02 Maret 2009

Siapa yang Melukis Ini?

Di Spanyol ada seorang pelukis termashyur bernama Bartolomé Esteban Murillo (tahun 1618 – 1682). Dia seringkali mendapati di atas kain kanvas muridnya, selalu ada sketsa yang masih belum selesai. Gambarannya sangat serasi, sentuhannya amat kaya dan berbakat. Namun sketsa-sketsa tersebut biasanya ditinggalkan pada tengah malam, sementara tidak tahu siapakah yang membuatnya.


Pada suatu pagi, murid-murid Murillo berdatangan ke studio lukis, mereka berkerumun di depan sebuah tiang penyangga lukisan, dengan perasaan yang tak tertahankan mereka mengeluarkan pujian. Di atas kain kanvas terlukis sebuah lukisan, bagian kepala Bunda Maria yang masih belum selesai, goresan garis yang sangat indah, konturnya sangat jelas, gaya goresannya sangat luar biasa.


Setelah melihat sketsa itu, Murillo merasa takjub. Satu persatu murid-muridnya ditanyai, ingin tahu siapa sebenarnya sang pelaku, tetapi semua muridnya dengan menyesal menggelengkan kepala. Murillo mengeluh seraya memuji, ”Orang yang meninggalkan lukisan ini suatu hari kelak bakal menjadi guru besar bagi kita semua.”


Kemudian dia menoleh dan bertanya kepada budak muda yang sedang bergemetaran berdiri di sampingnya, ”Sebastian, siapa yang tinggal di sini pada malam hari?” “Tuan, tidak ada orang lain... kecuali saya.”


“Kalau begitu baik, malam ini kamu harus ekstra perhatian, jika orang misterius ini datang lagi berkunjung dan kamu tidak memberitahukan saya, maka besok kamu akan saya hukum 30 cambukan.” Sebastian membungkukkan badan perlahan, kemudian mundur dengan patuh dan hormat.


Malam hari itu, Sebastian menggelar kasur di depan tiang penyangga lukisan dan tidur dengan nyenyak. Keesokan subuh ketika lonceng berbunyi tiga kali, tiba-tiba dia melompat bangun dari kasur, dan berkata pada diri sendiri, ”Tiga jam ini untuk saya, sisanya semua milik guru pembimbing saya.”


Dia memegang kuas lukis dan duduk di depan tiang penyangga lukisannya, siap untuk menghapus karya yang dia buat semalam. Tangan Sebastian memegang kuas, ketika kuasnya akan menyentuh lukisan itu….mendadak diam terpaku. Dia berseru, ”Tidak! Saya tidak bisa! Mutlak tidak akan saya hapus, biarkan saya menyelesaikan lukisan ini!”


Kemudian dalam sekejap dia telah memasuki alam lukisannya, membubuhi sketsanya dengan warna, sebentar-sebentar dia menambahkan beberapa goresan, lalu dipadukan dengan warna yang serasi dan lembut. Tidak terasa waktu 3 jam telah berlalu, ada suara ringan telah mengusik Sebastian, ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat, Murillo dan para muridnya diam-diam berdiri di sekelilingnya! Cahaya fajar menembus jendela masuk ke dalam ruangan, api lilin masih menyala.


Hari sudah terang, Sebastian masih tetap adalah seorang budak. Pandangan dari semua orang tertuju pada Sebastian, menampakkan ekspresi yang hangat. Dengan sorot mata yang terlihat sedih, Sebastian menatap ke bawah, menundukkan kepala.


Murillo bertanya kepadanya, ”Sebastian siapakah guru pembimbingmu?”

“Adalah Anda, Tuan”

“Yang saya tanyakan adalah siapa guru pembimbing melukismu.”

“Adalah Anda, Tuan.”

“Tetapi saya tidak pernah sekalipun mengajarimu.”

“Betul, tetapi di saat Anda sedang mengajar, saya selalu mendengarkannya.”

“Oh, saya mengerti sekarang, hasil karyamu itu sangat luar biasa!”


Murillo membalikkan badan dan bertanya kepada para muridnya, ”Dia ini seharusnya menerima hukuman atau mendapatkan hadiah?”

“Hadiah, Guru,” para murid itu menjawab dengan cepat.

