05 April 2009

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar. Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal-hal kecil dalam rumah tangga.


Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah itu beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun. Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas.


Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu. Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, “Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya. Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia…”


Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah, “Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu.” Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak perlu kagum, kamu juga bisa.”


Ayah berkata lagi, “Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah, waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu.”


Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, “Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?” Ayah hanya tertawa dan berkata, “Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain… ha… ha… ha…”


Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia dari kebahagiaan suatu pernikahan : Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain.


Sumber: Zhao Qing/The Epoctimes

22 Maret 2009

Mengasah Lensa Selama Hidupnya

Ada seorang putra pengrajin keranjang di negeri Belanda, setelah lulus dari sekolah menengah, dia memutuskan untuk pergi ke kota kecil terdekat, Delft, untuk melamar pekerjaan di kantor pemerintahan daerah sebagai pengawas. Pemuda ini bekerja dalam bidang yang sama selama lebih dari 6 tahun. Pemuda ini malah memilih menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk bekerja keras mengasah lensa sebagai suatu hobi. Karena kegemarannya ini, dia terus saja mengasah dan mengasah lensa selama 6 tahun. Dia begitu asyik dengan pekerjaan ini, dan melakukannya dengan tekun serta teliti. Lama-kelamaan keahliannya dibidang ini telah melampaui para ahli lainnya. Pembesaran yang dihasilkan oleh lensa hasil ciptaannya melebihi buatan para ahli lainnya. Dikarenakan pekerjaan ini pula, dia menemukan jenis dunia baru, dunia mikroorganisme. Untuk selanjutnya, laporan hasil penelitian ini telah menggemparkan dunia. Meskipun dia hanya mengenyam pendidikan sekolah menengah saja, pemuda ini terpilih sebagai seorang akademisi oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Paris. Ratu Inggris bahkan pergi mengunjunginya di kota kecil itu.


Ini adalah sekelumit kisah Antonie van Leeuwenhoek (1632-1732), Bapak Mikrobiologi, yang menjadi ahli terkemuka pada bidang lensa pembesar mikroskop, juga pionir dalam bidang mikrobiologi. Ketelitiannya dalam mengasah setiap lensa dan pengabdian seluruh hidupnya untuk mengerjakan setiap detail yang membosankan bagi orang kebanyakan. Antonie telah menciptakan terobosan ilmu pengetahuan dari pekerjaan detailnya dan membangun sebuah pemandangan yang sangat luas.


Anak muda zaman sekarang seringkali resah berusaha untuk meraih berbagai macam gelar. Mereka tidak begitu lama menekuni dan mendalami hal yang mereka sedang lakukan, dan seringkali malah ingin mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Akan tetapi dapatkah selalu demikian? Setiap bunga memiliki dunianya sendiri dan setiap butir pasir memiliki alamnya sendiri. Lantas yang patut kita renungkan, dapatkah Anda melakukan setiap pekerjaan kecil/remeh dikerjakan dengan kesungguhan hati?


Sumber: The Epoch Times

09 Maret 2009

Hambar Terhadap Kehormatan dan Keuntungan, Membuat Perasaan Lega dan Nyaman

Walaupun banyak orang telah mengetahui bahwa kehormatan dan keuntungan hanyalah ‘hiasan’ hidup belaka, tapi sangat sedikit orang yang dapat terhindar dari jebakannya. Ada yang seumur hidupnya bekerja keras demi kehormatan dan keuntungan, bahkan ada yang hidup demi hal itu.


Seseorang jika tidak dapat memandang hambar pada kehormatan dan keuntungan, maka dia tidak akan bisa mempertahankan kemurnian dari lubuk hatinya. Seumur hidupnya akan seperti “Kua Fu Mengejar Matahari.” Melihat matahari bersinar ke segala penjuru, tapi dia selamanya juga tidak bisa melacak keberadaannya. Pada akhirnya hanyalah keletihan dan kegagalan yang tanpa batas yang akan didapatkan.


Sebenarnya jika dengan hati jernih mengamati dunia materi ini, walaupun tidak sepenuh hati dan tenaga untuk mengejar, sinar matahari juga tetap akan seperti sediakala menerangi tubuh kita.


