19 Oktober 2008

Pengorbanan Pasti Ada Balasannya

Dani adalah seorang pemuda yang sangat ramah, ia juga ringan tangan dalam arti suka menolong orang lain yang sedang kesusahan, baik diminta maupun tidak. Tidak peduli masalah besar atau kecil, selama orang lain membutuhkan, ia pasti akan membantu sepenuh hati.


Suatu ketika, Dani pergi ke sebuah perusahaan untuk melamar pekerjaan, saat menunggu interview di kantor itu, kebetulan melihat seorang pekerja pada perusahaan tersebut sedang memindahkan setumpuk dokumen ke tempat lain, dikarenakan nalurinya yang merasa senang membantu orang, Dani segera berdiri membantunya membukakan pintu, pekerja itu merasa sangat berterima kasih dan tersenyum kepada Dani, menyatakan terima kasih.


Ternyata hasil dari interview menunjukkan Dani tidak diterima karena tinggi badannya tidak mencukupi. Sudah pasti dari wajahnya ia terlihat kecewa, ketika akan pergi meninggalkan kantor tersebut, pekerja tadi yang memindahkan dokumen memanggilnya, setelah menanyakan keadaan yang sebenarnya, menyuruhnya menunggu sebentar, kemudian ia berjalan menuju ke ruang direktur.


Tidak lama kemudian, pekerja itu keluar dari ruang direktur, dan dengan wajah berseri berkata kepada Dani: “Anda dipanggil direktur.” Dani merasa bingung, tidak tahu rencana apa yang tersembunyi di dalam benak orang ini. Direktur memberi salam pada Dani dengan sangat antusias dan berkata: “Selamat, setelah melalui pertimbangan kembali, kami memutuskan menerimamu!”


Belakangan, Dani baru tahu, pekerja itu adalah sekretaris direktur, waktu itu sedang menuju ke ruang arsip memindahkan dokumen, namun keluar-masuk beberapa kali, puluhan pelamar yang sedang menunggu di tempat itu, semuanya hanya memandangnya membuka dan menutup pintu dengan sukarnya, sampai-sampai tidak ada yang berinisiatif untuk bangkit berdiri membantunya. Hanya Dani yang datangnya paling akhir melihat keadaan yang demikian segera membantunya. Maka, begitu sekretaris melaporkan kepada direktur keadaan yang sebenarnya, direktur dengan cepat merasa sangat terkesan.


Sekarang ini merupakan sebuah zaman yang berdasarkan kemampuan dan persyaratan ketat untuk meraih sesuap nasi, namun ketekunan, budi pekerti yang baik untuk membantu orang lain dengan senang hati semuanya tidak boleh diabaikan sampai kapan pun. Di luar dugaan, dalam hal ini Dani telah melakukan sebuah pekerjaan yang baik, telah membuktikan pepatah: “Tidak boleh menganggap remeh hal yang sepele, pengorbanan pasti ada hikmahnya).” Sebuah hal, mungkin karena membantu tanpa disengaja, mungkin hanya karena jasa bantuan, namun siapa tahu dapat memberi Anda sebuah keberuntungan hidup.

Sumber: Mingxin.net

15 Oktober 2008

Sebuah Harga

Seorang penceramah terkenal dalam suatu pertemuan yang dihadiri 200 orang mengeluarkan selembar uang kertas senilai US$ 20. Lalu ia berkata dihadapan para hadirin, “Siapakah yang menginginkan uang US$ 20 ini?” Segera beberapa orang dengan cepat mengacungkan tangannya. Penceramah melihat-lihat, lalu tersenyum. “Aku akan memberikan uang ini pada satu orang di antara kalian. Namun sebelum ini, aku ingin berbuat demikian.” Sambil berkata lalu uang kertas itu diremasnya.

Kemudian bertanya lagi, “Siapa yang masih menginginkan uang kertas ini?” Tetap saja ada yang mengacungkan tangannya. “Bagus sekali,” penceramah ini kemudian berkata lagi, “Kalau begitu seandainya aku berbuat demikian.” Sambil berkata lalu melemparkan uang kertasnya di atas lantai, kemudian menginjaknya dengan sepatu, lantas dipungutnya kembali dan berkata, ”Sekarang uang ini menjadi kumal dan kotor. Apakah masih ada yang menginginkannya?” Tetap saja ada beberapa orang yang mengacungkan tangannya.