“Lalu hadiah apakah yang pantas diberikan kepadanya?”


Ada yang mengusulkan memberi satu stel pakaian, ada yang bilang berikan sejumlah uang, kesemuanya ini tak ada satupun yang bisa menggerakkan hati Sebastian. Kemudian ada seorang murid berkata, ”Hari ini hati guru sedang gembira, Sebastian mohonlah untuk kebebasanmu.”


Sebastian mengangkat wajahnya memandang Murillo, ”Tuan, mohon Anda sudi membebaskan ayahku.”


Mendengar perkataan ini, Murillo sangat terharu, dengan perasaan kasih yang mendalam, dia berkata, ”Goresan lukisanmu menunjukkan bakatmu yang luar biasa. Permohonanmu menandakan dirimu memiliki hati yang baik. Mulai sekarang kamu bukan lagi seorang budak dan saya akan mengangkatmu menjadi anak saya…bolehkah? Oh, betapa beruntungnya dirimu Murillo, diluar dugaan telah mendidik seorang pelukis yang luar biasa!”


Hingga saat ini, di antara lukisan-lukisan ternama yang tersimpan di Italia, kita masih bisa menyaksikan banyak sekali karya-karya indah yang digoreskan oleh Murillo dan Sebastian.


Sumber: www.theepochtimes.com

22 Februari 2009

Socrates Tercebur Dalam Air

Socrates (469—399 SM), filsuf dari Yunani kuno, juga merupakan salah satu pendiri Filsafat Barat. Pandangan Socrates sangat mempengaruhi Plato (salah seorang murid Socrates) dan Aristoteles (murid Plato). Keduanya merupakan ilmuwan dan filsuf Barat yang terkemuka sepanjang zaman.


Suatu hari, Socrates hendak menyeberangi sebuah sungai. Karena kurang hati-hati, ia terperosok ke dalam kubangan yang dalam. Ia tidak bisa berenang dan terpaksa hanya meronta-ronta sekuat tenaga di dalam air sambil berteriak minta tolong.


Saat itu, ada seseorang yang sedang memancing di tepi sungai. Mendengar suara teriakan Socrates, bukannya mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya malah menyimpan kail, lalu berdiri dan pergi. Beruntung murid-murid Socrates datang tepat pada waktunya dan berhasil menyelamatkan jiwa sang Guru.


Seketika itu juga murid-muridnya mengganti pakaian Socrates yang basah, dan serempak mengutuk si pemancing sebagai orang yang bermoral rendah, tidak mau menolong orang yang sedang dalam bahaya.


Tak lama berselang, pemancing itu ketika hendak menyeberang sungai, karena kurang hati-hati juga terperosok ke dalam kubangan air yang dalam. Ternyata orang itu juga sama sekali tidak bisa berenang, dan hanya bisa berteriak meminta tolong sambil meronta-ronta sekuat tenaga.


Sungguh kebetulan, Socrates bersama dengan murid-muridnya sedang berjalan di tepi sungai dan mendengar suara teriakan minta tolong si pemancing tersebut. Mereka pun bergegas berlari mendekat, dan dengan menggunakan sebatang bambu yang panjang mereka menolongnya.


Setelah mengetahui wajah orang yang mereka tolong, para murid Socrates merasa sangat menyesal dan berkata, ”Jika tahu yang jatuh ke dalam sungai itu adalah orang itu, bagaimana pun juga kami tidak akan menolong dia!”


Socrates membantu menggantikan pakaian orang tersebut yang telah basah, lalu dengan tenang Socrates berkata, ”Tidak. Kalian justru harus menolong dia! Inilah perbedaan antara dia dan kalian semua.”


Sumber: www.mingxin.net / Era Baru

15 Februari 2009

Seorang Ibu dan Seorang Guru

Saya bekerja di sebuah sekolah Taman Kanak-kanak, dan mendapat fasilitas yang istimewa, yaitu setiap hari boleh membawa “bayi kecilku”. Peranku setiap saat dapat berubah-ubah, sesaat menjadi ibu seorang anak, sesaat lagi menjadi guru. Jadi kisah hidupku menjadi lebih beragam….


