuk menghapus karya yang dia buat semalam. Tangan Sebastian memegang kuas, ketika kuasnya akan menyentuh lukisan itu….mendadak diam terpaku. Dia berseru, ”Tidak! Saya tidak bisa! Mutlak tidak akan saya hapus, biarkan saya menyelesaikan lukisan ini!”
Kemudian dalam sekejap dia telah memasuki alam lukisannya, membubuhi sketsanya denganwarna, sebentar-sebentar dia menambahkan beberapa goresan, lalu dipadukan dengan warna yang serasi dan lembut. Tidak terasa waktu 3 jam telah berlalu, ada suara ringan telah mengusik Sebastian, ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat, Murillo dan para muridnya diam-diam berdiri di sekelilingnya! Cahaya fajar menembus jendela masuk ke dalam ruangan, api lilin masih menyala.
Hari sudah terang, Sebastian masih tetap adalah seorang budak. Pandangan dari semua orang tertuju pada Sebastian, menampakkan ekspresi yang hangat. Dengan sorot mata yang terlihat sedih, Sebastian menatap ke bawah,menundukkan kepala.
Murillo bertanya kepadanya, ”Sebastian siapakah guru pembimbingmu?”
“Adalah Anda, Tuan”
“Yang saya tanyakan adalah siapa guru pembimbing melukismu.”
“Adalah Anda, Tuan.”
“Tetapi saya tidak pernah sekalipun mengajarimu.”
“Betul, tetapi di saat Anda sedang mengajar, saya selalu mendengarkannya.”
“Oh, saya mengerti sekarang, hasil karyamu itu sangat luar biasa!”
Murillo membalikkan badan dan bertanya kepada para muridnya, ”Dia ini seharusnya menerima hukuman atau mendapatkan hadiah?”
“Hadiah, Guru,” para murid itu menjawab dengan cepat.
“Lalu hadiah apakah yang pantas diberikan kepadanya?”
Ada yang mengusulkan memberi satu stel pakaian, ada yang bilang berikan sejumlah uang, kesemuanya ini tak ada satupun yang bisa menggerakkan hati Sebastian. Kemudian ada seorang murid berkata, ”Hari ini hati guru sedang gembira, Sebastian mohonlah untuk kebebasanmu.”
Sebastian mengangkat wajahnya memandang Murillo, ”Tuan, mohon Anda sudi membebaskan ayahku.”
Mendengar perkataan ini, Murillo sangat terharu, dengan perasaan kasih yang mendalam, dia berkata, ”Goresan lukisanmu menunjukkan bakatmu yang luar biasa. Permohonanmu menandakan dirimu memiliki hati yang baik. Mulai sekarang kamu bukan lagi seorang budak dan saya akan mengangkatmu menjadi anak saya…bolehkah? Oh, betapa beruntungnya dirimu Murillo, diluar dugaan telah mendidik seorang pelukis yang luar biasa!”
Hingga saat ini, di antara lukisan-lukisan ternama yang tersimpan di Italia, kita masih bisa menyaksikan banyak sekali karya-karya indah yang digoreskan oleh Murillo dan Sebastian.