Ilmuwan yang paling ternama di dunia, Albert Einstein dan Madam Curie, telah menganggap hambar terhadap kehormatan, kekayaan dan kemakmuran yang dikejar-kejar oleh kebanyakan orang. Oleh sebab itu, banyak orang memberi pujian kepada mereka.


Walaupun dia adalah seorang ilmuwan yang bertaraf internasional, tapi Einstein mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebagai pengecualian, selain pengetahuan, tidak ada hal lain yang bisa membuatnya senang ataupun benci secara berlebihan.


Ketika Einstein dalam perjalanan tamasya laut, kapten kapal pesiar yang ditumpanginya, memperlakukan Einstein secara khusus. Sengaja telah menyediakan kamar paling mewah dalam kapal itu untuknya, akan tetapi di luar dugaan ditolak oleh Einstein. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak ada perbedaan dengan orang lain, maka dia tidak mau menerima perlakuan khusus tersebut.


Rendah hati, jujur dan berterus terang adalah sifat Einstein yang telah membuat kebanyakan orang mengagumi dirinya dengan setulus hati.


Setelah Marie Curie (Maria Sklodowska-Curie, ahli fisika dan kimia serta peraih Nobel dari Polandia) menemukan Ra (Radium, salah satu unsur atom yang mengandung radioaktif tinggi), surat dari segala penjuru dunia datang untuk bertanya, mereka berharap agar bisa mengetahui cara mengekstrak materi tersebut.


Piere Curie, suaminya, berkata dengan tenang, “Kita harus memutuskan untuk memilih salah satu pilihan dari dua macam cara yang ada. Pilihan pertama adalah mengumumkan hasil penelitian secara terbuka, termasuk penjelasan bagaimana cara mengekstrak.” Marie Curie mengacungkan tangannya sebagai tanda setuju dan berkata, “Ya, tentunya harus begitu.”


Lalu Piere Curie melanjutkan perkataannya, “Pilihan kedua adalah kita harus memposisikan diri kita sebagai pemilik dan pencipta Ra (radium). Tapi kita harus mendapatkan sertifikat hak paten dari teknik mengekstrak tambang uranium dulu, dan memastikan hak yang kita miliki dalam pengusaha Ra seluruh dunia.”


Mendapatkan hak paten berarti mereka akan mendapatkan uang dalam jumlah besar, kenyamanan di dalam hidup, masih bisa menurunkan harta warisan kepada anak cucu. Tapi Marie Curie setelah mendengar perkataan itu dia dengan teguh menjawab, “Kita tidak akan berbuat demikian. Jika kita melakukan hal ini akan melanggar maksud kita semula melakukan penelitian ilmiah.”


Dengan mudah dia telah melepaskan kehormatan dan keuntungan yang berada di depan mata. Sikap hidup yang demikian, membuat semua orang bisa merasakan kelapangan dadanya yang sangat luar biasa. Seumur hidupnya dia telah mendapatkan berbagai jenis medali sebanyak 16 buah, berbagai macam gelar kehormatan sebanyak 117, dia sendiri sama sekali tidak menanggapi.


Suatu hari, ada seorang teman wanita datang bertamu ke rumahnya, ia melihat anak perempuan kecil Marie sedang membuat mainan medali emas yang baru saja diperoleh Marie dari himpunan ilmiah kerajaan Inggris. Wanita itu sangat terkejut, dia lalu bertanya, “Marie, medali itu adalah kehormatanmu yang sangat tinggi, bagaimana bisa kamu berikan kepada anak kecil untuk dibuat mainan?”


Dengan tertawa-tawa Marie Curie menjawab: “Saya menginginkan anak saya sejak kecil sudah mengerti bahwa kehormatan itu seperti halnya sebuah mainan, hanya bisa dipakai untuk permainan, kita tidak akan bisa menjaga benda-benda itu selamanya. Jika tidak, demikian tidak akan ada satupun usaha yang bisa berhasil kita capai.”


Kelapangan dada yang luar biasa dari dua orang pakar ilmu pengetahuan yang telah meninggalkan sebuah cermin terang bagi orang awam yang mati-matian mengejar kehormatan dan keuntungan.