Suatu pagi ketika saya hendak membalikkan tubuh meninggalkan anak saya, saya melihat matanya terus menatap saya dengan kelopak mata yang penuh air mata, tetapi belum sampai menetes. Entah mengapa saat itu saya juga tidak bisa menguasai diri, tak terasa air mataku mengalir keluar. Melihat dia masih begitu kecil berdiri di sana, maka saya tak kuasa menahan air mata.


Setelah cukup lama bergulat dengan perasaan ini, dengan memaksakan diri, saya kembali ke kelas tempat saya mengajar, akan tetapi perasaan ini berubah perlahan menjadi tenang kembali. Kebetulan di dalam kelas, ada seorang anak sedang menangis dan menarik tangan ibunya, si ibu itu serba salah, pergi meninggalkan salah, tidak pergi juga salah.


Apabila hal ini terjadi dahulu, dalam hati sedikit banyak pasti ada perasaan jengkel dan rasa menyalahkan ibu dan anak. Tetapi kini, saya bisa memahami perasaan ibu itu. Lalu saya maju menghampiri mereka, dengan perlahan-lahan saya angkat anak laki-laki itu, lalu saya dekap dalam pelukan, dengan suara pelan saya menenangkannya. Si anak masih terus menangis, tetapi sang ibu sudah bisa melepaskan tangannya dan pergi, sebelum pergi si ibu memandang saya dengan penuh terima kasih. Saya mengerti, dia juga mengerti. Dalam sekejab itu perasaan sesama ibu bisa saling mengerti.


Sekolah Taman kanak-kanak di Selandia Baru selama ini terkenal karena teknik pengajarannya lebih hidup dan penuh semangat. Kami sebagai guru, tanggung jawab kami juga tidaklah ringan, tidak hanya mengurusi sandang pangan, akan tetapi masih harus mengerjakan setumpuk laporan pekerjaan.


Setiap hari dari pagi hingga malam tidak bisa santai, kadang juga dibuat pusing kepala oleh anak anak. Anak berusia 3 – 4 tahun biasanya berlari ke sana kemari, kadang-kadang bisa terjatuh, dan tidak dapat dihindari harus melihat ekpresi wajah orang tua murid tersebut.


Setiap kejadian seperti ini, saya selalu merasa sedih, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Anak-anak kecil sesekali kali jatuh sebetulnya juga tidak begitu masalah. Oleh karenanya setiap kali melihat ada orang tua murid yang marah mensikapi itu, hati saya terasa tidak nyaman.


Sungguh tak terduga ternyata peristiwa seperti ini juga menimpa diri saya sendiri. Pada suatu siang seorang guru anak saya dengan gugup dan tergesa-gesa mendatangi saya dan memberitahu, bahwa anak saya terjatuh dari pagar pelindung.


Melihat reaksi guru itu yang sangat kebingungan, saya merasa ingin marah, tampaknya luka tidak ringan. Melihat anak saya menangis dengan badan gemetaran kepalanya benjol besar dan hidungnya berdarah.


Pertama-tama yang ingin aku katakan adalah, “Bagaimana kalian menjaga anak-anak?” Untunglah sebelum terucap keluar, perasaan saya perlahan tenang kembali, ini adalah situasi yang biasa saya hadapi dan sekarang saya adalah ibu dari anak.


Harus bagaimana? Coba bayangkan jadi seorang guru tidaklah gampang, kita adalah sesama guru, masak tidak bisa memahami mereka? Menjaga seharian anak-anak, hanya sekejab terlewatkan, anak sudah mendapatkan masalah. “Tidak masalah, tidak masalah, anak-anak memang begitu,” kata-kata menghibur keluar dari mulutku, secara wajar, sangat tenang, guru itu juga sudah merasa agak tenang, saya kembali menghiburnya dengan beberapa kata, dia rasanya ingin menangis terharu.


Banyak cerita terjadi. Hanya diriku sendiri yang harus berbesar hati dan memahami sehingga membuat saya berubah banyak sekali. Juga mengerti kita jadi orang harus menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain.