“Para hadirin, saya pikir kita telah mempelajari sebuah pelajaran yang sangat berharga. Biar apa pun telah kulakukan terhadap uang ini, namun kalian tetap saja masih menginginkan. Penyebabnya karena tidak merusak nilainya, ia tetap bernilai US$ 20,” kata penceramah tadi.

Di dalam kehidupan kita, banyak sekali masalah, terkadang kita jatuh, dirugikan, membuat patah semangat. Saat semua keadaan ini terjadi, selalu saja membuat kita merasa serba salah. Namun biar apa pun yang telah terjadi atau akan terjadi sesuatu, kita tidak akan kehilangan harga diri.

Kita masih tetap diri semula, semakin banyak tempaan, hanya bisa membuat kita semakin berkembang matang dan kuat. Seperti emas dilapisi debu dan meskipun melalui lebih banyak waktu ditiup angin diterpa hujan. Juga tidak akan merusak nilai semula. Asalkan kita yakin demikian, dan mematut diri dengan berbuat baik dan sabar. Dan ini harus dicamkan, jangan biarkan kekecewaan kemarin membuat impian esok menjadi suram!

Sumber: Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 17

05 Oktober 2008

Hati Mengandung Niat Baik

Apa yang paling berharga di dunia manusia. Kebaikan. Kebaikan adalah mutiara yang langka dalam sejarah, Orang yang baik hampir lebih istimewa daripada orang yang hebat. Orang yang hatinya mengandung maksud baik, selalu menyebarkan cahaya matahari serta hujan dan embun pagi, mengobati hati nurani semua orang dan luka pada badan. Berhubungan dengan orang yang baik, kearifan memperoleh pencerahan, hati nurani menjadi luhur, pikiran semakin bertambah lapang.


Ketika saya sekolah di SLTP, beruntung mengenal seorang guru yang baik. Dalam “kediktatoran menyeluruh” di masa itu, satu hal yang paling saya takuti di usia saya yang ke-14 adalah “mengisi formulir.” Menghadapi kolom “asal keluarga,” saya selalu gugup dan jantung berdebar, bukan main malunya, layaknya seperti pencuri yang menundukkan kepala, menulis dua kata “golongan kanan” dengan tulisan yang kecilnya bagaikan semut.


Suatu ketika, seorang siswa di kursi sebelah sengaja berteriak nyaring mengatakan: “Kolom yang ini, kenapa kamu menulisnya begitu kecil.” Guru menghampiri kami, mengambil formulir saya melihat sejenak, dan dengan tenang mengatakan: “Tulisan yang sangat rapi, jangan peduli padanya.” Saya duduk kembali, mengucek air mata terima kasih, dalam hati perlahan mengatakan: “Guru benar-benar baik.”


Sebenarnya, pada masa itu keburukan pertentangan kelas sosial sudah menjadi kebiasaan. Kebaikan di dunia manusia nyaris hilang, mengapa persahabatan, cinta terguncang-guncang dijebol oleh arus balik gelombang yang jahat. Pada masa remaja saya juga pernah membenci ayah sendiri tanpa sebab. Demi untuk dapat bersekolah ke tingkat yang lebih tinggi, di bawah godaan untuk “memperlihatkan kembali,” di luar dugaan saya menulis sepucuk surat yang menyingkap perkataan dan tindakan kontra-revolusi ayah, dan menyerahkannya pada guru kami. Seumur hidup saya tidak akan lupa pada hari itu, yang mana setelah belajar sendiri, guru sekolah mengundangku untuk berbincang-bincang di bawah pohon poplar.


Guru mengatakan, “Setiap orang mempunyai dua sanubari yakni singa yang baik dan singa jahat yang memperebutkan makanan. Jika singa jahat telah menelan sanubari, maka seumur hidup tidak akan tertolong lagi. Nak, kamu harus berpikir matang, di saat apa pun harus mengandung maksud baik, jangan melakukan hal yang akan membuat sesal sendiri seumur hidup.” Guruku mengembalikan surat itu sambil membelai kepalaku dan mengatakan: “Bahasa yang digunakan dalam surat ini merupakan bahasa yang telah dipersiapkan orang lain untukmu, bukan kata-katamu sendiri, kesalahanmu adalah karena ketidaktahuan, bukan munafik.”