Jika hati seseorang memiliki jiwa yang murni, di dalam pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan dia telah menumpahkan seluruh tenaganya, prestasi yang telah dia capai otomatis bisa menonjol keluar, dia sudah selayaknya dan sepantasnya akan mendapatkan kehormatan dalam dunia yang sudah seharusnya didapatkan.


Memandang hambar kehormatan dan keuntungan, tanpa memohon akan mendapatkan sendiri merupakan titik awal jalan menuju kesuksesan bagi seseorang.


Sumber: www.theepochtimes.com

02 Maret 2009

Siapa yang Melukis Ini?

Di Spanyol ada seorang pelukis termashyur bernama Bartolomé Esteban Murillo (tahun 1618 – 1682). Dia seringkali mendapati di atas kain kanvas muridnya, selalu ada sketsa yang masih belum selesai. Gambarannya sangat serasi, sentuhannya amat kaya dan berbakat. Namun sketsa-sketsa tersebut biasanya ditinggalkan pada tengah malam, sementara tidak tahu siapakah yang membuatnya.


Pada suatu pagi, murid-murid Murillo berdatangan ke studio lukis, mereka berkerumun di depan sebuah tiang penyangga lukisan, dengan perasaan yang tak tertahankan mereka mengeluarkan pujian. Di atas kain kanvas terlukis sebuah lukisan, bagian kepala Bunda Maria yang masih belum selesai, goresan garis yang sangat indah, konturnya sangat jelas, gaya goresannya sangat luar biasa.


Setelah melihat sketsa itu, Murillo merasa takjub. Satu persatu murid-muridnya ditanyai, ingin tahu siapa sebenarnya sang pelaku, tetapi semua muridnya dengan menyesal menggelengkan kepala. Murillo mengeluh seraya memuji, ”Orang yang meninggalkan lukisan ini suatu hari kelak bakal menjadi guru besar bagi kita semua.”


Kemudian dia menoleh dan bertanya kepada budak muda yang sedang bergemetaran berdiri di sampingnya, ”Sebastian, siapa yang tinggal di sini pada malam hari?” “Tuan, tidak ada orang lain... kecuali saya.”


“Kalau begitu baik, malam ini kamu harus ekstra perhatian, jika orang misterius ini datang lagi berkunjung dan kamu tidak memberitahukan saya, maka besok kamu akan saya hukum 30 cambukan.” Sebastian membungkukkan badan perlahan, kemudian mundur dengan patuh dan hormat.


Malam hari itu, Sebastian menggelar kasur di depan tiang penyangga lukisan dan tidur dengan nyenyak. Keesokan subuh ketika lonceng berbunyi tiga kali, tiba-tiba dia melompat bangun dari kasur, dan berkata pada diri sendiri, ”Tiga jam ini untuk saya, sisanya semua milik guru pembimbing saya.”


Dia memegang kuas lukis dan duduk di depan tiang penyangga lukisannya, siap untuk menghapus karya yang dia buat semalam. Tangan Sebastian memegang kuas, ketika kuasnya akan menyentuh lukisan itu….mendadak diam terpaku. Dia berseru, ”Tidak! Saya tidak bisa! Mutlak tidak akan saya hapus, biarkan saya menyelesaikan lukisan ini!”


Kemudian dalam sekejap dia telah memasuki alam lukisannya, membubuhi sketsanya dengan warna, sebentar-sebentar dia menambahkan beberapa goresan, lalu dipadukan dengan warna yang serasi dan lembut. Tidak terasa waktu 3 jam telah berlalu, ada suara ringan telah mengusik Sebastian, ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat, Murillo dan para muridnya diam-diam berdiri di sekelilingnya! Cahaya fajar menembus jendela masuk ke dalam ruangan, api lilin masih menyala.


Hari sudah terang, Sebastian masih tetap adalah seorang budak. Pandangan dari semua orang tertuju pada Sebastian, menampakkan ekspresi yang hangat. Dengan sorot mata yang terlihat sedih, Sebastian menatap ke bawah, menundukkan kepala.


Murillo bertanya kepadanya, ”Sebastian siapakah guru pembimbingmu?”

“Adalah Anda, Tuan”

“Yang saya tanyakan adalah siapa guru pembimbing melukismu.”