Sumber: Yezi/Epochtimes

07 Februari 2009

Kebajikan yang Tulus Mengubah Musuh Menjadi Teman

Jika seseorang memiliki hati dengki atau iri yang sangat kuat, juga egoisnya sangat luar biasa, dia akan sangat mudah menjadikan banyak temannya berubah menjadi musuh. Namun ketika mereka merasakan dirinya telah menimbulkan banyak musuh, banyak orang tidak mengerti harus bagaimana berbuat agar dapat mengubah semua musuhnya itu menjadi teman. Sebenarnya ketulusan dan kebajikan adalah perilaku dasar sebagai manusia, dari ketulusan dan niat baik yang berpadu akan terbentuk menjadi suatu hati kebaikan yang murni, ini sudah lebih dari cukup untuk menguraikan segala dendam yang ada di dunia ini, juga bisa dengan mudah mengubah musuh menjadi teman.


Pada tahun 1754, ketika itu George Washington sudah berpangkat kolonel. Dia sedang memimpin pasukannya dalam tugas garnisun di Kota Alexander. Hari itu bertepatan dengan hari pemilihan anggota kongres di parlemen negara bagian Virginia. Ada seseorang yang bernama William Bent sedang menentang seorang kandidat yang didukung oleh Washington.


Suatu hari, Washington mengadakan jajak pendapat dengan Bent mengenai masalah pemilihan umum ini dan dalam acara itu telah terjadi perdebatan yang sangat seru, dan Washington mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat menusuk telinga. Mendengar perkataan itu, Bent sangat gusar, dengan penuh emosi dia mengayunkan tinjunya memukul Washington hingga jatuh ke lantai. Ketika berita ini terdengar oleh prajuritnya, mereka berdatangan dan ingin membela pemimpin mereka atas pukulan itu, ketika itu Washington mencegah mereka dan meyakinkan mereka agar dengan tenang mundur kembali ke barak.


Keesokan paginya, Washington mempercayakan seseorang untuk membawakan secarik kertas catatan kepada Bent, yang bertuliskan: “Mohon Anda secepatnya ke sebuah bar setempat untuk bertemu.” Dengan ekspresi muka yang sangat tegang Bent datang ke bar itu, dia mengira pasti terjadi suatu perkelahian sengit. Tapi di luar dugaannya, yang menyambutnya bukan sebuah pistol melainkan segelas bir persahabatan. Washington berdiri dengan wajah tersenyum, menjulurkan tangan atas kemauannya sendiri menyambut kedatangannya, juga dengan tulus hati berkata kepadanya, “Tuan Bent, siapa orang yang tak pernah berbuat kesalahan, mengetahui kesalahan dan bisa segera diubah adalah orang yang berbakat luar biasa. Masalah kemarin, sesungguhnya adalah kesalahan saya. Anda telah melakukan tindakan yang telah menyelamatkan muka Anda, jika Anda merasakan tindakan itu sudah cukup, silahkan Anda sambut tangan saya ini untuk berjabat tangan, marilah kita menjadi teman.”


Setelah pergolakan ini reda dalam suasana persahabatan, sejak saat itu pula Bent telah menjadi pengagum sejati Washington. Di dalam pergolakan ini, Washington telah memperlihatkan tingkat mentalitas yang luar biasa sebagai pencerminan bagi manusia awam. Orang yang berpandangan picik hanya bisa menggunakan cara yang ekstrim yaitu ‘melakukan pembalasan yang setimpal,’ yang akhirnya hanya akan memperbesar sakit hati, musuh akan semakin banyak. Orang yang berlapang dada mengerti akan memaafkan, sabar dan mengalah, dengan hati kebaikan yang murni memancarkan cahaya kehidupan, adalah alat pengurai dendam atau sakit hati yang paling efektif.


Sumber: The Epochtimes

30 Januari 2009

Jangan Sampai Dihantui oleh Diri Sendiri

Ada seorang pemuda, yang putus asa karena terpukul oleh kegagalan yang dialaminya, datang untuk menemui saya. Dengan penuh kekalutan dia menceritakan kepada saya, bahwa dia merasa telah bosan dan letih dengan kehidupan ini, dia ingin segera mengakhiri hidupnya. Saya tidak terkejut mendengar penuturan itu, juga tidak menyalahkan dirinya, justru sebaliknya dengan perasaan tenang saya balik bertanya kepada pemuda ini, apakah tidak ada pilihan lain lagi. Dia menjawab, tidak ada, semua teman dan keluarga saya menganggap remeh diri saya, pandangan orang-orang di sekitar saya memancarkan sorot mata menghina, bahkan saya merasa pohon-pohon di sepanjang jalan pun memandang saya dengan dingin.