Tiga puluh tahun hanya sekilas dalam selentingan jari, dan kini setiap saya melangkah ke samping ayah, sang profesor universitas, yang dituduh pengkhianat oleh pemerintah setempat, di mana ketika mendengarkan wejangan, merasakan cinta kasih ayah, saya lalu teringat akan guru saya yang baik itu, adalah sebuah hatinya yang mengarah pada kebaikan itu, telah menyelamatkan hati nurani saya, baik adalah mentari dalam dunia rohani.


Sumber: Tabloid Era Baru, Tahun Ke-1 No. 19

30 September 2008

Hukuman tanpa Kekerasan

Dr. Arun Gandhi adalah cucu tokoh kemerdekaan India Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K. Gandhi untuk tanpa Kekerasan. Suatu hari ia memberikan ceramah di Universitas Puerto Rico, Brasil dan bercerita bagaimana memberikan contoh menghukum anak tanpa melakukan kekerasan yang dapat diterapkan di sebuah keluarga. Berikut ceritanya:


Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan bisa pergi ke kota untuk mengunjungi teman-teman, berbelanja atau menonton bioskop.


Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota guna menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Ibu memberikan daftar belanjaan yang diperlukan begitu mengetahui saya akan ke kota. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa hal lama yang tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.


Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berpesan, "Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama." Segera saja saya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh ayah. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan permainan John Mayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.


Dengan gelisah ayah bertanya, "Kenapa kau terlambat?" Saya sangat malu untuk mengakui terlalu asyik menonton film John Mayne sehingga saya menjawab, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu." Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Pikirkan baik-baik."


Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah sepanjang 18 mil. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan yang bodoh yang saya lakukan. Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi.


Sering kali saya berpikir mengenai kejadian itu dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita dengan amarah atau pukulan, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai prinsip tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya mungkin justru akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa dari seorang ayah, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.


Diadaptasi dari buku "The Power of Nonviolence", karya Dr. Arun Gandhi

21 September 2008

Saya Merasa Bangga Padamu

Hendak mengingat nama seseorang yang kukenal pada 43 tahun silam tidaklah mudah. Saya benar-benar telah lupa nama seorang nyonya tua ketika saya bekerja sambilan mengantar koran saat saya berusia 12 tahun. Namun sebuah pelajaran yang berkaitan tentang kerendahan hati, yang diberikannya pada saya, bagaikan baru terjadi kemarin.


Pada suatu senja di hari Sabtu, saya bersama dengan seorang teman yang berada di sebuah sudut yang tersembunyi di halaman belakang rumah nyonya tua itu melempar batu ke atap rumahnya. Kami bermaksud ingin mengamati bagaimana batu itu meluncur dari atas atap, lalu bagaikan komet yang turun dari langit dan jatuh ke halaman belakang.


Saya mendapatkan sebuah batu yang licin, dan melemparnya ke atas atap. Tetapi karena batunya terlampau licin maka terlepas dari tangan saya, langsung meleset mengenai sebuah jendela yang berada di koridor belakang rumah nyonya tua. Dan seiring dengan suara hancurnya kaca yang bersuara nyaring, kami segera angkat kaki dan berlari kencang, kecepatan larinya bahkan lebih cepat dibanding batu yang meluncur dari atas atap.


Pada malam hari itu, saya takut sekali, takut akan ditangkap oleh nyonya tua itu. Namun beberapa hari kemudian, saat saya pastikan perbuatan saya tidak diketahui, saya mulai merasa sangat menyesal atas kemalangannya. Setiap hari ketika saya mengantarkan koran padanya, ia tetap seperti dulu tersenyum dan memberi salam pada saya, namun saya tidak bisa seperti dulu lagi mengekspresikan diri secara alami di hadapannya. Ada perasaan bersalah dalam hati.


Saya bertekad mengumpulkan uang dari hasil mengantarkan koran. Tiga minggu kemudian, saya telah mempunyai 7 dolar, saya hitung uang ini dapat mengganti kerusakan kaca yang saya pecahkan itu. Saya menyelipkan uang dan selembar memo ke dalam amplop, di atas memo itu dijelaskan saya merasa sangat menyesal atas kacanya yang saya pecahkan, semoga uang ini dapat mengganti kerugian untuk perbaikan kaca jendelanya.