“Adalah Anda, Tuan.”

“Tetapi saya tidak pernah sekalipun mengajarimu.”

“Betul, tetapi di saat Anda sedang mengajar, saya selalu mendengarkannya.”

“Oh, saya mengerti sekarang, hasil karyamu itu sangat luar biasa!”


Murillo membalikkan badan dan bertanya kepada para muridnya, ”Dia ini seharusnya menerima hukuman atau mendapatkan hadiah?”

“Hadiah, Guru,” para murid itu menjawab dengan cepat.

“Lalu hadiah apakah yang pantas diberikan kepadanya?”


Ada yang mengusulkan memberi satu stel pakaian, ada yang bilang berikan sejumlah uang, kesemuanya ini tak ada satupun yang bisa menggerakkan hati Sebastian. Kemudian ada seorang murid berkata, ”Hari ini hati guru sedang gembira, Sebastian mohonlah untuk kebebasanmu.”


Sebastian mengangkat wajahnya memandang Murillo, ”Tuan, mohon Anda sudi membebaskan ayahku.”


Mendengar perkataan ini, Murillo sangat terharu, dengan perasaan kasih yang mendalam, dia berkata, ”Goresan lukisanmu menunjukkan bakatmu yang luar biasa. Permohonanmu menandakan dirimu memiliki hati yang baik. Mulai sekarang kamu bukan lagi seorang budak dan saya akan mengangkatmu menjadi anak saya…bolehkah? Oh, betapa beruntungnya dirimu Murillo, diluar dugaan telah mendidik seorang pelukis yang luar biasa!”


Hingga saat ini, di antara lukisan-lukisan ternama yang tersimpan di Italia, kita masih bisa menyaksikan banyak sekali karya-karya indah yang digoreskan oleh Murillo dan Sebastian.


Sumber: www.theepochtimes.com

22 Februari 2009

Socrates Tercebur Dalam Air

Socrates (469—399 SM), filsuf dari Yunani kuno, juga merupakan salah satu pendiri Filsafat Barat. Pandangan Socrates sangat mempengaruhi Plato (salah seorang murid Socrates) dan Aristoteles (murid Plato). Keduanya merupakan ilmuwan dan filsuf Barat yang terkemuka sepanjang zaman.


Suatu hari, Socrates hendak menyeberangi sebuah sungai. Karena kurang hati-hati, ia terperosok ke dalam kubangan yang dalam. Ia tidak bisa berenang dan terpaksa hanya meronta-ronta sekuat tenaga di dalam air sambil berteriak minta tolong.


Saat itu, ada seseorang yang sedang memancing di tepi sungai. Mendengar suara teriakan Socrates, bukannya mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya malah menyimpan kail, lalu berdiri dan pergi. Beruntung murid-murid Socrates datang tepat pada waktunya dan berhasil menyelamatkan jiwa sang Guru.


Seketika itu juga murid-muridnya mengganti pakaian Socrates yang basah, dan serempak mengutuk si pemancing sebagai orang yang bermoral rendah, tidak mau menolong orang yang sedang dalam bahaya.


Tak lama berselang, pemancing itu ketika hendak menyeberang sungai, karena kurang hati-hati juga terperosok ke dalam kubangan air yang dalam. Ternyata orang itu juga sama sekali tidak bisa berenang, dan hanya bisa berteriak meminta tolong sambil meronta-ronta sekuat tenaga.


Sungguh kebetulan, Socrates bersama dengan murid-muridnya sedang berjalan di tepi sungai dan mendengar suara teriakan minta tolong si pemancing tersebut. Mereka pun bergegas berlari mendekat, dan dengan menggunakan sebatang bambu yang panjang mereka menolongnya.


Setelah mengetahui wajah orang yang mereka tolong, para murid Socrates merasa sangat menyesal dan berkata, ”Jika tahu yang jatuh ke dalam sungai itu adalah orang itu, bagaimana pun juga kami tidak akan menolong dia!”


Socrates membantu menggantikan pakaian orang tersebut yang telah basah, lalu dengan tenang Socrates berkata, ”Tidak. Kalian justru harus menolong dia! Inilah perbedaan antara dia dan kalian semua.”