Pemuda itu duduk di dalam ruang kerja saya. Saat ini di dunia ini serasa hanya ada kami berdua saja. Pohon willow putih yang rindang di luar jendela mengeluarkan suara-suara gesekan dedaunan akibat hembusan angin. Dengan rona tanpa ekspresi saya melemparkan pandangan keluar jendela. Mengiringi pandangan mata saya, pemuda itu pun melihat pemandangan di luar itu. Lama setelah itu, saya bertanya lagi padanya, Anda merasa hutan di luar itu sangat menyeramkan? Atau Anda merasa suara dedaunan di luar sana penuh dengan aura kebencian? Dengan sangat bimbang dia memandang saya, tidak mengerti dengan apa yang saya maksud. Selanjutnya saya berikan satu karangan prosa yang tadi baru saja saya selesaikan agar dibacanya. Karangan prosa ini menuliskan tentang pemandangan hutan dari jendela ruang kerja saya ini. Saya bertanya padanya, apakah Anda sama sekali tidak sependapat? Sepertinya ada sesuatu yang mulai dia pahami. Ia berkata, sebidang hutan yang sama, mengapa justru menjadi sedemikian indahnya di bawah goresan pena Anda, sementara saya justru merasa mereka tidak ada bedanya dengan hutan-hutan lain?


Saya berkata, inilah makna dunia ini yang sesungguhnya. Yang Anda lihat hari ini di sini adalah sebait kisah yang saya tulis dari hutan ini, saya sarankan agar besok bertamulah Anda ke pelukis yang menetap di rumah sebelah, di tempatnya Anda akan dapat melihat hutan ini menjadi sebuah lukisan yang sangat indah. Pemuda itu sepertinya telah menyadari sesuatu, ekspresi wajahnya yang suram ketika datang tadi kini telah berubah menjadi santai dan ceria.


Ketika itu, ada suara-suara sapuan dari lantai satu. Saya tahu itu adalah suara cleaning service yang sedang menyapu jalanan di bawah. Saya katakan padanya, tukang sapu itu setiap hari membersihkan hutan di bawah sana, tahukah Anda bagaimana cara pandangnya terhadap hutan ini? Yang dia lihat adalah setiap hari berapa helai daun yang rontok dari pohon ini, pohon mana yang akan segera mati, di mana perlu ditanam lagi sebatang pohon. Pemuda itu mendadak sadar. Ia berkata, saya sudah mengerti, hutan ini takkan pernah berubah, hutan ini akan selalu sama saja terhadap orang lain, semuanya tergantung pada pandangan orang terhadap hutan ini sendiri.


Jiwa pemuda itu pun sepenuhnya telah santai. Saya beritahu dia, kenyataannya, teman dan keluarga Anda masih tetap teman dan keluarga Anda, mereka bahkan masih belum mengetahui kejadian yang telah Anda alami, semua itu adalah anggapan Anda sendiri bahwa mereka akan berpandangan seperti itu. Pohon di sepanjang jalan di hutan ini lebih tidak bersalah lagi, mereka tetap seperti dulu sejak tumbuh besar di sini. Dan udara di sini, apakah masih Anda rasa menyesakkan dada?


Pemuda itu pergi setelah melepaskan beban berat itu, saya percaya dia telah menemukan kembali kemudi perahu kehidupannya.


Dunia kita ini sesungguhnya tidak serumit itu, hanya saja kita sendiri yang selalu menjadikannya sangat rumit. Mungkin lawan Anda sama sekali tidak ada niat tidak baik terhadap Anda, hanya saja Anda sendirilah yang telah menganggapnya seperti itu. Keadaan kita ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang pantas untuk dikhawatirkan, kita sendirilah yang selalu menghantui diri kita sendiri.