Saya menanti hingga menjelang malam, dan secara diam-diam menuju ke pintu rumahnya, menyelipkan surat di antara celah-celah pintu. Saya merasa batin diri saya bisa tertolong, dan saya sepertinya mendapatkan kebebasan kembali, saya tidak perlu menghindari pandangan mata si nyonya tua itu lagi.


Pada hari ke-2, ketika saya mengantar koran padanya, bisa kembali tersenyum membalas senyumannya yang hangat dan lembut. Ia mengucapkan terima kasih pada saya atas koran yang diantar untuknya, serta mengatakan: “Saya mempunyai sesuatu untukmu”. Dan itu adalah sebungkus roti. Setelah saya berterima kasih padanya, sambil mengantar koran saya menikmati roti yang diberinya.


Setelah makan beberapa keping roti, saya mendapati di dalamnya ada selembar surat. Saya mengambil surat itu. Dan ketika saya membuka amplop surat itu, saya tertegun. Di dalamnya ternyata 7 dolar dan sehelai memo, di atasnya tertulis: “Saya merasa bangga padamu.”


Artikel: Jerry Harpt, www.xinsheng.net

14 September 2008

Ketat pada Diri Sendiri, Murah Hati pada Orang Lain

Fan Zhongxuan dikenal juga sebagai Fan Chunren. Ia adalah putra Fan Zhongyan, seorang politisi bermoral tinggi dan ahli sastra pada masa Dinasti Song Utara (960–1127 Setelah Masehi). Fan Zhongxuan sering mengajar putranya. “Orang bodoh pun sangat tajam saat menegur orang lain, sementara orang yang pandai menjadi tumpul saat ia memaafkan kesalahan sendiri. Bila seseorang dapat menegur diri sendiri sama seperti menegur orang lain dan memaafkan orang lain sama seperti memaafkan diri sendiri, suatu hari ia akan menjadi orang suci.”


Suatu ketika seseorang meminta nasehat Fan Zhongxuan tentang bagaimana seharusnya bersikap. Ia menjawab: “Sederhana adalah satu-satunya jalan untuk melatih rasa hormat dan kejujuran. Murah hati dan pemaaf satu-satunya jalan memperoleh kebaikan dan moral.”


Selama hidupnya, Fan Zhongxuan dikenal tekun mengembangkan moral pribadinya. Ia tidak memilih makanan. Setelah pulang kerja setiap hari, ia segera mengganti pakaian dengan tenunan kasar. Sesungguhnya ia suka menggunakan baju sederhana dari kecil. Kebiasan itu ternyata masih berlanjut sampai ia memperoleh jabatan tinggi dalam pemerintahan.


Banyak orang mengajar anak-anaknya agar ketat terhadap diri sendiri tetapi murah hati pada orang lain, suatu hal yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Orang kebanyakan biasanya kalau melihat kekurangan atau kelakuan orang lain yang kurang berkenan, ia akan merasa kesal dibuatnya. Ia ingin mengritik atau memberi pelajaran pada orang itu. Itulah sebabnya mengapa orang bodoh pun menjadi sangat tajam jika mencela orang lain, sementara orang pandai menjadi tumpul bila berbicara tentang kekurangan dirinya sendiri.


Itu sebabnya Fan Zhongxuan menasehati putranya agar senantiasa menegur diri sendiri seperti menegur orang lain dan memaafkan orang lain seperti memaafkan diri sendiri, agar menjadi orang yang bermoral tinggi. Bila melihat kekurangan orang lain, harus ingatkan diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika dapat senantiasa berbuat demikian, kita dengan cepat dapat meningkatkan moral diri. Adalah senantiasa lebih mudah memaafkan diri sendiri daripada orang lain. Jika dapat memaafkan orang lain seperti memaafkan diri sendiri, kita tidak perlu khawatir tidak dapat menjadi orang bijaksana.