Sumber: www.mingxin.net / Era Baru

15 Februari 2009

Seorang Ibu dan Seorang Guru

Saya bekerja di sebuah sekolah Taman Kanak-kanak, dan mendapat fasilitas yang istimewa, yaitu setiap hari boleh membawa “bayi kecilku”. Peranku setiap saat dapat berubah-ubah, sesaat menjadi ibu seorang anak, sesaat lagi menjadi guru. Jadi kisah hidupku menjadi lebih beragam….


Suatu pagi ketika saya hendak membalikkan tubuh meninggalkan anak saya, saya melihat matanya terus menatap saya dengan kelopak mata yang penuh air mata, tetapi belum sampai menetes. Entah mengapa saat itu saya juga tidak bisa menguasai diri, tak terasa air mataku mengalir keluar. Melihat dia masih begitu kecil berdiri di sana, maka saya tak kuasa menahan air mata.


Setelah cukup lama bergulat dengan perasaan ini, dengan memaksakan diri, saya kembali ke kelas tempat saya mengajar, akan tetapi perasaan ini berubah perlahan menjadi tenang kembali. Kebetulan di dalam kelas, ada seorang anak sedang menangis dan menarik tangan ibunya, si ibu itu serba salah, pergi meninggalkan salah, tidak pergi juga salah.


Apabila hal ini terjadi dahulu, dalam hati sedikit banyak pasti ada perasaan jengkel dan rasa menyalahkan ibu dan anak. Tetapi kini, saya bisa memahami perasaan ibu itu. Lalu saya maju menghampiri mereka, dengan perlahan-lahan saya angkat anak laki-laki itu, lalu saya dekap dalam pelukan, dengan suara pelan saya menenangkannya. Si anak masih terus menangis, tetapi sang ibu sudah bisa melepaskan tangannya dan pergi, sebelum pergi si ibu memandang saya dengan penuh terima kasih. Saya mengerti, dia juga mengerti. Dalam sekejab itu perasaan sesama ibu bisa saling mengerti.


Sekolah Taman kanak-kanak di Selandia Baru selama ini terkenal karena teknik pengajarannya lebih hidup dan penuh semangat. Kami sebagai guru, tanggung jawab kami juga tidaklah ringan, tidak hanya mengurusi sandang pangan, akan tetapi masih harus mengerjakan setumpuk laporan pekerjaan.


Setiap hari dari pagi hingga malam tidak bisa santai, kadang juga dibuat pusing kepala oleh anak anak. Anak berusia 3 – 4 tahun biasanya berlari ke sana kemari, kadang-kadang bisa terjatuh, dan tidak dapat dihindari harus melihat ekpresi wajah orang tua murid tersebut.


Setiap kejadian seperti ini, saya selalu merasa sedih, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Anak-anak kecil sesekali kali jatuh sebetulnya juga tidak begitu masalah. Oleh karenanya setiap kali melihat ada orang tua murid yang marah mensikapi itu, hati saya terasa tidak nyaman.


Sungguh tak terduga ternyata peristiwa seperti ini juga menimpa diri saya sendiri. Pada suatu siang seorang guru anak saya dengan gugup dan tergesa-gesa mendatangi saya dan memberitahu, bahwa anak saya terjatuh dari pagar pelindung.


Melihat reaksi guru itu yang sangat kebingungan, saya merasa ingin marah, tampaknya luka tidak ringan. Melihat anak saya menangis dengan badan gemetaran kepalanya benjol besar dan hidungnya berdarah.


Pertama-tama yang ingin aku katakan adalah, “Bagaimana kalian menjaga anak-anak?” Untunglah sebelum terucap keluar, perasaan saya perlahan tenang kembali, ini adalah situasi yang biasa saya hadapi dan sekarang saya adalah ibu dari anak.


Harus bagaimana? Coba bayangkan jadi seorang guru tidaklah gampang, kita adalah sesama guru, masak tidak bisa memahami mereka? Menjaga seharian anak-anak, hanya sekejab terlewatkan, anak sudah mendapatkan masalah. “Tidak masalah, tidak masalah, anak-anak memang begitu,” kata-kata menghibur keluar dari mulutku, secara wajar, sangat tenang, guru itu juga sudah merasa agak tenang, saya kembali menghiburnya dengan beberapa kata, dia rasanya ingin menangis terharu.