Sumber: The Epochtimes

15 Januari 2009

Maafkan Orang yang Melukai Kita

Tahun lalu, saya pernah melihat sepucuk surat di Universitas Iowa, AS, dokumen salinan surat itu sudah lama tersimpan di rumah wakil kepala seminarium yang pernah bekerja di universitas tersebut, dan itu adalah sepucuk surat yang sulit untuk dipahami oleh kita, bangsa China. Wakil kepala seminarium itu namanya Ane Kararoy, ia adalah salah satu wanita yang paling berpengaruh di Universitas Iowa tersebut.


Dahulu, ayahnya pernah mengarungi lautan dan samudera pergi ke China menyebarkan agama, Ane menjadi orang Amerika yang lahir di Shanghai, China, karena itu terhadap orang China ia memiliki perasaan yang istimewa. Ia belum menikah seumur hidupnya, dalam memperlakukan mahasiswa China sama seperti memperlakukan anak sendiri, dengan amat seksama memberi perhatian dan kasih sayang pada mereka. Setiap tahun pada saat hari Natal selalu mengundang mahasiswa China berkunjung ke rumahnya sebagai tamu.


Tak terduga, peristiwa yang malang terjadi pada tanggal 1 Nopember 1991, dan itu adalah peristiwa tragis yang menggemparkan dunia di satu tempat. Seorang mahasiswa China yang bernama Lu Gang, yang ketika itu ia baru memperoleh gelar doktor fisika antariksa dari Universitas Iowa, menembak mati tiga profesor universitas tersebut, seorang mahasiswa yang juga memperoleh gelar doktor di saat yang sama dengannya yaitu Shan Lin Hua, dan wakil kepala seminarium universitas tersebut Ane Kararoy juga jatuh dalam genangan darah dan air mata.


Pada tanggal 4 Nopember 1991, sebanyak 28.000 mahasiswa dan dosen pengajar Universitas Iowa seluruhnya menghentikan kegiatan belajar-mengajar satu hari, untuk mengadakan upacara pemakaman Ane Kararoy dan perkabungan. Ketika sahabat karib Ane Kararoy yakni pendeta Theo Paul mengenangkan kembali sepanjang kehidupan Ane Kararoy mengatakan: “Seandainya hari ini merupakan hari selubungan dendam dan amarah kita, maka Ane Kararoy adalah orang pertama yang menyalahkan kita.”


Pada hari itu, tiga saudara Ane Kararoy mengadakan konferensi pers, mereka menyumbangkan sejumlah dana atas nama Ane Kararoy, mengumumkan membentuk sebuah yayasan beasiswa internasional Dr. Ane Kararoy, guna menghibur dan mempercepat kesehatan mental mahasiswa luar negeri, mengurangi terjadinya tragedi manusia.


Saudara-saudara Ane Kararoy yang masih dalam suasana pedih tak terkira, dan dengan kasih sayang yang sangat besar membacakan sepucuk surat yang diperuntukkan pada keluarga Lu Gang. Dan inilah surat yang saya temui di dalam kamarnya: Surat dari keluarga Ane Kararoy yang diperuntukkan pada keluarga Lu Gang:


4 Nopember 1991


Teruntuk Lu Gang tersayang,


Kami telah mengalami kepedihan yang tiba-tiba terjadi, kami telah kehilangan dirinya di saat yang paling cemerlang dalam sepanjang hidup kakak. Kami merasa sangat bangga pada kakak, ia mempunyai daya pengaruh yang sangat besar, mendapat rasa hormat dan cinta dari setiap orang yang berhubungan dengannya -- keluarganya, tetangga, rekan-rekan dari kalangan akademis serta mahasiswa dan kerabatnya yang tersebar di setiap negara.


Kami sekeluarga dari tempat yang sangat jauh tiba di tempat ini, bukan saja merasakan kepedihan bersama dengan sejumlah besar teman-teman kakak, namun juga selalu menikmati semua kenangan manis dan indah bersama kakak saat ia masih berada di dunia.


Ketika kami saling berkumpul bersama dalam kesedihan dan kenangan, kami juga teringat akan segenap keluarga Anda, dan memanjatkan doa untuk kalian. Karena Sabtu pekan ini kalian pasti merasa sangat pedih dan terkejut.