Seringkali kita mencoba menghiasi atau menyembunyikan masalah diri kita dengan argumentasi filosofis. Juga sering kita merasa puas diri jika melihat kelemahan orang lain. Sehingga hampir tidak mungkin membuat kemajuan dalam penempaan moral. Langkah terpenting menempuh perjalanan menempa diri adalah mencoba dengan sungguh-sungguh untuk menemukan kekurangan diri sendiri. Sangatlah mudah belajar filsafat dan menggunakannya sebagai kaca mata untuk menilai dan mengritik orang lain, tetapi sangatlah sulit menggunakan kaca yang sama untuk menilai dan mengadili diri sendiri.


Jika kita mengalami konflik atau gangguan, kita pertama-tama harus senantiasa memperbaiki diri sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain. Bila kita selalu dapat mencari ke dalam dan murah hati serta pemaaf, moral kita akan meningkat dan menjadi teladan bagi orang lain.


Sumber:http://www.minghui.org/mh/articles/2005/8/16/108264.html

07 September 2008

Dipukul Tidak Membalas, Dicaci Juga Tidak Membalas

Ini adalah sepenggal pengalaman seorang murid Minghui School di Bali, dibacakan pada Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun Dafa di Bali, pada tanggal 10 Agustus 2008.

Nama saya Luh Gede Sri Bakti Asih, usia 13 tahun, kelas III SMP. Saya mendapatkan Fa lima tahun yang lalu bersama orang tua saya.

Beberapa teman sekolah, suka mengejek dan menjaili saya. Selain saya, teman-teman yang lain juga sering mereka kerjain. Saya juga sempat dipalak atau dimintai uang oleh mereka, tapi saya tidak bersedia memenuhi permintaan mereka, kemudian mereka merebut aksesoris saya lalu menghancurkannya. Saya kurang tahu mengapa mereka berbuat begitu kepada saya, mungkin mereka iri terhadap prestasi saya.

Suatu hari saya memakai jaket ke sekolah. Begitu pelajaran dimulai, saya menyimpannya di kolong bangku sekolah. Pada saat bel istirahat berbunyi, saya bersama teman lainnya meninggalkan kelas pergi ke kantin. Namun beberapa teman yang suka usil ini masih ada di dalam kelas. Selain mereka, ada seorang teman lain tidak meninggalkan kelas.

Sekembali dari kantin, saya telah menemukan jaket dan seluruh isi kotak pensil saya hilang. Menurut seorang teman yang tidak meninggalkan kelas, sekelompok teman yang suka usil kepada saya telah membuang isi kotak pensil saya ke semak-semak melalui jendela dan menyembunyikan jaket saya.

Karena saking seringnya saya diperlakukan seperti itu, kesabaran saya saat itu benar-benar habis, saya menangis. Karena tidak bisa membendung rasa marah, saya membentak-bentak mereka, mereka tetap tidak mau mengaku. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, mereka akhirnya mengaku dan meminta maaf kepada saya serta mengembalikan jaket yang mereka sembunyikan.

Sampai di rumah, saya menceritakan semua kejadian tersebut kepada ibu. Ibu menegur saya agar lain kali tidak seperti itu lagi. Seharusnya saya berterima kasih kepada mereka, bahkan harus tersenyum saat diperlakukan tidak adil. Setelah kejadian itu, saya mulai bisa memahami dan mengubah sikap saya.

Setelah satu minggu berlalu mereka membuat ulah lagi. Saya diejek oleh mereka dan salah satu dari mereka memukul saya. Lalu saya ingat kata-kata Guru di dalam buku Zhuan Falun bahwa “Dipukul tidak membalas, dicaci juga tidak membalas.” Setelah saya mengingat kata-kata Guru, saya pun mengucapkan terima kasih di dalam hati dan tersenyum kepada mereka. Lalu tanpa disadari mereka meminta maaf kepada saya. Saya tidak menyalahkan mereka, bahkan saya sempat mencari ke dalam, mengapa mereka berlaku seperti itu? Mungkin di kehidupan yang lalu saya pernah memperlakukan mereka seperti itu. Sampai saat ini mereka tidak pernah lagi memperlakukan saya tidak baik. Bahkan mereka yang dulunya sering iri dengan prestasi saya, sekarang malah mendukung saya untuk terus menjadi juara di sekolah.

Sumber: http://minghui-school.net/content/view/185/39/