Banyak cerita terjadi. Hanya diriku sendiri yang harus berbesar hati dan memahami sehingga membuat saya berubah banyak sekali. Juga mengerti kita jadi orang harus menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain.


Sumber: Yezi/Epochtimes

07 Februari 2009

Kebajikan yang Tulus Mengubah Musuh Menjadi Teman

Jika seseorang memiliki hati dengki atau iri yang sangat kuat, juga egoisnya sangat luar biasa, dia akan sangat mudah menjadikan banyak temannya berubah menjadi musuh. Namun ketika mereka merasakan dirinya telah menimbulkan banyak musuh, banyak orang tidak mengerti harus bagaimana berbuat agar dapat mengubah semua musuhnya itu menjadi teman. Sebenarnya ketulusan dan kebajikan adalah perilaku dasar sebagai manusia, dari ketulusan dan niat baik yang berpadu akan terbentuk menjadi suatu hati kebaikan yang murni, ini sudah lebih dari cukup untuk menguraikan segala dendam yang ada di dunia ini, juga bisa dengan mudah mengubah musuh menjadi teman.


Pada tahun 1754, ketika itu George Washington sudah berpangkat kolonel. Dia sedang memimpin pasukannya dalam tugas garnisun di Kota Alexander. Hari itu bertepatan dengan hari pemilihan anggota kongres di parlemen negara bagian Virginia. Ada seseorang yang bernama William Bent sedang menentang seorang kandidat yang didukung oleh Washington.


Suatu hari, Washington mengadakan jajak pendapat dengan Bent mengenai masalah pemilihan umum ini dan dalam acara itu telah terjadi perdebatan yang sangat seru, dan Washington mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat menusuk telinga. Mendengar perkataan itu, Bent sangat gusar, dengan penuh emosi dia mengayunkan tinjunya memukul Washington hingga jatuh ke lantai. Ketika berita ini terdengar oleh prajuritnya, mereka berdatangan dan ingin membela pemimpin mereka atas pukulan itu, ketika itu Washington mencegah mereka dan meyakinkan mereka agar dengan tenang mundur kembali ke barak.


Keesokan paginya, Washington mempercayakan seseorang untuk membawakan secarik kertas catatan kepada Bent, yang bertuliskan: “Mohon Anda secepatnya ke sebuah bar setempat untuk bertemu.” Dengan ekspresi muka yang sangat tegang Bent datang ke bar itu, dia mengira pasti terjadi suatu perkelahian sengit. Tapi di luar dugaannya, yang menyambutnya bukan sebuah pistol melainkan segelas bir persahabatan. Washington berdiri dengan wajah tersenyum, menjulurkan tangan atas kemauannya sendiri menyambut kedatangannya, juga dengan tulus hati berkata kepadanya, “Tuan Bent, siapa orang yang tak pernah berbuat kesalahan, mengetahui kesalahan dan bisa segera diubah adalah orang yang berbakat luar biasa. Masalah kemarin, sesungguhnya adalah kesalahan saya. Anda telah melakukan tindakan yang telah menyelamatkan muka Anda, jika Anda merasakan tindakan itu sudah cukup, silahkan Anda sambut tangan saya ini untuk berjabat tangan, marilah kita menjadi teman.”


Setelah pergolakan ini reda dalam suasana persahabatan, sejak saat itu pula Bent telah menjadi pengagum sejati Washington. Di dalam pergolakan ini, Washington telah memperlihatkan tingkat mentalitas yang luar biasa sebagai pencerminan bagi manusia awam. Orang yang berpandangan picik hanya bisa menggunakan cara yang ekstrim yaitu ‘melakukan pembalasan yang setimpal,’ yang akhirnya hanya akan memperbesar sakit hati, musuh akan semakin banyak. Orang yang berlapang dada mengerti akan memaafkan, sabar dan mengalah, dengan hati kebaikan yang murni memancarkan cahaya kehidupan, adalah alat pengurai dendam atau sakit hati yang paling efektif.


Sumber: The Epochtimes