Ane Kararoy paling yakin akan cinta kasih dan toleransi. Kami menulis surat ini di saat kepedihan kalian, dan maksudnya tiada lain adalah ingin berbagi bersama kepedihan kalian, juga berharap kalian dan kami bersama-sama memanjatkan doa agar saling mencintai. Di saat-saat kepedihan ini, Ane Kararoy berharap hati dan pikiran kita semua agar dipenuhi dengan rasa simpati, toleransi dan cinta kasih. Kita tahu, bahwa di saat demikian yang lebih merasa pedih dibanding kami, hanya sekeluarga kalian saja. Dan harap kalian maklum, bahwasannya kami bersedia menanggung kepedihan ini bersama dengan kalian. Dengan demikian, kita bisa bersama-sama mendapatkan hiburan dan dukungan dari hal tersebut. Dan Ane Kararoy juga akan berharap demikian.


Saudara-saudara Ane Kararoy yang tulus

Frank/Michael/ Paul Kararoy”


Selesai membaca isi surat ini, linangan air mata telah membuat buram sepasang mata saya, dan perasaan hati saya diliputi oleh rasa terima kasih secara mendalam. Saya berharap, semoga semua teman serumpun China yang pernah membaca isi surat ini bisa merasakan perasaan ini bersama dengan saya, belajar isi hati yang agung dan luhur ini.


Sumber: The Epoch Times

04 Januari 2009

Orang yang Ulet Pasti Berhasil

Di sebuah kampus universitas di Amerika, ada dua mahasiswa bersahabat, satunya bernama Frank, satunya lagi bernama Paul. Sejak semester dua, Paul yang miskin hampir tak bisa tidak harus bergantung pinjaman pada sesama teman sekampusnya untuk hidup. Saat tamat, Paul yang berutang sebanyak US$ 1.200 pergi tanpa pamit, dan sejak itu menghilang begitu saja. Orang yang memberi pinjaman susul-menyusul meminta Frank agar jika sempat memberi tahu pada Paul, bahwa mereka akan memperkarakannya ke pengadilan.

Frank berusaha meyakinkan teman-teman sekampus yang marah, ia mengatakan bahwa berdasarkan pemahaman dirinya terhadap Paul, meskipun ia sangat miskin, namun dia belum pernah ditaklukkan oleh kemiskinan dan kesulitannya. Dia memiliki keuletan yang kuat, dan orang yang ulet pasti akan berhasil. Ia meminta kepada teman-teman itu untuk bersabar beberapa waktu.

Dengan mengandalkan kepribadian dan wibawa serta kecakapan Frank yang luar biasa, masalah pengaduan ke pengadilan untuk sementara tidak dipersoalkan, waktu terus bergulir dan 10 tahun sudah berlalu.

Sepuluh tahun kemudian, dalam suatu reuni mahasiswa yang dipimpin oleh Frank, ada seorang yang kurus datang tergesa-gesa dalam perjalanannya, dan begitu dilihat secara seksama, ternyata adalah Paul. Dari balik dadanya, Paul mengambil secarik kertas yang dilipat-lipat, dan memberitahu pada teman-temannya yang hadir di sana, “Hari ini saya datang untuk membayar utang, setiap sen uang pinjaman tercatat secara terperinci di atas kertas ini.…”

Pada saat itu, semua orang baru tahu ternyata Paul menghilang bukan karena menghindari tagihan utang, dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Setelah gagal mencari pekerjaan di mana-mana, dia naik sebuah kapal barang samudera dan bekerja sebagai pekerja kasar, dia telah berlayar di mana-mana mengikuti kapal barang tersebut. Terakhir, ia beralih ke Swiss, dan setelah mendarat, mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai guru SD, dan dengan honor yang kecil telah cukup mengumpulkan uangnya waktu itu.

Setelah mendengar cerita Paul, balai pertemuan menjadi hening, sampai Frank menghampiri dan dengan hangat memeluk Paul, semua orang terharu. Selanjutnya, dalam sebuah memoar, Frank menceritakan kisah tersebut. Frank merupakan sebutan akrab teman-teman sekampusnya, namanya yang sebenarnya adalah Franklin Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32. Dialah orang yang bangkit kembali setelah mengalami kegagalan, seorang yang mengatakan bahwa “Orang yang teguh dan ulet pasti berhasil” dan bahkan dirinya sendiri yang telah membuktikan kata-kata itu.


Sumber: Tabloid Era Baru, No. 04 Tahun Ke-2